March 4, 2013

Melacak Jejak Awal Reformasi di dalam Kampus 2

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:10 pm

Tulisan ini terinspirasi ketika pada tanggal 18 Januari Djadja Suparman meluncurkan buku “Jejak Kudeta”, di Hotel Sahid. Djadja Suparman tahun 1998 menjabat sebagai Panglima Kodam Brawijaya, kemudian pindah tugas ke Kodam Jaya. Pada waktu sidang Umum MPR, Djadja bertugas sebagai asisten SBY yang kala itu menjabat sebagai komandan yang bertanggung jawab terhadap kelancaran sidang Umum MPR. Kebetulan penulis hadir dan turut mendokumentasikan kegiatan tersebut. Tidak dinyana, pada acara tersebut ketemu dengan Muni yang menjadi salah seorang pembicara pda acara tersebut. seseorang yang dulu waktu aksi-aksi demo di Kampus Salemba kerap bertemu. Kalau ketemu biasanya kita saling menatap dengan penuh waspada dan curiga.

Dalam buku itu diceritakan ada usaha-usaha yang dilakukan sekelompok orang yang ingin melakukan pergantian kepemimpinan nasional dengan cara-cara yang inkonstitusional. Di buku itu juga diceritakan ada seseorang yang memberikan informasi kepada Djadja bagaimana NKRI akan berubah sedemikian rupa, ada usaha beberapa daerah memisahkan diri, pengkerdilan ABRI atau demiliterisasi, tentara diarahkan kembali ke barak dan pemisahan Polisi dari TNI, dan supremasi sipil terhadap militer. Dalam cerita lisan kepada penulis Djadja juga bercerita bagaimana dia didekati seseorang (yang ternyata alumni UI) untuk melakukan kudeta. Karena dianggapnya Djadja cukup dekat dengan kalangan orang-orang Islam radikal dan dianggapnya bisa bergabung. Hal ini melengkapi informasi yang penulis dapatkan dari seorang perwira Marinir yang bercerita sewaktu dia bertugas sebagai paspamres. Sang marinir bercerita dia punya kenalan seorang sipil, aktivis salah satu LSM. Pada saat demo-demo reformasi dia selalu menenteng tas. Di dalam tas tersebut ternyata berisi gepokan uang. Katanya sih dari salah satu lembaga asing.

Kalau tidak salah, demo di kampus Salemba UI dimulai oleh kelompok yang menamakan dirinya KB UI (Keluarga Besar UI). Perlu diketahui juga, bahwa demo-demo di yang dilakukan di UI dilakukan oleh beberapa kelompok yang berbeda-beda. Ada Demo yang dilakukan Forkot UI, BEM UI dan bahkan ada juga demo yang dilakukan kelompok gabungan Dosen dan Karyawan UI. Satu saat penulis sempat mengikuti demo di Kampus Depok di bundaran dekat Fakultas Psikologi. Saat itu naik ke panggung Prof.Sri-Edi Swasono (mewakili kelompok dosen) dan Pendi karyawan FISIP UI. Mereka berdampingan melakukan orasi. Baru pertama kali itulah seorang gurubesar melakukan orasi bersama karyawan. Dalam kesempatan lain, penulis juga hadir di Balairung pada acara seminar dimana menghadirkan Prof. Kusnadi Hardjasoemantri (mantan Rektor UGM). Pada saat itu juga dia mengusulkan agar singkatan untuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) diubah menjadi K2N, supaya tidak “saru” dengan istilah Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang waktu itu marak dan dipakai oleh kalangan media. Prof. Kusnadi adalah salah seorang pemrakarsa kegiatan K2N tahun 1950 an, ketika itu para mahasiswa bertugas ke daerah NTT untuk mengajar di sekolah menengah yang kekuranga tenaga guru. Di Balairung pula, Amin Rais bersama Faisal Basri melakukan orasi dalam satu panggung. Kemudian KB UI di lapangan rotunda depan Rektorat Kampus Depok melakukan acara malam renungan reformasi. Hadir antara lain Rendra dan Prof. Selo Soemardjan. Waktu itu orang sudah mulai bertanya-tanya, kalau seniman sekelas Rendra dan Guru Besar sekelas Selo Soemardja sudah tampil dalam aksi-aksi demo, berarti keadaan memang sudah “gawat”. (040313)