March 18, 2013

Melacak Jejak Awal Reformasi di dalam Kampus 3

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:48 pm

Ada demo besar-besaran yang dilakukan para mahasiswa UI di Kampus Depok. Mula-mula mereka berkeliling dengan berjalan kampus ke tiap fakulas. Mula-mula rombongan hanya terdiri dari para pengurus organisasi mahasiswa. Tapi lama-lama barisan pendemo bertambah banyak. Barisan demo diarahkan ke Garbatama, wilayah kampus Depok yang berbatasan dengan daerah DKI Jakarta.

Pada waktu barisan melewati danau di dekat Garbatama, disuguhi atraksi yang controversial. Tulisan Universitas Indonesia diatas danau Salam ditutupi spanduk kain yang bertuliskan “Kampus Perjuangan Rakyat” yang dikibarkan beberapa mahasiswa. Aksi ini mengundang simpati dan tepuk tangan dari barisan demo mahasiswa. Sejak itu, para mahasiswa yang melakukan aksi-aksi demo baik di Kampus Salemba maupun Depok, selalu meneriakkan yel-yel kampus Perjuangan Rakyat.

Tibalah rombongan di depan garbatama. Di pintu garbatama sudah berjaga-jaga sepasukan polisi anti huru hara lengkap dengan peralatannya. Tidak saja di pintu, melainkan juga sepanjang pagar kuning di sepanjang jalan raya di garbatama polisi anti huru hara berjaga-jaga. Para mahasiswa pun diarahkan berhadap-hadapan dengan polisi anti huru-hara. Antara mahasiswa dengan polisi hanya terpisah beberapa centimeter saja.Hanya karena ada pagar kuning yang membatasi antara keduanya, tidak terjadi bentrokan fisik. Selama kurang lebih setangah jam situasi seperti itu berlangsung. Setelah itu ada komando supaya para mahasiswa duduk di jalanan. Para demonstran pun duduk. Dari kejauhan tampak para dosen mengawasi jalannya kegiatan demo. Diantaranya terlihat Hikmahanto Juwana, SH., Ph.D. Tampaknya ini suatu latihan dan pemanasan, sebelum menghadapi situasi nyata di luar kampus. Setelah cukup lama berada dalam situasi seperti tersebut, akhirnya terdengar suara komando, supaya barisan demonstran meninggalkan garbatama menuju ke dalam kampus Depok.

Entah ide siapa dan gagasan darimana para demonstran berhadapan langsung dengan pihak keamanan/polisi anti huru hara. Tetapi kalau melacak jejak demonstrasi yang berlangsung 24 Februari 1966, (alm) Mang Ayat Rohaedi, Dosen FIB UI yang mengikuti kegiatan demonstrasi di Monas melukiskan dengan sangat dramatis dalam buku otobiografinya. Rombongan demonstran yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat memenuhi lapangan monas menuju istana negara, dimana sedang akan dilangsungkan pelantikan kabinet seratus menteri oleh Presiden Soekarno. Serombongan demonstrasi dari arah jalan veteran menuju monas berhadapan langsung dengan pasukan pengawal Presiden (Cakrabirawa). Pasukan Cakrabirawa rupanya terprovokasi dengan teriakan-teriakan para demonstran. Mereka melakukan penembakan ke udara. Tetapi para demonstran semakin merangsek kea rah pasukan Cakrabirawa. Tembakan semakin diarahkan ke bawah ditujukan kepada para demonstran. Ketika terdengar bunyi rentetan senjata, secara reflek mereka tiarap. Di belakang Mang Ayat seorang demonstran mencoba lari untuk berlindung ke balik pohon. Tapi tidak keburu, akhirnya dia jatuh sambil mengerang kesakitan. Mang Ayat melihat ke belakang dekat kakinya, seorang mahasiswa berjaket kuning besimbah darah. Hari itu, ada dua demonstran gugur. Satu seorang mahasiswa FKUI bernama Arif Rahman Hakim dan satu lagi seorang pelajar dari Bogor bernama Zubaedah.(050313)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment