March 20, 2013

Guru Besar itu bukan guru besar kepala

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:53 pm

Hari Rabu ini (20/03) UI mengukuhkan 2 guru besar Fakultas Teknik UI, Prof .Dr. Ir. R. Danardono Agus Sumarsono DEA., PE (54) dari Departemen Teknik Mesin dan Prof. Ir. Isti Suryandari Prawiradinata, MT., MA.,Ph.D (50) dari Teknik Industri Fakultas Teknik UI. Saat ini Guru Besar aktif di FTUI berjumlah 42 orang, jumlah yang paling diantara diantara guru besar fakultas yang ada di UI, yang semuanya berjumlah 250 orang. Jumlah guru besar ini menjadi salah satu indikator kualitas satu perguruan tinggi. Karena dengan banyaknya jumlah guru besar menjadi tolok ukur juga dalam hal penelitian dan publikasi ilmiah yang dihasilkan satu perguruan tinggi.

Persyaratan untuk menjadi guru besar harus memenuhi kriteria Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat). Salah satunya antara lain sudah mencapai jenjang doktor (S3) dan kepakarannya teruji yang terlihat pada hasil penelitiannya yang dipublikasikan di jurnal ilmiah tingkat nasional maupun internasional.

Kalau jaman dahulu hingga awal tahun 1980 an jenjang kepangkatan guru besar dikaitkan pula dengan golongan dan pangkat sebagai Pegawai Negri Sipil (PNS). Paling tidak seorang guru besar harus sudah mencapai pangkat dan golongan IV/D. Ini bisa dicapai seorang dosen yang telah mengabdikan diri sebagai PNS minimal selama 20 – 25 tahun. Tapi kini, sejak akhir tahun 1980 an, seorang staf pengajar tidak lagu harus terbelenggu dengan pangkat dan golongan yang disandangnya. Asal perkembangan keahliannya dinilai telah memenuhi syarat oleh kelompok bidang keilmuannya bisa diusulkan menjadi guru besar di tingkat fakultas dan terus diusulkan ke Dewan Guru Besar universitas, lalu diusulkan ke tingkat Kemendikbud.

Pernah terjadi di satu fakultas seorang dosen ketika akan diusulkan menjadi guru besar menjadi perdebatan dosen seniornya, karena bidang keilmuan yang diambilnya mulai dari S1, S2 dan S3 berbeda beda, tidak satu rumpun ilmu. Ada pula kasus, dimana seorang dosen menyelesaikan S1 nya bidang eksakta, tapi kemudian dia memperdalam dan mengajar bidang di bidang ilmu non-eksakta. Dalam suatu kesempatan, Dirjen Dikti Kemendikbud Joko Santoso bercerita, iseng-iseng memeriksa berkas-berkas seorang calon guru besar. Dia lalu melihat publikasi ilmiahnya di satu jurnal. Ketika diperiksa ternyata jurnal tersebut abal-abal alias bodong. Akhirnya dia memerintahkan kepada staf yang biasa memeriksa berkas calon guru besar, memperketat dan mencermati publikasi jurnal ilmiah calon guru besar.

Beberapa waktu lalu di media massa ramai diberitakan seorang dosen yang bergelar doktor menyatakan pengangkatan sebagai guru besarnya dipersulit. Dosen ini dikenal sangat getol menulis di media massa dan sering diminta pendapatnya dalam satu bidang ilmu oleh kalangan media massa. Karena itulah rupanya dia menganggap merasa sudah pantas menjadi seorang guru besar. Tetapi ketika diperiksa apakah sudah diusulkan oleh ke fakultas ke Dewan Guru Besar Universitas, ternyata tidak ada berkas pengusulan sebagai guru besar. (200313)