April 8, 2013

Kampret !

Filed under: Lain-lain — rani @ 5:25 pm

Kata ini mempunyai arti ganda tergantung intonasi yang membacakannya. Bisa berarti umpatan, seperti sialan! Atau bisa pula menunjuk kepada satu jenis binatang yang biasa berkeliaran pada malam hari atau biasa yang kita kenal binatang kelelawar. Kali ini yang akan dibicarakan bukan kampret sembarang kampret. Kampret yang bisa “menguasai” gedung tertinggi di Kampus UI Depok.

Kalau kita melihat gedung Pusat Administrasi Universitas (d/h gedung Rektorat), tampak kelihatan indah sekali apalagi kalau kita memotretnya dari sisi mesjid UI sehingga terlihat latar depannya warna air danau Kenanga yang hijau. Menyejukkan bagi yang memandangnya. Atapnya yang berbentuk kerucut meruncing ke atas, bagaikan moncong roket yang siap meluncur ke angkasa. Mungkin itu suatu simbol yang sudah direncanakan oleh si perancang bangunan, bahwa UI siap terbang “go global”, menjadi universitas riset kelas dunia. Dan memang hal ini terbukti, dengan prestasi-prestasi yang telah diraihnya dalam berbagai bidang baik di tingkat nasional maupun internasional. Suatu prestasi karena kerja keras semua lapisan warga UI. Suatu hal yang tidak pernah tercapai ketika rektorat masih berada di kampus Salemba.

Suatu saat, genteng yang ada di atap yang runcing itu pecah, sehingga perlu diganti. Timbul masalah, karena cukup curam tidak sembarangan orang bisa memperbaikinya. Tukang bangunan pun tidak ada yang berani. Untuk memperbaiki genteng yang pecah itu akhirnya minta bantuan kepada mahasiswa Mapala UI. Untungnya ada yang mau. Tapi meminta bayaran cukup tinggi dan dihitung berdasarkan berapa genteng pecah yang harus diganti.

Salah satu ruangan di bawah atap runcing itu adalah Ruang Senat, atau kalau di lift diberi tanda RS, bukan nomor seperti lantai lainnya. Sebagian pegawai UI, biasa memlesetkan RS dengan rumah sakit, aslinya ruangan ini berada di lantai 9 gedung rektorat. Biasa dipakai untuk acara rapat. Sesuai dengan namanya ruangan yang berkapasitas seratusan orang ini, biasanya dipakai kalau Senat UI atau Guru Besar mengadakan rapat-rapat penting. Begitu juga ruangan ini kerap dipakai kalau MWA UI mengadakan rapat. Tetapi belakangan ruang ini dipakai juga untuk rapat biasa atau menerima tamu-tamu dari luar, kalau ruangan rapat lainnya di gedung rektorat padat dipakai. Bahkan dahulu kala (tahun 2002 dan 2007), ruangan ini menjadi tempat para calon rektor mempresentasikan buah pikirannya dihadapan anggota senat dan atau Guru Besar UI. Kemudian direkam dan dipancarkan ke lantai 1 (ruang Balai Kirti) , dimana para warga UI dapat melihat secara langsung presentasi para calon rektor.

Entah kebetulan ataukah memang ada kaitannya, ketika UI dipegang oleh Pjs. Rektor, ruangan ini tidak pernah lagi dipakai untuk acara rapat. Karena di dalam ruangan tercium bau tidak sedap. Kerapkali bau ini sampai juga keluar ruangan lain di gedung Rektorat. Padahal lantai paling atas ini tertutup rapat. Selidik punya selidik, ternyata bau tak sedap ini berasal dari kotaran binatang kampret yang bercokol di atap gedung. Lama kelamaan kotoran semakin bertambah banyak. Tak bisa dikeluarkan dari atap karena posisi atap yang sangat tinggi. Rupanya perencana gedung tidak sampai berpikir kalau suatu saat atap ini akan menjadi hunian kampret. Begitu juga pihak pengelola gedung belum terlihat tanda-tanda untuk menanggulangi bau tahi kelelawar.

Maka ketika tercium bau tahi kelelawar, para pegawai di lingkungan rektorat hanya bisa mengumpat, ”Kampret! Dasar kelelawar tidak tahu diri.”(080513)

Cerita Gatotkaca Arahan Kasino

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:37 am

Ini cerita lain tentang Gatotkaca, suatu pengalaman yang terjadi pada waktu mengikuti OSPEK (Orientasi Studi Pengenalan Kampus) ketika menjadi mahasiswa baru Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial UI 33 tahun lalu. Masa menjadi mahasiswa baru, masa yang paling indah dan romantik, walaupun penuh dengan penderitaan ( memodifikasi salah satu syair lagu Koes Plus). Walaupun namanya secara berkala berubah-ubah, tetapi yang namanya perpeloncoan atau penggonjlokan dari mahasiswa senior terhadap mahasiswa junior, tetap saja berjalan baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Tetapi disitulah letak romantikanya. Selama kurang lebih dua minggu “sehidup semati” atau istilah waktu itu dinamakan “wan-wan sib” (kawan-kawan senasib) kita menjadi akrab dengan sesama teman seangkatan dan para mahasiswa senior. Bahkan dikemudian hari ada mahaiswa junior yang mendapatkan jodoh dengan mahasiswi senior.

Waktu itu menjadi mahasiswa FIS UI sangat beruntung, karena disela-sela penggojlokan yang dilakukan mahasiswa senior, para mahasiswa baru “dihibur” oleh ulah dua orang alumni yang tergabung dalam grup lawak Warkop DKI. Biasanya menjelang malam hari ketika acara Ospek mau berkahir Warkop DKI hadir menghibur para mahasiswa baru dengan banyolan-banyolannya. Terkadang melibatkan mahasiswa baru untuk turut serta dalam acara banyolan tersebut. Atau dihibur dengan acara dangdutan oleh grup dangdut PSP (Pancaran Sinar Petromak) dimana para personilnya alumni dan para mahasiswa senior FIS UI.

Di lain kesempatan, panitia membuat acara selamatan ulang tahun. Kepada para mahasiswa baru yang berulang tahun diminta ke depan dan diberi kueh agar-agar, dengan catatan. Kue agar harus dimakan dan ditelan tidak boleh dimuntahkan. Tanpa rasa curiga, teman-teman yang berulang tahun memakan agar tersebut.Tetapi kemudian ekspresi wajahnya berubah kecut. Selidik punya selidik, ternyata kue agar itu tak ada rasa manis, karena sudah dicampur dengan bubuk akar tumbuhan brotowali, yang paitnya minta ampun.

Satu kali Kasino membuat acara permainan drama, pemainnya para mahasiswa baru. Mengambil episode tentang Gatotkaca yang ingin mempunyai istri. Para mahasiswa hanya bertugas memerankan tokoh-tokoh tertentu seperti wayang dan mengucapkan apa yang dikatakan Kasino. Singkat cerita, maka Gatotkaca pun mengajukan keinginannya kepada Bima. Terjadilah dialog antara anak dan Bapak. Akhirnya Bima bertanya kepada Gatotkaca, “Apakah kamu sudah kepengen, Gatottt?” Mendengar dialog yang menimbulkan asosiatif berbau nakal ini, membuat para mahasiswa baru tertawa terpingkal-pingkal. Sementara pemeran Bima dan Gatotkaca, malu tersipu-sipu. Itulah yang diingat dan masih terkenang dalam ingatan kepada almarhum Kasino, alumni FIS UI. (080413)