October 25, 2011

Menemukan Dokumen Lama

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:48 am

Kamis minggu lalu (20/10) ketika mencari berkas-berkas lama di lemari yang nyaris hampir dibuang, ditemukan bahan dokumentasi penting. Yaitu Buku tipis Sejarah universitas Indonesia yang diterbitkan Humas UI tahun 1967 dan kliping berita pengadilan mahasiswa UI yang terlibat malapetaka 15 Januari 1974 (MALARI). Tempo hari pernah juga menemukan buku lulusan UI dari tahun 1950 hingga 1975. Beberapa bagian dari isi buku lulusan itu sempat ditulis ulang dan dimuat di milis ini. Sebagai orang yang berkecimpung di bidang informasi, buku-buku tersebut sangat berharga sekali. Paling tidak bisa diinformasikan kepada generasi yang kemudian.

Beberapa waktu lalu sempat juga menemukan satu album foto hitam putih, kegiatan peringatan 10 tahun Arif Rahman Hakim gugur. Acara yang diselenggarakan di Student center kampus Salemba itu, menghadirkan pembicara A.H. Nasution. Waktu itu yang menjadi ketua Dewan Mahasiswa(DM) UI Dipo Alam. Beberapa aktivis mahasiswa UI lainnya juga tampak dalam album tersebut. Bahkan kalau tidak salah A.H. Nasution sempat melakukan pengguntingan pita sebagai tanda peresmian ruang kantin (kalau tidak salah) yang letaknya di bawah gedung student center. Beberapa waktu lalu saat ada acara halal bihalal alumni FMIPA, sempat bertemu dengan Dipo Alam dan menanyakan tentang kepemimpinan dia selama menjadi ketua DM UI. Seingatnya, menjabat Ketua DM UI dari tahun 1975 hingga 1976. Tahun 1977 sudah lulus dan sudah bekerja. Berarti Dipo Alam, menggantikan kepemimpinan Hariman Siregar yang ditahan karena terlibat peristiwa Malari. Tadina ingin bertanya lebih jauh tentang situasi dunia kemahasiswaan setelah peristiwa Malari. Tetapi tidak ada waktu. Namun dia menjanjikan untuk menceritakan pengalaman selama menjadi Ketua DM UI.

Pada saat soft launching Perpustakaan Pusat juga sempat ketemu Dipo Alam dan juga ketua DM UI IPB Mustafa Abubakar, menteri BUMN. Malahan secara khusus menyinggungnya dalam pidato yang disampaikan di depan umum dan menyatakan pertemuan waktu itu sebagai suatu reuni, mengingatkan kembali masa-masa masih aktif dalam dunia kemahasiswaan.Menarik juga ternyata beberapa menteri dalam satu kabinet dulunya, sama-sama aktivis.

Hari minggu kemarin (23/10), seorang teman bercerita bagaimana dia sempat dekat dengan mantan aktivis mahasiswa UI akhir tahun 1970 an dan menjadi salah seorang mantan penghuni asrama kampus kuning (tahanan Nirbaya?) di Bekasi. Bagaimana para aktivis kampus kuning itu setelah keluar tahanan banyak dibantu oleh Kolonel Eddy Nalapraya, (waktu itu) komandan Garnizun yang kemudian menjabat Pangdam Jaya dan dahulu menahan (melindungi?) para aktivis mahasiswa. Bahkan beberapa diantaranya dicarikan pekerjaan oleh Eddy Nalapraya. Hari senin kemarin(24/10) bertemu dengan seorang suami (mantan aktivis mahasiswa UI) yang beristrikan Guru Besar Fakultas Teknik UI. Dia bercerita bagaimana sepak terjang seorang menteri (yang kemudian dilengserkan) mantan aktivis mahasiswa satu perguruan tinggi negeri. Dari dulu memang dia sudah punya karakter begitu, katanya. Waktu teman-temannya ditahan, dia malahan bebas di luar dan jalan-jalan pergi keluar negeri. Jadi sebetulnya karakter orang, bisa dilihat sejak dia menjadi mahasiswa. Ketika dia menjadi pejabat atau pemimpin suatu lembaga/institusi, karakternya tidak akan banyak berubah. Jadi, kalau mau melihat kepemimpinan seseorang, telusuri kehidupannya sewaktu menjadi mahasiswa.(251011)