April 3, 2013

Strategi Kebudayaan Memasyarakatkan Wayang

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:10 pm

Selasa siang kemarin (02/04) UI menyelenggarakan konferensi pers, sehubungan akan dilakukan sarasehan ketahanan budaya, pergelaran wayang (potehi, betawi, tavip, kulit), pergelaran tari pameran dan bazaar, dengan tema “Wayang Goes to Campus” , berlangsung Kamis dan Jumat (04-05/04) di Balairung Kampus UI Depok. Dalam kesempatan itu hadir pelaksana harian Rektor UI Prof. M. Anis, Ketua Komunitas Wayang UI Sarlito Wirawan Sarwono, Ketua Panitia Dwi Woro Retno Mastuti, Wakil Ketua Panitia Darmoko dan Pengarah Margaretha K.

Para pembicara pada sarasehan antara lain Gubernur Lemhanas, Dirjen Dikti Kemendikbud, Rektor ISI Solo, Ketua Senawangi, Sekjen Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Dekan Fakultas Ekonomi. Tujuan kegiatan ini antara lain meningkatkan peran serta fungsi wayang dalam rangka mendukung ketahanan budaya, meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap seni pertunjukkan wayang sebagai warisan budaya dunia serta menjalin keakraban warga UI dengan ILUNI UI. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

Ketika masyarakat dininabobokan oleh media dengan kesenian pop dengan grup musik dari luar dan seni Gangnam style, tiba-tiba saja “menyeruak” pergelaran wayang dan sarasehan tentang wayang dari lingkungan akademik, dalam rangka mendidik dan menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam seni wayang kepada masyarakat yang dahulu kala telah menjadi budaya masyarakat Indonesia, bahkan telah diakui UNESCO (salah satu badan PBB) sebagai warisan budaya dunia. Namun hal ini tidaklah mudah, seperti diakui panitia penyelenggara. Komunitas Wayang UI yang telah berdiri 13 tahun lalu, baru empat kali dapat menyelenggarakan pergelaran wayang di kampus. Keterbatasan dana menjadi kendala utama. Berbeda dengan pertunjukkan budaya pop semacam OVJ, dimana sponsor berbondong-bondong antri. Pergelaran wayang ini sepi sponsor. Bahkan sponsor rokok pun enggan untuk “meliriknya”.

Seorang reporter muda dari satu media bertanya pada Sarlito Wirawan Sarwono, faktor apa yang menyebabkan generasi muda tidak suka terhadap seni wayang. Apa tidak ada inovasi supaya generasi muda menyukai. Diakui Sarlito seni wayang banyak pakem-pakemnya yang tidak bisa dimengerti orang kebanyakan. Masih ada orang tua jaman dulu yang sangat memegang teguh pakem dan “mengharamkan” adanya inovatif. UI mencoba “menengahi” tarik menarik antara yang memegang teguh terhadap pakem yang ada pada pertunjukkan wayang kulit dan yang ingin melakukan inovasi. Karena itu dalam pergelaran nanti, tidak saja mempertontonkan wayang kulit semalam suntuk, tetapi juga ada seni pertunjukkan wayang yang lebih singkat serta pertunjukkan kesenian yang dimainan para mahasiswa FIB UI dengan mengambil seting cerita dalam kehidupan pewayangan.

Bagaimana hasil dari sarasehan dan pertunjukan seni dan pergelaran wayang kulit? Mari kita lihat bersama, apakah banyak dikunjungi penonton, dari kalangan mana saja penontonnya, generasi muda, generasi tua ataukah kalangan intelektual.(030413)