March 19, 2013

Tempat yang Mengingatkan Kepada Masa Lalu

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:34 am

Barusan istri cerita, hari ini ada acara di Hotel Sari Pan Pacific Jalan Thamrin Jakarta. Mendengar nama hotel ini, jadi ingat peristiwa puluhan tahun lalu pada jaman Orde Baru, ketika masih seang ‘bermain-main’ dalam dunia amatir pendokumentasian audio visual. Seorang teman meminta tolong untuk melakukan pendokumentasian peluncuran buku seorang petinggi TNI yang juga pendiri lembaga intelijen negara. Tanpa pikir panjang, “siap.., segera.. laksanakan!.”

Acaranya di ballroom hotel tersebut. Sebelumnya didahului dengan makan malam bagi para undangan VIP. Ketika sedang mengambil gambar itulah, seorang tamu VIP rupanya merasa terganggu dan memarahi juru kamera, karena dianggapnya tidak sopan. Apalagi dengan lampu video yang langsung menyoroti kepada tamu tersebut. Hanya tamu itulah rupanya yang merasa terganggu dengan sorotan lampu video. Sementara tamu-tamu lainnya bahkan yang punya acara tenang-tenang saja.

Siapa gerangan tamu VIP yang merasa terganggu dengan sorotan lampu video tersebut? Ternyata salah seorang petinggi pimpinan veteran TNI. Tidak lain orang tua dari super bos kementerian dimana istri penulis bekerja. Dan siapa pula oang yang punya hajat acara peluncuran buku itu? Ternyata bapak seorang anak, yang pada tahun 1984 menjadi salah seorang mahasiswa UI. Kenal dengan anaknya cukup panjang dan berliku.

Tahun 1984, acara perkenalan bagi mahasiswa baru UI dilaksanakan dengan mengadakan penanaman pohon di kampus Depok, yang waktu itu baru saja dimulai proses pembangunannya. Sahabat penulis tidak sengaja ‘menjempret’ muka seorang mahasiswi FISIP. Seperti biasanya di kalangan mahasiswa senior, jika tertarik dengan seorang mahasiswi baru langsung mencari data-datanya. Kebetulan sahabat itu punya akses kepada data-dat tentang informasi mahasiswa baru UI. Inisial namanya ARP, kelahiran New York. Dilihat dari nama belakangnya pastilah orang Sunda. Kelahiran di luar Indonesia pastilah orang tuanya seorang diplomat. Dia kemudian mengajak penulis untuk mendatangi rumah mahasiswi tersebut. Alamat rumahnya rumahnya di dekat jembatan Tomang. Maka malam itu segera saja mendatangi alamat yang dimaksud. Di pintu masuk ternyata dijaga satpam. Waktu ditanya siapa pemilik rumah itu, membuat kami jadi urung untuk bertemu dengan mahasiswi baru tersebut. Ternyata bapaknya seorang petinggi intelijen negara. Jaman Orde Baru jangan ‘main-main’ dengan intelijen negara. (190313)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment