April 2, 2013

UI Mewisuda Mahasiswa?

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:29 pm

Judul di atas mengambil sepenggal dari kepala berita utama yang termuat di UI Update edisi 1/Thn V/2013. Mungkin ini baru pertama kalinya di seluruh perguruan tinggi di Indonesia ada mahasiswa yang diwisuda. (Judul asli berita ‘UI mewisuda empatribu mahasiswa’).Oh…ternyata itu salah, kata orang yang mengerti hukum, mahasiswa yang telah lulus ujian dan memenuhi syarat yang telah ditentukan berhak untuk diwisuda atau dinyatakan sebagai lulusan. Jadi tidak mungkin seorang mahasiswa dapat diwisuda sebelum melalui suatu proses yang telah disebutkan tadi. Berarti judul berita itu keliru dan menyesatkan.

Bicara soal keliru atau kekeliruan, banyak hal yang terjadi di UI keliru atau dikelirukan dan dibiarkan keliru terus menerus, kemudian dianggapnya sebagai sesuatu hal yang biasa dan menjadi suatu kebenaran, sehingga tidak perlu dipermasalahkan. Padahal suatu kata atau beberapa kata menjadi suatu kalimat yang mempunyai suatu makna bisa ditafsirkan beragam tanpa adanya satu pedoman/arahan. Kekeliruan bisa terjadi karena yang melontarkan kata kata tersebut tidak memahami dengan benar atau sama sekali tidak tahu tentang pengertian suatu kata.

Suatu ketika UI meraih prestasi yang membanggakan di bidang akademik di tingkat nasional dan internasional. Ini suatu pencapaian luar biasa yang belum pernah dicapai UI sebelumnya. Karena itu perlu diwartakan kepada khalayak umum dan dibuatkan ucapan terima kasih kepada seluruh jajaran UI yang telah membuat kesuksesan itu. Maka dibuatlah poster dan spanduk besar-besaran sebagai ucapan terima kasih kepada berbagai pihak. Tapi sebelum disebar dan dipasang penulis sempat membaca dan menemukan kekeliruan tersebut kepada si pembuat spanduk. Rupanya dia tidak percaya dan meminta bukti dimana letak kekeliruannya. Kemudian penulis memperlihatkan buku AD/ART UI. Disitu tercantum apa yang dimaksud dengan sivitas akademika UI dan apa yang dimaksud dengan warga UI. Akhirnya spanduk dan poster dicetak ulang.

Tapi kita tampaknya tidak mau belajar dari kesalahan masa lalu dan tetap membuat kekeliruan sejenis dan hal itu dibiarkan saja. Kalau pada hari-hari ini kita lihat ada salah satu spanduk besar yang terpasang diseberang stasiun UI akan terlihat satu kekeliruan yang fatal. Apakah betul keberhasilan dan apa yang telah dicapai UI saat ini hanya karena kerja keras staf pengajar dan mahasiswa saja? (020413)

Sulitnya Mengurus Aset-aset UI

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:05 pm

Beberapa hari lalu bertemu dengan seorang pegawai UI yang bertugas dan menjaga tanah milik UI yang sekarang dipakai Puskesmas Serpong Tangerang. Dia menanyakan kapan mau berkunjung ke Serpong. Memang suatu kali pernah bicara dengannya , ada rencana ke Serpong sambil mewawancarai Prof. Does Sampurno (Guru Besar FKM UI), yang mengetahui banyak tentang asset UI di Serpong. Terakhir mendapat informasi, lahan UI di Serpong seluas 5000 meter persegi, semakin berkurang karena terpakai untuk pelebaran jalan raya. Tapi menurut salah satu sumber, asset UI di Serpong ini sudah ada kejelasan secara hukum.

Ketika sedang membereskan dokumen audio visual, tak sengaja melihat DVD yang berisikan wawancara dengan Pak Slamet Iman Santoso, tertanggal 30 Desember 1997. Wawancara dilakukan di Rumah beliau jalan Cimandiri Cikini Jakarta Pusat. Ada Kepala Biro Umum, Kepala Bagian Umum UI yang berurusan dengan aset-aset UI. Pimpinan UI yang akan habis masa jabatannya Januari 1998, tengah mendata aset UI, salah satu diantaranya aset dalam bentuk tanah dan bangunan di kampus Salemba dan Pegangsaan Timur.

Berdasarkan cerita Pak Slamet, waktu pengakuan Kedaulatan dari pemerintah Hindai Belanda terhadap NKRI Desember 1949, maka segala aset yang dimiliki pemerintah Hindia Belanda, diantaranya gedung dan lahan Universiteit van Indonesie, otomatis berpindah tangan pula kepemilikannya. Sebetulnya pada bulan Desember itu pula Pak Slamet mengusulkan membentuk tim untuk mendata aset-aset UI, tapi tidak disetujui. Baru pada tanggal 6 Januari 1950 Pak Slamet dipanggil Presiden (Rektor) UI untuk menangani aset-aset UI. Waktu pemindahan aset itu di dalam kampus UI ada bengkel yang dimiliki orang Belanda (van Neiss). Bagaimana orang Belanda itu bisa sampai ada disitu, tidak ada yang tahu. Belakangan hal ini menjadi masalah, karena ternyata hingga tahun 1980 an pada lahan bengkel itu didirikan universitas swasta dan kemudian tahun 1990 an berdiri bangunan bertingkat yang dipakai universitas tersebut. Waktu pembangunan gedung tersebut sempat ‘ramai’ juga, sampai dijaga aparat TNI.

Ada kasus lain yang ‘agak’ merepotkan pihak UI juga. Yaitu Asrama Pegangsaan Timur (PGT) yang kini di lahan tersebut berdiri bangunan hotel berbintang empat. “Gangguan” datang dari pihak Universitas Bung Karno (UBK) yang persis bersebelahan dengan lahan bekas asrama PGT tersebut. Dulunya lahan yang dipakai UBK itu bekas kantor Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga Depdikbud. Pada jaman Presiden Megawati menjadi kampus Universitas Bung Karno. Selain di Jalan Pegangsaan UBK juga punya kampus di Jalan Kimia. Bulan Februari lalu Ketua Senat Fakultas Hukum UBK memprotes terhadap pembangunan hotel, karena sangat mengganggu perkuliahan di UBK. Mereka meminta ganti rugi/kompensasi kepada pihak pengembang. Padahal pembangunan hotel sudah mencapai 80 %. Tidak hanya itu, konon kabarnya pihak UBK juga sudah melayangkan sepucuk surat resmi, meminta sebagian lahan PGT untuk akses jalan dari Kampus UBK di Jalan Pegangsaan menuju kampus UBK di Jalan Kimia. walah ada-ada saja, maksa hayang lahan tanah bakal jalan.(020413)

Kepercayaan

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:58 pm

Tulisan kali ini pastilah tidak mengenakan pihak tertentu. Bukan bermaksud untuk meramaikan “april mop”. Tetapi sejatinya untuk menceritakan realita yang terjadi sekitar kita, dengan harapan mendapatkan respon yang positif untuk membina komunikasi dan saling pengertian diantara kita. Karena itu, mohon maaf jika pada tulisan ini ada hal yang tidak berkenan.

Kemarin pagi (01/04) ketika masuk kantor, mampir dulu ke gedung PPMT (Pusat Pelayanan Mahasiswa Terpadu) ada satu keperluan. Waktu itu belum jam 09.00. Bertemu dengan seorang dosen satu fakultas di lingkungan kampus Depok. Kelihatan sudah gelisah, mondar-mandir di depan ruang layanan “hotline”. Waktu disapa, katanya dia ada keperluan berhubungan dengan hotline, karena akan segera kirim kabar via email kepada seseorang yang telah menunggu. Sementara pada saat yang sama dia juga harus memberikan kuliah. Di sudut lain tampak juga beberapa mahasiswa sambil membawa lap top menunggu mendapat layanan dari hotline. Di ruangan hotline, belum terlihat satu orang pun petugas.

Tampaknya sang dosen yang kita bicarakan, begitu percaya akan teknologi informasi sebagai suatu wahana untuk mengirimkan informasi dengan cepat dan tepat pada sasaran, ketimbang memanfaatkan media lain. Sehingga dia mau berlama-lama menunggu petugas untuk bisa membantu permasalahan yang dia hadapi. Penulis pun cepat-cepat permisi, mencoba membantunya untuk mencari petugas hotline di kantin atau di lantai dasar gedung PAU tempat para pegawai melakukan absensi.

Baru siang ini (02/04) mendapatkan jawaban dari seorang teman, hotline mulai melakukan layanan pada jam 09.00. Begitulah menurut SOP yang sudah dilaksanakan bertahun-tahun. Ketika ditanyakan kenapa jam layanan tidak disamakan dengan masuknya jam kerja saja (08.00) dia tidak bisa jawab. Mungkin harus ditanyakan kepada rumput yang bergoyang.(020413).