March 27, 2013

Dua Guru Besar UI

Filed under: Uncategorized — rani @ 6:37 pm

Hari Rabu ini (27/03) UI mengukuhkan dua Guru Besar Tetap Prof. Budi Anna Keliat dari Fakultas Ilmu Keperawatan dan Prof. Budi Hidayat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat. Dengan pengukuhan ini, jumlah Guru Besar UI saat ini menjadi 251 orang (tetap, luar biasa, emeritus). Jumlah Guru Besar Tetap saja hanya berjumlah 187 orang. Istimewanya pada upacara pengukuhan kali ini dipimpin langsung Pjs. Rektor UI Prof. Joko Santoso yang juga menjabat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Dikti Kemendikbud).

Prof. Budi Anna Keliat, kelahiran tahun 1952 salah seorang mahasiswa angkatan pertama (1975) Program Studi Ilmu Keperawatan yang dulu bernaung dibawah Fakultas Kedokteran UI. Selama 28 tahun bergelut di bidang keperawatan, dia mencoba merintis berdirinya keperawatan kesehatan Jiwa (1982) di Bogor bersama teman-temannya. Judul pidato ilmiah pengukuhannya “Kontribusi Keperawatan Kesehatan Jiwa dalam Meningkatkan Pelayanan Kesehatan Jiwa di Indonesia.”

Prof. Budi Hidayat (41), kelahiran Purbalingga Jawa Tengah ini membacakan pidato ilmiah berjudul “Rambu-rambu Jaminan Kesehatan Nasional” Isi pidatonya berkaitan dengan Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) Nomor 40/2004. Semangat undang undang tersebut sebetulnya bentuk dari komitmen pemerintah untuk menjalankan jaminan sosial bagi rakyat. Kemudian disusul dengan keluarnya Undang Undang Badan Pelaksana Jaminan Sosial (BPJS) Nomor 11 tahun 2011. Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) akan dilaksanakan 1 Januari 2014 dan pada tahun 2019 cakupannya diperluas jaminan kesehatan meliputi semua penduduk Indonesia.Prof. Budi Hidayat tahun 1995 lulusan terbaik Sarjana Kesehatan FKM UI. Dan tahun 2004 peraih Ph.D dengan predikat Summa Cum Laude dari Universitas Heidelberg Jerman.

Yang menarik dari pidato tanpa teks, Prof. Budi menceritakan kembali peristiwa 25 tahun lalu saat menonton satu acara televisi bersama orangtuanya. Waktu itu ada seorang profesor yang tengah mengadakan diskusi dengan peserta lainnya yang bergelar doktor. Pesan orang tuanya kalau jadi guru hendaknya sampai pada tingkat yang paling tinggi seperti profesor yang ada di televise. Tahun 1995 setelah mengantongi sarjan kesehatan masyarakat sebetulnya sudah punya “tiket” menjadi tentara, karena cita-citannya sejak kecil ingin menjadi TNI. Tetapi rupanya perjalanan karirnya berubah di tengah jalan karena “diprovokasi” para dosennya di FKM UI. Setelah 25 tahun berlalu dia menyadari rupanya apa yang diucapkan orang tuanya dulu menjadi do’a makbul yang terkabulkan ditambah lagi dengan shalat malam yang dilakukan orang tuanya. (270313)

March 26, 2013

Lingkungan Mempengaruhi seseorang

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:47 pm

Ini cerita tentang seseorang yang ingin meraih kesuksesan karena dipengaruhi faktor lingkungan. Cerita ini baru saja didengar siang ini dari orang tua si anak. Tersebutlah seorang pegawai UI yang sudah jadi PNS dengan modal ijazah SLA. Sudah cukup lama bekerja, sehingga pangkatnya sudah mencapai III/B. Berasal dari kalangan keluarga bisa, mempunyai dua anak, yang pertama perempuan sudah menikah dan yang kedua masih mahasiswa. Bekerja sebagai staf yang mencatat surat-surat yang masuk dan mengirimkan surat ke berbagai unit kerja di lingkungan UI.

Anak yang terakhir (laki-laki) lulus dari salah satu SMA Negeri di Depok. Bercita-cita ingin jadi seorang ahli komputer. Karena bapaknya bekerja di UI, maka dia pun bertekad untuk bisa kuliah di UI. Setelah mendapat ijazah SLA dia melamar kerja di ANZ Panin. Tahun pertama setelah lulus dia coba-coba ikutan tes masuk UI jalur SIMAK tetapi gagal, karena yang dipilih adalah Fakultas Ilmu komputer. Satu program studi yang banyak peminatnya tingkat keketatannya sangat tinggi.. Padahal prestasi di SMA terbilang pintar, masuk dalam rangking 10. Sambil terus bekerja dia belajar mempersiapkan diri mengikuti tes masuk tahun berikutnya. Program studi yang dipilih masih tetap komputer, karena kegiatan sehari-hari di tempat bekerjanya berhubungan dengan komputer. Tes yang kedua kali ini pun gagal lagi. Tapi dia tetap tidak berputus ada. Dia belajar lagi mempersiapkan diri, tapi tidak ikut dalam bimbingan tes, karena biayanya yang terbilang mahal. Atas saran orang tuanya dia memilih program Studi Ilmu Ekonomi Pembangunan dan Sastra Arab. Akhirnya pada tes masuk yang ketiga kali ini jebol juga dan diterima di Fakultas Ekonomi reguler. Kini sudah duduk di semester 6. Karena orang tuanya PNS UI mendapat keringanan membayar uang SPP Rp400.000/semester, sedangkan dana pembangunan hanya membayar Rp 1.000.000.

Menurut cerita dari orang tuanya, Konon si anak ngotot ingin kuliah di UI, karena merasa bapaknya sebagai PNS UI sering bercerita tentang berbagai kegiatan di UI yang menarik hatinya. Karena keterbatasan ekonomi orang tuanya dia belajar sendiri tanpa mengikuti bimbingan tes dan bekerja untuk membiayai hidupnya. Masuk UI tanpa minta “katebelece” kepada atasan orang tuanya. Hanya untuk pembayaran SPP orang tuanya meminta keringanan kepada UI.Tiga tahun harus menunggu sebelum akhirnya menjadi bagian dari Sivitas Akademika UI.(260313)

March 22, 2013

Dari KKN Hingga K2N (di UI)

Filed under: Uncategorized — rani @ 6:10 pm

Hingga kini, di beberapa perguruan tinggi negeri masih masih menawarkan matakuliah K2N (Kuliah Kerja Nyata) dengan bobot SKS sebesar 3. Di beberapa perguruan tinggi negeri matakuliah ini termasuk kategori yang wajib diambil setiap mahasiswa. Sementara beberapa perguruan tinggi negeri lainnya hanya bersifat pilihan. Di tingkat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Ditjen Dikti Kemendikbud) ada bagian yang khusus menangani hal ini, bahkan disediakan pembiayaan anggaran dari APBN.

Bagaimana awal mulanya terjadinya kegiatan ini? Menurut (alm) Prof. Kusnadi Hardjasoemantri mantan Rektor UGM seperti yang dituturkan kepada penulis, pada tahun 1950 an, Indonesia kekurangan tenaga pengajar (guru) untuk mengajar di berbagai daerah pelosok Indonesia. Untuk mengatasi kekurangan itu, maka dikerahkan tenaga sukarelawan para mahasiswa untuk bertugas mengajar di daerah-daerah pelosok Indonesia. Prof. Kusnadi kebetulan mendapat tugas mengajar di provinsi NTT. (Salah seorang anak didiknya dari NTT yang berhasil menjadi orang ternama di tingkat nasional yaitu Adrianus Mooy, Gubernur Bank Indonesia dari tahun 1988 hingga 1993). Dari situlah kemudian dibuat program Kuliah Kerja Nyata di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Prof. Kusnadi pula pada tahun 1998 pada satu acara diskusi tentang Reformasi di Balairung Kampus UI depok, mendeklarasikan supaya Kuliah Kerja Nyata, singkatannya diubah menjadi K2N, supaya tidak keliru dengan singkatan yang berkonotasi negatif dari Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang ditentang kelompok pro Reformasi.

Di UI program KKN mulai diberlakukan sejak tahun 1979 hingga tahun 1982, di beberapa wilayah Jawa Barat. Kemudian terhenti sebentar, pada tahun 1985 dimulai lagi program KKN di wilayah Serpong Tangerang (waktu itu masih masuk Provinsi Jawa Barat). Tahun berikutnya wilayah kerja KKN diperluas di daerah pinggiran Jakarta dan Kepulauan Seribu. Pada tahun 1993 dicoba melakukan kegiatan KKN bersama antara tiga perguruan tinggi yaitu UI, ITB dan IPB. Lokasinya di daerah Kecamatan Jonggol dan kecamatan Cariu Bogor, yang akan dijadikan tempat pusat ibukota negara (tapi kemudian tidak jadi). Tahun 2002 hingga 2007 kegiatan terhenti, pimpinan UI waktu itu tidak setuju dengan program KKN, yang lebih berorientasikan kepada masyarakat pedesaan.

Baru pada tahun 2008 dimulai lagi program K2N dengan mengambil lokasi di Desa Leuwinanggung Depok. Setelah itu tahun 2009 K2N UI melakukan “lompatan besar” dengan melakukan kegiatan K2N yang mengusung tema mengenal pulau pulau terdepan dan daerah perbatasan. Selama 4 tahun K2N UI didapat temuan adanya keterbatasan komunikasi, transportasi, penerangan, rendahnya ingkat pendidikan dan kesehatan. Hal ini menjadi keprihatinan UI, mengingat kita telah merdeka selama delapan windu, tetapi masih ada saudara-saudara kita di NKRI yang masih belum bisa menikmati hasil-hasil kemerdekaan seperti saudara saudara di pulau lainnya.

Daerah yang telah dijadikan lokasi K2N UI (2009 -2012) antara lain yaitu Pulau Miangas (Sulawesi Utara), Sabang (Provinsi Aceh), Pulau Subi Kecil (Kab. Natuna) Entikong (Kab. Sanggau), Pulau Sebatik (Kab. Nunukan – Kaltim), Kecamatan Rote dan Rote Barat Daya (NTT), Pulau Selaru ( Kab. Maluku Tenggara Barat), Desa Sota (kab. Merauke), Pulau Ende, Pulau Alor, Pulau Pantar (kab. Alor NTT), Perbatasan NKRI Distrik Oecussi (Kab. Timor Tengah Utara – NTT), Pulau Liran (Kab. Maluku Barat Daya – Maluku), Pulau Waigeo dan Kep. Ayau (Kab. Raja Ampat – Papua Barat), Kec. Wasior (kab. Teluk Wondama – Papua Barat), Pulau Karimata dan Pualau Serutu (Kab. Kayong Utara – Kalbar), Kecamatan Puring Kencana (Kab. Kapuas Hulu – Kalbar), Desa Long Berang Kecamatan Mentarang Hulu dan Desa Paking Kecamatan(kab. Malinau _Kaltim), perbatasan Motaain dan Turiskai (Kab. Belu – NTT). (220313)

Blusukannya Mahasiswa UI

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:33 am

Tim Pelaksana Kuliah Kerja Nyata (K2N) UI melakukan presentasi dihadapan para petinggi TNI yang berlangsung kamis pagi (21/03) di Mabes TNI Cilangkap Jakarta. Dari UI hadir (Plh) Rektor UI Prof. M. Anis, Pelaksana Harian Direktur Kemahasiswaan Arman Nefi, Ketua Pelaksana K2N UI Sri Murni, Kepala kantor Komunikasi UI Farida Haryoko. Dari pihak TNI tampak Asisten Teritorial (Aster) Panglima TNI May Jen S. Widjonarko, Wakil Aster Laksamana Pertama Giyarto serta jajaran staf lainnya.

Kegiatan ini dalam rangka melakukan kegiatan K2N mahasiswa UI yang akan berlangsung 23 Juni hingga 25 Juli 2013 menyebar di 21 titik wilayah Provinsi Maluku dan Papua. Dengan tema “Harmoni dalam Kebhinekaan menuju Masyarakat Sejahtera dan Mandiri” rencananya akan diikuti 220 mahasiswa, setelah lolos tahap seleksi dan latihan fisik. Beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan para mahasiswa tercakup dalam 6 kegiatan. Yaitu Rumah Inklusif Ceria, Lansia S ehat dan Mandiri, Pengembangan Pariwisata Kreatif, Rumah Kreatif Bhinneka Tunggal Ika, Kesehatan untuk Semua dan Penyuluhan Hukum.

Aster Panglima TNI May Jen S. Widjonarko menyatakan, pihak TNI merasa senang dan sangat mendukung kegiatan K2N UI, karena TNI pun mempunyai program menyejahterakan penduduk TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). Selain itu telah dijalin kerjasama TNI dengan Kemendikbud, dimana anggota TNI yang bertugas di wilayah terdepan NKRI menjadi pengajar di sekolah-sekolah setempat. Sementara Wakil Aster Laksamana Pertama Giyarto mengusulkan supaya tema K2N UI dicantumkan kata Nusantara, mengingat cakupan wilayah K2N UI sudah menjangkau se Nusantara.

Tahun ini UI telah melaksanakan kegiatan K2N untuk yang kelima kalinya dengan mengambil lokasi di pulau/wilayah terdepan NKRI. Selama ini UI senantiasa mendapat bantuan dari Pihak TNI untuk mencapai lokasi K2N yang sulit dicapai. Boleh dikatakan para mahasiswa UI telah “blusukan” mulai dari Sabang sampai Merauke, ujung paling barat dan paling timur dan dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote, ujung paling utara hingga ujung Selatan NKRI.(210313)

March 20, 2013

Guru Besar itu bukan guru besar kepala

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:53 pm

Hari Rabu ini (20/03) UI mengukuhkan 2 guru besar Fakultas Teknik UI, Prof .Dr. Ir. R. Danardono Agus Sumarsono DEA., PE (54) dari Departemen Teknik Mesin dan Prof. Ir. Isti Suryandari Prawiradinata, MT., MA.,Ph.D (50) dari Teknik Industri Fakultas Teknik UI. Saat ini Guru Besar aktif di FTUI berjumlah 42 orang, jumlah yang paling diantara diantara guru besar fakultas yang ada di UI, yang semuanya berjumlah 250 orang. Jumlah guru besar ini menjadi salah satu indikator kualitas satu perguruan tinggi. Karena dengan banyaknya jumlah guru besar menjadi tolok ukur juga dalam hal penelitian dan publikasi ilmiah yang dihasilkan satu perguruan tinggi.

Persyaratan untuk menjadi guru besar harus memenuhi kriteria Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat). Salah satunya antara lain sudah mencapai jenjang doktor (S3) dan kepakarannya teruji yang terlihat pada hasil penelitiannya yang dipublikasikan di jurnal ilmiah tingkat nasional maupun internasional.

Kalau jaman dahulu hingga awal tahun 1980 an jenjang kepangkatan guru besar dikaitkan pula dengan golongan dan pangkat sebagai Pegawai Negri Sipil (PNS). Paling tidak seorang guru besar harus sudah mencapai pangkat dan golongan IV/D. Ini bisa dicapai seorang dosen yang telah mengabdikan diri sebagai PNS minimal selama 20 – 25 tahun. Tapi kini, sejak akhir tahun 1980 an, seorang staf pengajar tidak lagu harus terbelenggu dengan pangkat dan golongan yang disandangnya. Asal perkembangan keahliannya dinilai telah memenuhi syarat oleh kelompok bidang keilmuannya bisa diusulkan menjadi guru besar di tingkat fakultas dan terus diusulkan ke Dewan Guru Besar universitas, lalu diusulkan ke tingkat Kemendikbud.

Pernah terjadi di satu fakultas seorang dosen ketika akan diusulkan menjadi guru besar menjadi perdebatan dosen seniornya, karena bidang keilmuan yang diambilnya mulai dari S1, S2 dan S3 berbeda beda, tidak satu rumpun ilmu. Ada pula kasus, dimana seorang dosen menyelesaikan S1 nya bidang eksakta, tapi kemudian dia memperdalam dan mengajar bidang di bidang ilmu non-eksakta. Dalam suatu kesempatan, Dirjen Dikti Kemendikbud Joko Santoso bercerita, iseng-iseng memeriksa berkas-berkas seorang calon guru besar. Dia lalu melihat publikasi ilmiahnya di satu jurnal. Ketika diperiksa ternyata jurnal tersebut abal-abal alias bodong. Akhirnya dia memerintahkan kepada staf yang biasa memeriksa berkas calon guru besar, memperketat dan mencermati publikasi jurnal ilmiah calon guru besar.

Beberapa waktu lalu di media massa ramai diberitakan seorang dosen yang bergelar doktor menyatakan pengangkatan sebagai guru besarnya dipersulit. Dosen ini dikenal sangat getol menulis di media massa dan sering diminta pendapatnya dalam satu bidang ilmu oleh kalangan media massa. Karena itulah rupanya dia menganggap merasa sudah pantas menjadi seorang guru besar. Tetapi ketika diperiksa apakah sudah diusulkan oleh ke fakultas ke Dewan Guru Besar Universitas, ternyata tidak ada berkas pengusulan sebagai guru besar. (200313)

March 19, 2013

Tempat yang Mengingatkan Kepada Masa Lalu

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:34 am

Barusan istri cerita, hari ini ada acara di Hotel Sari Pan Pacific Jalan Thamrin Jakarta. Mendengar nama hotel ini, jadi ingat peristiwa puluhan tahun lalu pada jaman Orde Baru, ketika masih seang ‘bermain-main’ dalam dunia amatir pendokumentasian audio visual. Seorang teman meminta tolong untuk melakukan pendokumentasian peluncuran buku seorang petinggi TNI yang juga pendiri lembaga intelijen negara. Tanpa pikir panjang, “siap.., segera.. laksanakan!.”

Acaranya di ballroom hotel tersebut. Sebelumnya didahului dengan makan malam bagi para undangan VIP. Ketika sedang mengambil gambar itulah, seorang tamu VIP rupanya merasa terganggu dan memarahi juru kamera, karena dianggapnya tidak sopan. Apalagi dengan lampu video yang langsung menyoroti kepada tamu tersebut. Hanya tamu itulah rupanya yang merasa terganggu dengan sorotan lampu video. Sementara tamu-tamu lainnya bahkan yang punya acara tenang-tenang saja.

Siapa gerangan tamu VIP yang merasa terganggu dengan sorotan lampu video tersebut? Ternyata salah seorang petinggi pimpinan veteran TNI. Tidak lain orang tua dari super bos kementerian dimana istri penulis bekerja. Dan siapa pula oang yang punya hajat acara peluncuran buku itu? Ternyata bapak seorang anak, yang pada tahun 1984 menjadi salah seorang mahasiswa UI. Kenal dengan anaknya cukup panjang dan berliku.

Tahun 1984, acara perkenalan bagi mahasiswa baru UI dilaksanakan dengan mengadakan penanaman pohon di kampus Depok, yang waktu itu baru saja dimulai proses pembangunannya. Sahabat penulis tidak sengaja ‘menjempret’ muka seorang mahasiswi FISIP. Seperti biasanya di kalangan mahasiswa senior, jika tertarik dengan seorang mahasiswi baru langsung mencari data-datanya. Kebetulan sahabat itu punya akses kepada data-dat tentang informasi mahasiswa baru UI. Inisial namanya ARP, kelahiran New York. Dilihat dari nama belakangnya pastilah orang Sunda. Kelahiran di luar Indonesia pastilah orang tuanya seorang diplomat. Dia kemudian mengajak penulis untuk mendatangi rumah mahasiswi tersebut. Alamat rumahnya rumahnya di dekat jembatan Tomang. Maka malam itu segera saja mendatangi alamat yang dimaksud. Di pintu masuk ternyata dijaga satpam. Waktu ditanya siapa pemilik rumah itu, membuat kami jadi urung untuk bertemu dengan mahasiswi baru tersebut. Ternyata bapaknya seorang petinggi intelijen negara. Jaman Orde Baru jangan ‘main-main’ dengan intelijen negara. (190313)

si Pengacau

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:33 am

Almarhum Prof. Sujudi Rektor UI, senang sekali memberikan julukan kepada orang-orang tertentu dengan karakter yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki orang tersebut. Julukan yang terkesan “olok-olok” sebagai suatu ekspresi dan penghargaan serta keakraban Prof. Sujudi terhadap orang tersebut. Ini sesuai dengan sifat dasarnya yang memang doyan melucu dalam berbagai situasi. Dalam setiap acara yang dihadiri Prof. Sujudi, suasana menjadi hangat dan menyegarkan karena selalu ada yang menjadi bahan guyonan.

Misalnya saja ada seorang staf, jabatannya salah satu kepala bagian di lingkungan pusat administrasi, begitu dekat dan akrab sekali dengan Prof. Sujudi. Dalam setiap berbagai acara dan berbagai kesempatan, baik didalam maupun di luar UI orang ini senantiasa mendampingi Prof. Sujudi. Bahkan fungsi dan tugasnya sudah seperti asisten pribadinya, mengatur segala kegiatan dalam setiap acara. Orang-orang terdekat di lingkungan pusat administrasi selalu membicarakannya. Rupanya Prof. Sujudi mengetahui juga, dia menjuluki staf tersebut dengan sebutan “super rektor”.

Lain lagi dengan sebutan yang diberikan kepada seorang sahabat, jaman dulu sewaktu masih aktivis di suratkabar kampus. Tadinya tidak terpikir sebelumnya kenapa Prof. Sujudi menjuluki teman penulis dengan julukan demikian. Tetapi ketika kemarin melihat-lihat dokumentasi video tahun 1986, barulah terpikir, kenapa julukan itu muncul. Peristiwanya terjadi pada tanggal 15 Januari 1986 menjelang pelantikan Rektor baru UI. Pagi-pagi ketika lalu lintas di bilangan kebayoran baru masih sepi, penulis bersama seorang sahabat itu sudah berada di salah satu halaman rumah di bilangan jalan Daksa. Hari itu tanpa pemberitahuan sebelumnya, kami berdua “nyelonong” ke rumah di jalan Daksa. Akan mewawancarai Prof. Sujudi sebelum dilantik menjadi Rektor UI. Dalam pakaian yang sudah rapih, Prof. Sujudi menemui kami berdua dan memberikan jawaban-jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan sahabat penulis. Luar biasanya dia dengan senang hati mau meluangkan waktu, padahal waktu pelantikan sudah demikian sempit. Ketika selesai wawancara, beliau langsung pergi meninggalkan kami menuju kampus Salemba.

Setahun lebih setelah acara pelantikan Rektor UI, penulis dan sahabat penulis tersebut meliput acara peresmian Kampus Depok. Maka ketika usai acara peresmian kampus Depok, para reporter surat kabar kampus ikut “nimbrung” ketika Prof. sujudi berbicara dengan Prof. Mahar Mardjono dan Mendikbud Prof. Fuad Hassan di halaman depan dekat lapangan rotunda Gedung Pusat Administrasi Universitas. Kami pun terlibat dalam obrolan dengan ketiga tokoh itu. Melihat sahabat penulis, Prof. Sujudi langsung nyeletuk “ini dia si pengacau.” Di duga, dalam pikiran Prof. Sujudi terlintas peristiwa wawancara tempo dulu yang nyaris membuatnya telat datang pada acara pelantikan rektor.(180313)

March 18, 2013

La Luga

Filed under: Uncategorized — rani @ 6:11 pm

Ini bukan kata bahasa latin atau bahasa Italia, tapi murni kata yang berasal dari bumi Indonesia. Laluga adalah nama sejenis talas yang tumbuh di Pulau Miangas Sulawesi Utara, pulau terluar NKRI yang berada paling utara, berbatasan dengan dengan Kepulauan Mindanau Filipina. Penduduk setempat menyebutnya demikian. Bentuk daunnya lebar seperti daun talas lainnya. Diameter daunnya bisa mencapai 60 cm. Tinggi pohonnya 3 meter dan tumbuhnya hanya bisa hidup di tanah yang berair. Pagi ini, ketemu dengan salah seorang dosen Fakultas Hukum UI, yang suaminya sama-sama bersama penulis mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata mahasisiswa UI di pulau Miangas pada bulan Juli-Agustus 2009. Untuk mencapai pulau tersebut dari pelabuhan Bitung Manado diperlukan waktu 22 jam dengan memakai Kapal TNI AL. Sedangkan kalau ikut kapal penumpang biasa, diperlukan sekitar satu minggu, karena singgah dulu di beberapa kepulauan Kabupaten Talaud.

Sang dosen yang disebutkan di atas adalah salah seorang yang menanam pohon talas laluga dari penulis sekitar setahun yang lalu. Talas itu katanya sudah dipecah-pecah menjadi 10 rumpun yang kecil-kecil. Dia merasa laluga sebagai suatu tanda mata yang tidak terlupakan dari satu wilayah NKRI, yang entah kapan lagi bisa mengunjungi pulau Miangas. Tapi jauh daripada itu, dari pembicaraan tadi tersirat ada satu kenangan yang tidak dikatakan dengan terang-terangan. Karena sang dosen tersebut pernah merasakan dan mengalami kegiatan kuliah kerja nyata tahun 1986. Waktu itu penyelenggaraan kuliah kerja nyata UI berlangsung di daerah pinggiran Jakarta (Kebon Jeruk Jakarta Selatan). Pada saat itulah rupanya sang dosen tertambat hatinya dengan peserta lain yang kemudian berlanjut menjalin mahligai rumah tangga. Plaing tidak itulah kesan yang tersirat, ketika pagi ini bincang-bindang tentang pohon talas laluga bersama sang dosen.

Bagi penulis sendiri laluga punya cerita tersendiri. Pada suatu waktu penduduk pulau Miangas mengajak dosen pembimbing untuk mengambil talas laluga di salah satu daerah rawa. Biar pun rawa, tetapi tanahnya tidak terlalu lembek seperti rawa-rawa pada umumnya di Jawa. Jenis pepohonana yang tumbuh di sini pun, beragam seperti tanaman yang ada di hutan. Seorang tetua mengambil beberapa umbi/akar laluga untuk keperluan para mahasiswa membuat aneka makanan dari talas laluga. Ada sedikit sisa umbi laluga yang masih lengkap dengan batang dan daunnya, lalu penulis bawa ke tampat penginapan. Tapi kemudian mati. Akhirnya dibuang ke tempat sampah.

Ketika akan pulang meninggalkan pulau Miangas 17 Agustus 2009, di tempat sampah terlihat umbi talas laluga yang tempo hari dibuang masih tergeletak. Tanpa pikir panjang, segera saja diambil dan dibungkus plastik, dimasukkan ke dalam koper. Sampai di rumah, umbi talas laluga segera saja ditanam di ember plastic setelah sebelumnya diberi tanah dan diari. Setelah seminggu kemudian, keluar tunas pucuk daun laluga. Hampir setahun talas tertanam di ember plastic. Setelah akar-akarnya cukup banyak dan tinggi pohon laluga 30 centimeteran, barulah dipindahkan ke kolam yang dibuat khusus untuk menanam laluga. Kini empat tahun telah berlalu, Pohon laluga sudah setinggi 3 meter dan beberapa kali sudah mengeluarkan buahnya. Anakan talas laluga beberapa telah diberikan kepada dua orang dosen yang mengikuti kegiatan kuliah Kerja Nyata di Pulau Miangas. Ada keinginan untuk menyebarluaskan tanaman ini di tempat-tempat umum dimana laluga bisa tumbuh leluasa. Siapa tahu bisa mengatasi masalah kekurangan pangan. Karena konon katanya, penduduk Pulau Miangas kalau pasokan beras dari Manado telat karena cuaca laut mengganas, penduduk biasa memanfaatkan umbi talas laluga untuk pengganti beras. (180313)

Melacak Jejak Awal Reformasi di dalam Kampus 3

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:48 pm

Ada demo besar-besaran yang dilakukan para mahasiswa UI di Kampus Depok. Mula-mula mereka berkeliling dengan berjalan kampus ke tiap fakulas. Mula-mula rombongan hanya terdiri dari para pengurus organisasi mahasiswa. Tapi lama-lama barisan pendemo bertambah banyak. Barisan demo diarahkan ke Garbatama, wilayah kampus Depok yang berbatasan dengan daerah DKI Jakarta.

Pada waktu barisan melewati danau di dekat Garbatama, disuguhi atraksi yang controversial. Tulisan Universitas Indonesia diatas danau Salam ditutupi spanduk kain yang bertuliskan “Kampus Perjuangan Rakyat” yang dikibarkan beberapa mahasiswa. Aksi ini mengundang simpati dan tepuk tangan dari barisan demo mahasiswa. Sejak itu, para mahasiswa yang melakukan aksi-aksi demo baik di Kampus Salemba maupun Depok, selalu meneriakkan yel-yel kampus Perjuangan Rakyat.

Tibalah rombongan di depan garbatama. Di pintu garbatama sudah berjaga-jaga sepasukan polisi anti huru hara lengkap dengan peralatannya. Tidak saja di pintu, melainkan juga sepanjang pagar kuning di sepanjang jalan raya di garbatama polisi anti huru hara berjaga-jaga. Para mahasiswa pun diarahkan berhadap-hadapan dengan polisi anti huru-hara. Antara mahasiswa dengan polisi hanya terpisah beberapa centimeter saja.Hanya karena ada pagar kuning yang membatasi antara keduanya, tidak terjadi bentrokan fisik. Selama kurang lebih setangah jam situasi seperti itu berlangsung. Setelah itu ada komando supaya para mahasiswa duduk di jalanan. Para demonstran pun duduk. Dari kejauhan tampak para dosen mengawasi jalannya kegiatan demo. Diantaranya terlihat Hikmahanto Juwana, SH., Ph.D. Tampaknya ini suatu latihan dan pemanasan, sebelum menghadapi situasi nyata di luar kampus. Setelah cukup lama berada dalam situasi seperti tersebut, akhirnya terdengar suara komando, supaya barisan demonstran meninggalkan garbatama menuju ke dalam kampus Depok.

Entah ide siapa dan gagasan darimana para demonstran berhadapan langsung dengan pihak keamanan/polisi anti huru hara. Tetapi kalau melacak jejak demonstrasi yang berlangsung 24 Februari 1966, (alm) Mang Ayat Rohaedi, Dosen FIB UI yang mengikuti kegiatan demonstrasi di Monas melukiskan dengan sangat dramatis dalam buku otobiografinya. Rombongan demonstran yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat memenuhi lapangan monas menuju istana negara, dimana sedang akan dilangsungkan pelantikan kabinet seratus menteri oleh Presiden Soekarno. Serombongan demonstrasi dari arah jalan veteran menuju monas berhadapan langsung dengan pasukan pengawal Presiden (Cakrabirawa). Pasukan Cakrabirawa rupanya terprovokasi dengan teriakan-teriakan para demonstran. Mereka melakukan penembakan ke udara. Tetapi para demonstran semakin merangsek kea rah pasukan Cakrabirawa. Tembakan semakin diarahkan ke bawah ditujukan kepada para demonstran. Ketika terdengar bunyi rentetan senjata, secara reflek mereka tiarap. Di belakang Mang Ayat seorang demonstran mencoba lari untuk berlindung ke balik pohon. Tapi tidak keburu, akhirnya dia jatuh sambil mengerang kesakitan. Mang Ayat melihat ke belakang dekat kakinya, seorang mahasiswa berjaket kuning besimbah darah. Hari itu, ada dua demonstran gugur. Satu seorang mahasiswa FKUI bernama Arif Rahman Hakim dan satu lagi seorang pelajar dari Bogor bernama Zubaedah.(050313)

March 4, 2013

Melacak Jejak Awal Reformasi di dalam Kampus 2

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:10 pm

Tulisan ini terinspirasi ketika pada tanggal 18 Januari Djadja Suparman meluncurkan buku “Jejak Kudeta”, di Hotel Sahid. Djadja Suparman tahun 1998 menjabat sebagai Panglima Kodam Brawijaya, kemudian pindah tugas ke Kodam Jaya. Pada waktu sidang Umum MPR, Djadja bertugas sebagai asisten SBY yang kala itu menjabat sebagai komandan yang bertanggung jawab terhadap kelancaran sidang Umum MPR. Kebetulan penulis hadir dan turut mendokumentasikan kegiatan tersebut. Tidak dinyana, pada acara tersebut ketemu dengan Muni yang menjadi salah seorang pembicara pda acara tersebut. seseorang yang dulu waktu aksi-aksi demo di Kampus Salemba kerap bertemu. Kalau ketemu biasanya kita saling menatap dengan penuh waspada dan curiga.

Dalam buku itu diceritakan ada usaha-usaha yang dilakukan sekelompok orang yang ingin melakukan pergantian kepemimpinan nasional dengan cara-cara yang inkonstitusional. Di buku itu juga diceritakan ada seseorang yang memberikan informasi kepada Djadja bagaimana NKRI akan berubah sedemikian rupa, ada usaha beberapa daerah memisahkan diri, pengkerdilan ABRI atau demiliterisasi, tentara diarahkan kembali ke barak dan pemisahan Polisi dari TNI, dan supremasi sipil terhadap militer. Dalam cerita lisan kepada penulis Djadja juga bercerita bagaimana dia didekati seseorang (yang ternyata alumni UI) untuk melakukan kudeta. Karena dianggapnya Djadja cukup dekat dengan kalangan orang-orang Islam radikal dan dianggapnya bisa bergabung. Hal ini melengkapi informasi yang penulis dapatkan dari seorang perwira Marinir yang bercerita sewaktu dia bertugas sebagai paspamres. Sang marinir bercerita dia punya kenalan seorang sipil, aktivis salah satu LSM. Pada saat demo-demo reformasi dia selalu menenteng tas. Di dalam tas tersebut ternyata berisi gepokan uang. Katanya sih dari salah satu lembaga asing.

Kalau tidak salah, demo di kampus Salemba UI dimulai oleh kelompok yang menamakan dirinya KB UI (Keluarga Besar UI). Perlu diketahui juga, bahwa demo-demo di yang dilakukan di UI dilakukan oleh beberapa kelompok yang berbeda-beda. Ada Demo yang dilakukan Forkot UI, BEM UI dan bahkan ada juga demo yang dilakukan kelompok gabungan Dosen dan Karyawan UI. Satu saat penulis sempat mengikuti demo di Kampus Depok di bundaran dekat Fakultas Psikologi. Saat itu naik ke panggung Prof.Sri-Edi Swasono (mewakili kelompok dosen) dan Pendi karyawan FISIP UI. Mereka berdampingan melakukan orasi. Baru pertama kali itulah seorang gurubesar melakukan orasi bersama karyawan. Dalam kesempatan lain, penulis juga hadir di Balairung pada acara seminar dimana menghadirkan Prof. Kusnadi Hardjasoemantri (mantan Rektor UGM). Pada saat itu juga dia mengusulkan agar singkatan untuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) diubah menjadi K2N, supaya tidak “saru” dengan istilah Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang waktu itu marak dan dipakai oleh kalangan media. Prof. Kusnadi adalah salah seorang pemrakarsa kegiatan K2N tahun 1950 an, ketika itu para mahasiswa bertugas ke daerah NTT untuk mengajar di sekolah menengah yang kekuranga tenaga guru. Di Balairung pula, Amin Rais bersama Faisal Basri melakukan orasi dalam satu panggung. Kemudian KB UI di lapangan rotunda depan Rektorat Kampus Depok melakukan acara malam renungan reformasi. Hadir antara lain Rendra dan Prof. Selo Soemardjan. Waktu itu orang sudah mulai bertanya-tanya, kalau seniman sekelas Rendra dan Guru Besar sekelas Selo Soemardja sudah tampil dalam aksi-aksi demo, berarti keadaan memang sudah “gawat”. (040313)