March 18, 2013

La Luga

Filed under: Uncategorized — rani @ 6:11 pm

Ini bukan kata bahasa latin atau bahasa Italia, tapi murni kata yang berasal dari bumi Indonesia. Laluga adalah nama sejenis talas yang tumbuh di Pulau Miangas Sulawesi Utara, pulau terluar NKRI yang berada paling utara, berbatasan dengan dengan Kepulauan Mindanau Filipina. Penduduk setempat menyebutnya demikian. Bentuk daunnya lebar seperti daun talas lainnya. Diameter daunnya bisa mencapai 60 cm. Tinggi pohonnya 3 meter dan tumbuhnya hanya bisa hidup di tanah yang berair. Pagi ini, ketemu dengan salah seorang dosen Fakultas Hukum UI, yang suaminya sama-sama bersama penulis mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata mahasisiswa UI di pulau Miangas pada bulan Juli-Agustus 2009. Untuk mencapai pulau tersebut dari pelabuhan Bitung Manado diperlukan waktu 22 jam dengan memakai Kapal TNI AL. Sedangkan kalau ikut kapal penumpang biasa, diperlukan sekitar satu minggu, karena singgah dulu di beberapa kepulauan Kabupaten Talaud.

Sang dosen yang disebutkan di atas adalah salah seorang yang menanam pohon talas laluga dari penulis sekitar setahun yang lalu. Talas itu katanya sudah dipecah-pecah menjadi 10 rumpun yang kecil-kecil. Dia merasa laluga sebagai suatu tanda mata yang tidak terlupakan dari satu wilayah NKRI, yang entah kapan lagi bisa mengunjungi pulau Miangas. Tapi jauh daripada itu, dari pembicaraan tadi tersirat ada satu kenangan yang tidak dikatakan dengan terang-terangan. Karena sang dosen tersebut pernah merasakan dan mengalami kegiatan kuliah kerja nyata tahun 1986. Waktu itu penyelenggaraan kuliah kerja nyata UI berlangsung di daerah pinggiran Jakarta (Kebon Jeruk Jakarta Selatan). Pada saat itulah rupanya sang dosen tertambat hatinya dengan peserta lain yang kemudian berlanjut menjalin mahligai rumah tangga. Plaing tidak itulah kesan yang tersirat, ketika pagi ini bincang-bindang tentang pohon talas laluga bersama sang dosen.

Bagi penulis sendiri laluga punya cerita tersendiri. Pada suatu waktu penduduk pulau Miangas mengajak dosen pembimbing untuk mengambil talas laluga di salah satu daerah rawa. Biar pun rawa, tetapi tanahnya tidak terlalu lembek seperti rawa-rawa pada umumnya di Jawa. Jenis pepohonana yang tumbuh di sini pun, beragam seperti tanaman yang ada di hutan. Seorang tetua mengambil beberapa umbi/akar laluga untuk keperluan para mahasiswa membuat aneka makanan dari talas laluga. Ada sedikit sisa umbi laluga yang masih lengkap dengan batang dan daunnya, lalu penulis bawa ke tampat penginapan. Tapi kemudian mati. Akhirnya dibuang ke tempat sampah.

Ketika akan pulang meninggalkan pulau Miangas 17 Agustus 2009, di tempat sampah terlihat umbi talas laluga yang tempo hari dibuang masih tergeletak. Tanpa pikir panjang, segera saja diambil dan dibungkus plastik, dimasukkan ke dalam koper. Sampai di rumah, umbi talas laluga segera saja ditanam di ember plastic setelah sebelumnya diberi tanah dan diari. Setelah seminggu kemudian, keluar tunas pucuk daun laluga. Hampir setahun talas tertanam di ember plastic. Setelah akar-akarnya cukup banyak dan tinggi pohon laluga 30 centimeteran, barulah dipindahkan ke kolam yang dibuat khusus untuk menanam laluga. Kini empat tahun telah berlalu, Pohon laluga sudah setinggi 3 meter dan beberapa kali sudah mengeluarkan buahnya. Anakan talas laluga beberapa telah diberikan kepada dua orang dosen yang mengikuti kegiatan kuliah Kerja Nyata di Pulau Miangas. Ada keinginan untuk menyebarluaskan tanaman ini di tempat-tempat umum dimana laluga bisa tumbuh leluasa. Siapa tahu bisa mengatasi masalah kekurangan pangan. Karena konon katanya, penduduk Pulau Miangas kalau pasokan beras dari Manado telat karena cuaca laut mengganas, penduduk biasa memanfaatkan umbi talas laluga untuk pengganti beras. (180313)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment