April 2, 2013

Sulitnya Mengurus Aset-aset UI

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:05 pm

Beberapa hari lalu bertemu dengan seorang pegawai UI yang bertugas dan menjaga tanah milik UI yang sekarang dipakai Puskesmas Serpong Tangerang. Dia menanyakan kapan mau berkunjung ke Serpong. Memang suatu kali pernah bicara dengannya , ada rencana ke Serpong sambil mewawancarai Prof. Does Sampurno (Guru Besar FKM UI), yang mengetahui banyak tentang asset UI di Serpong. Terakhir mendapat informasi, lahan UI di Serpong seluas 5000 meter persegi, semakin berkurang karena terpakai untuk pelebaran jalan raya. Tapi menurut salah satu sumber, asset UI di Serpong ini sudah ada kejelasan secara hukum.

Ketika sedang membereskan dokumen audio visual, tak sengaja melihat DVD yang berisikan wawancara dengan Pak Slamet Iman Santoso, tertanggal 30 Desember 1997. Wawancara dilakukan di Rumah beliau jalan Cimandiri Cikini Jakarta Pusat. Ada Kepala Biro Umum, Kepala Bagian Umum UI yang berurusan dengan aset-aset UI. Pimpinan UI yang akan habis masa jabatannya Januari 1998, tengah mendata aset UI, salah satu diantaranya aset dalam bentuk tanah dan bangunan di kampus Salemba dan Pegangsaan Timur.

Berdasarkan cerita Pak Slamet, waktu pengakuan Kedaulatan dari pemerintah Hindai Belanda terhadap NKRI Desember 1949, maka segala aset yang dimiliki pemerintah Hindia Belanda, diantaranya gedung dan lahan Universiteit van Indonesie, otomatis berpindah tangan pula kepemilikannya. Sebetulnya pada bulan Desember itu pula Pak Slamet mengusulkan membentuk tim untuk mendata aset-aset UI, tapi tidak disetujui. Baru pada tanggal 6 Januari 1950 Pak Slamet dipanggil Presiden (Rektor) UI untuk menangani aset-aset UI. Waktu pemindahan aset itu di dalam kampus UI ada bengkel yang dimiliki orang Belanda (van Neiss). Bagaimana orang Belanda itu bisa sampai ada disitu, tidak ada yang tahu. Belakangan hal ini menjadi masalah, karena ternyata hingga tahun 1980 an pada lahan bengkel itu didirikan universitas swasta dan kemudian tahun 1990 an berdiri bangunan bertingkat yang dipakai universitas tersebut. Waktu pembangunan gedung tersebut sempat ‘ramai’ juga, sampai dijaga aparat TNI.

Ada kasus lain yang ‘agak’ merepotkan pihak UI juga. Yaitu Asrama Pegangsaan Timur (PGT) yang kini di lahan tersebut berdiri bangunan hotel berbintang empat. “Gangguan” datang dari pihak Universitas Bung Karno (UBK) yang persis bersebelahan dengan lahan bekas asrama PGT tersebut. Dulunya lahan yang dipakai UBK itu bekas kantor Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga Depdikbud. Pada jaman Presiden Megawati menjadi kampus Universitas Bung Karno. Selain di Jalan Pegangsaan UBK juga punya kampus di Jalan Kimia. Bulan Februari lalu Ketua Senat Fakultas Hukum UBK memprotes terhadap pembangunan hotel, karena sangat mengganggu perkuliahan di UBK. Mereka meminta ganti rugi/kompensasi kepada pihak pengembang. Padahal pembangunan hotel sudah mencapai 80 %. Tidak hanya itu, konon kabarnya pihak UBK juga sudah melayangkan sepucuk surat resmi, meminta sebagian lahan PGT untuk akses jalan dari Kampus UBK di Jalan Pegangsaan menuju kampus UBK di Jalan Kimia. walah ada-ada saja, maksa hayang lahan tanah bakal jalan.(020413)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment