April 7, 2013

Gatotkaca Lair, Sebuah Interpretasi

Filed under: Uncategorized — rani @ 6:37 pm

Boleh setuju boleh tidak. Namanya juga interpretasi. Pengalaman dan pengamatan tiap orang terhadap fenomena yang terjadi dan fakta yang ada bisa menghasilkan interpretasi yang berbeda. Tetapi yang pasti, setiap kali terjadi peristiwa selalu diiringi dengan peristiwa lainnya. Rentetan peristiwa ini dinamakan peristiwa komunikasi, karena mengandung unsur interaksi. yaitu adanya transaksi simbol diantara orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Menghubungkan dan memaknai simbol-simbol yang terjadi dalam peristiwa itulah yang dinamakan interpretasi.

Pada hari Jum’at (05/04) di Kampus UI Depok pada siang hari diselenggarakan kegiatan pergelaran wayang ruwatan dengan lakon “Murwakala”. Sementara pada malam harinya mulai pukul 21.00 dilaksanakan pergelaran wayang kulit purwa, menampilkan lakon “Gatotkaca lair” dalangnya yaitu Ki Purbo Asmoro, S.Kar.,M.Hum. Kegiatan pergelaran ini bagian dari acara “Wayang Goes to Campus” yang mempunyai tema ‘Bersihkan hati Untuk Kejayaan UI’.

Lakon Gatotkaca Lair, menceritakan tentang kelahiran Gatotkaca putra Bima salah satu Satria Pandawa Lima. Pada saat masih bayi, diminta dewa untuk bertarung dengan seorang raksasa yang mengamuk di Kahyangan. Ketika lahir, tali ari bayi tak bisa putus dan hanya bisa dipotong dengan senjata konta pemberian para Dewa. Itupun hanya berupa sarangka/sarungnya saja, karena isinya dikuasai Adipati Karna. Ajaibnya senjata untuk memutus tali ari masuk ke dalam tubuh Gatotkaca. Singkat cerita Bayi Gatotkaca dibawa ke Kahyangan untuk melawan raksasa. Hanya dengan sekali banting, bayi Gatotkaca sudah tidak bernyawa. Atas kesaktian para Dewa, mayat bayi tersebut dimasukkan ke kawah Candradimuka, setelah air kawah diberi campuran berbagai macam senjata para Dewa. Setelah keluar dari Kawah Candradimuka, bayi berubah bentuk menjadi seorang satria dewasa yang gagah perkasa dinamakan Gatotkaca. Dengan mudahnya Gatotkaca dapat menaklukan raksasa yang mengamuk di Kahyangan.

Bukan satu kebetulan kalau pergelaran wayang kulit di kampus UI ini mengambil lakon Gatotkaca lair. Ada kesamaan kawah candradimuka dengan kampus UI, yang menjadi tempat “menggodok” generasi muda calon pemimpin bangsa. Dan bukan satu kebetulan pula kalau sebelum pergelaran wayang purwa dilakukan terlebih dahulu pergelaran wayang ruwatan, yang berisikan suatu upacara untuk menolak bala. Kaitannya dengan UI, untuk membersihkan kampus dan hati para warganya dalam menyongsong pemilihan rektor UI yang baru. Dan bukan suatu kebetulan pula acara pergelaran wayang ini didukung secara moril dan materil oleh pihak Ditjen Dikti Kemendikbud, dimana Direkturnya merangkap menjabat sebagai Rektor UI. Atas prakarsa Rektor UI pula dapat “menggaet” tim kesenian dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, untuk melakukan pergelaran wayang Kulit di kampus UI. Bahkan Rektor ISI sendiri menjadi salah seorang pembicara dalam sarasehan wayang dan ketahanan budaya.

Dengan pergelaran ruwatan dan wayang purwa ini, diharapkan dalam proses pemilihan Rektor UI berjalan lancar. Interpretasi penulis, Pjs. Rektor UI saat ini kerepotan juga menangani UI. Karena tadinya berpikir hanya memegang jabatan rektor (sementara) sampai Bulan Oktober tahun lalu. Rupanya untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, proses pemilihan rektor UI berjalan molor hingga waktu yang tidak bisa ditentukan. Bahkan sudah ada pendapat dari kalangan akar rumput, mempertanyakan kapan UI akan dipimpin orang UI sendiri. Tapi dengan sarasehan kemarin yang bertemakan ketahanan budaya dan ruwatan yang telah dilakukan, mudah-mudahan semua warga UI bisa bertahan dan bersabar menunggu proses pemilihan rektor UI.(070413)