November 10, 2011

Beginilah Seharusnya Seorang Rektor

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:35 am

“Keislaman Indonesia” oleh Komaruddin Hidayat Opini KOMPAS, Sabtu 5 November 2011. Pertama kali mendengar artikel di atas, diberi tahu seorang teman di salah satu milis, “ada artikel bagus” katanya. Waktu itu belum sempat untuk melihat –lihat di harian Kompas karena kesibukan kegiatan. Tapi pagi ini seorang teman mengirimkan tulisan tersebut di satu milis. Setelah membaca, tiba-tiba timbul gagasan untuk menulis dengan judul di atas.

Pertama kali kenal dengan Komaruddin Hidayat, puluhan tahun lalu. Saat itu dia menjadi khatib shalat idul fitri di alun-alun Kabupaten Majalengka Jawa Barat. Ibukota kabupaten tempat kelahiran penulis. Bupati Majalengka masih dijabat Tuti (adik kandung Yogi S. Memet, mantan Mendagri). Waktu itu namanya sudah mulai dikenal sebagai dosen IAIN Ciputat yang sering menulis di Media. Kenapa dia menjadi khatib shalat Idul Fitri di Majalengka, ternyata istrinya adalah orang Majalengka.

Setelah itu, beberapa kali bertemu di lingkungan UI dalam berbagai kegiatan. Bahkan satu kali dia diundang ceramah agama bulanan di Rektorat pada saat Rektor UI baru saja dijabat Gumilar. Menurut penuturannya, ada anaknya yang menjadi mahasiswa Psikologi UI dan kini sudah menjadi sarjana. Setelah itu, dalam berbagai kesempatan kerap bertemu dan pemikiran-pemikirannya sangat memikat. Waktu itu namanya sebagai pemikir Islam masih berada di bawah “bayang-bayang” Nurcholis Madjid dan Azyumardi Azra (Rektor UIN). Ketika menjabat Rektor Paramadina dan kemudian menjadi Direktur Program Pascasarjana UIN Ciputat, barulah namanya mulai “berkibar”. Apalagi setelah menjabat sebagai Rektor UIN. Dalam dunia perbukuan, dia sempat menulis buku “Psikologi Kematian” dan menjadi best seller yang banyak diminati berbagai kalangan masyarakat.

Terakhir bertemu awal agustus ketika ada pemberian beasiswa pada acara buka puasa bersama di Bank Indonesia dan acara halal bihalal di Fakultas Hukum UI September lalu. Topik-topik yang dia kemukakan pada dua acara itu sangat menarik dan aktual. Bahkan pada acara halal bihalal di FHUI, dia membawa buku yang masih dibaca belum selesai dan mengemukakan isi buku pada acara tersebut. Luar biasanya, dia masih mau menyempatkan datang pada acara halal bihalal level fakultas. Ini menunjukkan betapa rendah hati dan tidak “berjarak”, sehingga bersedia memberikan tausiah pada forum kecil. Waktu itu kebetulan Rektor UI juga hadir.

Melihat isi tulisan di Kompas seperti disebutkan di atas, menunjukkan dia benar-benar serius dan mendalami apa yang menjadi permasalahan di masyarakat. Kupasan dan analisisnya sesuai dengan bidang keilmuan yang digelutinya serta menjadi pusat perhatian universitas yang dipimpinnya. Sama sekali tidak terlihat unsur politik atau interes pribadi. Kalau saja semua pimpinan perguruan tinggi mempunyai pemikiran seperti itu, akan sangat menentramkan masyarakat dan menjadi masukan bagi pemangku kekuasaan untuk memecahkan persoalan bangsa. (101111)