April 26, 2013

Kesalehan Versus Kecelakaan

Filed under: Lain-lain — rani @ 8:48 am

Kalau kesalehan itu diartikan sebagai berbuat atau melakukan perintahNya dan menjauhi laranganNya, sementara kecelakaan adalah sesuatu peristiwa yang terjadi tanpa diduga yang mengakibatkan kerugian terhadap orang yang mengalaminya. Maka judul tulisan kali ini sengaja mempertentangkan (versus/vs) kedua kata tersebut, karena berbagai alasan yang sangat mengganggu penulis dengan adanya peristiwa yang terjadi baru-baru ini.

Pertama peristiwa seorang mahasiswa UI yang tertabrak kereta di perlintasan KRL di stasiun Pondok Cina (Jumat 19/04). Berbagai media massa telah memberitakannya. Seorang teman malahan mengirim sms, katanya mahasiswa ini akan melaksanakan ibadah umroh bersama orang tuanya. Bahkan orang tuanya sudah melarang anaknya untuk bepergian (kuliah). Tetapi tetap memaksa karena ada janji dengan temannya akan bertemu di kampus. Ketika sampai di perlintasan kereta, ada dua kereta lewat yang arahnya berlawanan. Saat KRL arah Jakarta tinggal buntutnya saja, mahasiswa ini “nyelonong” melewati perlintasan. Dia tidak menduga dari arah Jakarta ada KRL yang akan masuk ke stasiun Pondok Cina.

Kedua peristiwa kecelakaan yang menimpa Ustafz Jefri Al Buchori (UJE), jum’at dinihari (26/04) di bilangan Pondok Indah. Menurut berbagai berita yang dimuat di media social, UJE tidak bisa mengendalikan diri sewaktu mengendarai sepeda motor (Suzuki 650 cc?) Kita mengenalnya sebagai seorang da’i yang menyampaikan pesan-pesannya dengan bahasa ‘gaul’, sehingga sangat akrab dan dikenal di kalangan generasi muda.

Kedua almarhum jika menilik informasi yang didapat, boleh dikatakan seorang yang saleh, masyarakat pun melihat perilaku menunjukkan menaati perintahNya. Tapi kecelakaan yang menimpa pada keduanya ada satu kemiripan, yaitu masalah pengendalian diri. Kalau saja mahasiswa UI itu dapat menahan diri, untuk menunggu sampai palang pintu dibuka, barangkali persoalannya akan lain. Sementara UJE menurut berita konon katanya dia tidak bisa mengendalikan motornya (diduga berkecepatan tinggi) sehingga sampai menabrak pohon. Kalau saja UJE mengendarai motor melaju dengan kecepatan yang normal-normal saja, ketika ada sesuatu yang menyebabkan dia harus berhenti mendadak, barangkali peristiwa akan lain jadinya.

Rupanya orang saleh dapat melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Tetapi untuk sampai bisa mengendalikan diri dalam setiap peristiwa, tidak semua orang bisa. Karena hal ini sudah menyangkut kepada masalah emosi/nafsu seseorang, yang menjadi “lahan empuk” syetan untuk “memprovokasi” manusia, melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Hal inilah yang menjadi musuh laten manusia. Jangankan kita manusia, Nabi Adam nenek moyang manusia saja bisa terbujuk syetan. Karena itu WASPADALAH.(260413)