April 5, 2013

Satu Tantangan Mengemas Tontonan yang Berisi Tuntunan

Filed under: Kampusiana — rani @ 6:02 pm

Satu pekerjaan besar tengah digelar di Kampus UI Depok pada 4 – 5 April 2013. Ada Kegiatan Wayang Goes to Campus “Pergelaran Wayang dan Ruwatan: Bersihkan Hati untuk Kejayaan UI. Acara yang digelar Komunitas Wayang UI Bekerja sama dengan ILUNI UI ini, bertujuan selain memasyarakatkan wayang kepada generasi muda juga menjadi ajang silaturahmi antar para alumni UI. Sehari sebelum ruwatan dan pergelaran wayang dilaksanakan, berlangsung sarasehan wayang dan ketahanan Budaya, dimana para pembicaranya tidak saja dari lingkungan yang berkaitan dengan dunia akademik dan kesenian, pemerintah DKI Jakarta tetapi juga Lemhanas dan Kementerian Pertahanan, juga Industri Film.

Ketua Lemhanas dalam makalahnya memasukkan konsep wayang dalam perspektif Geopolitik dan Ketahanan Budaya. Wayang menjadi representasi Nilai dan Jati Diri Bangsa. Sementara pembicara dari Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia Senawangi tengah menyusun dan membuat buku tentang filsafat wayang. Bahkan filsafat wayang ini telah menjadi bidang studi yang diajarkan pada mahasiswa S1, S2 dan S3 Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada.

Sejak tahun 2003 UNESCO telah memproklamirkan wayang sebagi karya agung seni budaya dunia, a Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity. Namun menurut Dekan FIB UI Bambang Wibawarta tak ada tanda-tanda upaya yang signifikan dari pemerintah bagaimana memelihara dan melestarikan nilai-nilai falsafah yang terkandung dalam cerita wayang, Kecenderungannya sekarang direduksi menjadi kesenian seperti yang diajarkan di sekolah dasar dan menengah dan kerapkali dipertunjukkan di luar negeri dalam sebuah rombongan kesenian. Padahal, sejatinya dalam cerita wayang diajarkan tentang etika, moral dan memelihara lingkungan. Kalau menurut Dirjen Dikti Kemendikbud, ada nilai positif yang terkandung dalam cerita wayang. Begawan Dorna yang selalu diasosiasikan tokoh yang berperilaku negatif, tetapi dialah tokoh wayang satu-satunya yang mengakui dan menghargai keunggulan murid-muridnya dalam hal memanah. Bukankah nilai ini bisa diterapkan di dunia pendidikan, dimana guru dalam memberikan ilmu harus dapat mencetak murid yang kepintarannya melebihi dari gurunya?

Kalau memang diyakini wayang mempunyai aspek positif bagi pembangunan bangsa, bagaimana cara menanamkan nilai-nilai yang ada pada cerita wayang kepada penontonnya?