October 19, 2011

Merekam Gempa di Bali

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:24 pm

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan mendokumentasikan kegiatan gempa di Bali yang terjadi pada tanggal 13 Oktober lalu. Mungkin itulah satu-satunya video yang merekam kepanikan dari para peserta pertemuan organisasi kelanjutusiaan (ageing) se Asia Pasifik yang berlangsung di salah satu hotel Kawasan Sanur Bali.

Hari Jum’at siang (07/10) mendapat perintah harus ke Bali ada acara UI yang harus diliput. Sebetulnya masih banyak tugas yang harus diselesaikan di Kampus. Karena itu, kesempatan ini ditawarkan kepada orang lain barangkali ada yang berminat. Ternyata sampai hari Senin tidak ada yang mau. Maka dengan terpaksa penulis menyanggupi meliput acara tersebut. Pada senin siang itu juga harus segera memberikan nama sesuai KTP untuk dipesankan tiket yang akan berangkat hari Selasa.

Pada tanggal 11 hingga 13 Oktober sebetulnya ada dua kegiatan berlangsung yang berurutan. Kebetulan topiknya sama. Pertama kegiatan akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) yang berlangsung 11 – 12 Oktober dan kedua kegiatan pertemuan organisasi Usia lanjut (ageing) se Asia Pasifik. Karena keduanya membahas topik yang sama, maka kegiatannya pun dilakukan di tempat yang sama. Dihadiri para tamu yang agak sama juga. Misalnya saja ada Syamsuhidayat, Emil Salim, Taufik Abdullah, Bambang Hidayat, Sangkot Mardjuki, Edi Sedyawati, Mayling Oey, Mely G. Tan, Tribudi Rahardjo, suami istri Martha Tilaar, Sediono M. P. Tjondronegoro, Bunyamin, Eko Budihardjo dan lain-ain. Pada hari ketiga kegiatan kebetulan hadir Wakil Mendiknas Fasli Djalal.

Tanggal 11 Oktober purnama penuh di langit Bali. Menjelang magrib masyarakat Bali yang beragama Hindu melaksanakan upacara adat di pura-pura. Seperti juga di Jakarta kalau ada pengajian di salah satu mesjid dengan menghadirkan ustadz yang dikenal masyarakat, jalanan menjadi Macet. Demikian juga di Bali. Pura-pura yang terletak di pinggir jalan menjadi macet, lalu lintas jalan agak terganggu karena adanya konsentrasi massa yang membawa kendaraan untuk melaksanakan ibadah.Dalam beberapa hari ini udara Bali sangat panas. Konon katanya belum pernah turun hujan.

Tanggal 13 Oktober, udara pagi Bali terasa panas, matahari begitu cerah dan suasana jalanan di depan hotel tempat menginap sangat ramai di kawasan Denpasar Selatan ini. Akhir-akhir ini memang jalan-jalan di Denpasar sangat macet. Karena selain banyak orang yang mau berangkat kerja, turis-turis lokal dan mancanegara mulai hilir mudik. Setiap pagi menjelang shalat subuh, di depan hotel tempat menginap selalu saja ada dua hingga lima bis yang parkir, rombongan para pelajar dari Jawa yang baru sampai ke Bali dan akan melaksanakan shalat subuh. Kebetulan di sebelah hotel ada mesjid “Al Ikhlas” yang cukup besar di kawasan pantai Sanur.

Kegiatan pertemuan berlangsung tidak sesuai rencana. Agak terganggu sedikit karena, Fasli Jalal yang seharusnya memberikan sambutan mewakili Menteri Pendidikan, terlambat datang. Sehingga acara dimajukan. Ketika acara berlangsung, Fasli Jalal datang. Terpaksa acara dihentikan, memberikan kesempatan Wakil Mendiknas untuk berbicara. Usai Fasli jalal berbicara, acara dilanjutkan lagi dengan pembicara yang sebelumnya sudah bicara.

Pada saat itulah mulai terasa getaran. Lampu di atas ruangan mulai bergoyang. Tadinya pelan kemudian kencang disertasi dengan suara gemuruh seperti suara kapal yang terbang rendah. Getaran yang cukup kencang hanya berlangsung 30 detik saja. Tetapi membuat panik para peserta pertemuan. Mereka pergi berhamburan keluar ruangan gedung. Tribudi Rahardjo (Ketua pantia pelaksana pertemuan) dan Fasli Jalal (Wakil Mendiknas) yang duduk satu meja segera jongkok dan berlindung di bawah meja. Sementara pembawa acara tetap berdiri di dekat meja dimana Fasli Jalal dan Tribudi Rahardjo berlindung. Ketika yang lain berhamburan keluar, di salah satu meja (bundar) di pojok kanan sebelah depan ruangan pertemuan, masih berlindung dua orang Jepang. Setelah agak lama, ketika orang mulai masuk ruang pertemuan, barulah dua orang tersebut keluar dari bawah meja, sambil tetap melihat ke atas ruangan, untuk meyakinkan diri, bahwa gempa telah telah berakhir dan atap ruangan aman, tidak akan runtuh. Amin.

Itulah pengalaman yang tak akan terlupakan, tanpa sengaja telah merekam suasana kepanikan orang-orang saat terjadi gempa di Bali dengan kekuatan gempa mencapai 6,8 pada skala Richter pada pukul 11.20 WIT. Hanya dengan 30 detik saja. Jangan melihat besar dan kecilnya gempa serta kerusakan yang terjadi. Tetapi bagaimana suatu peristiwa yang tidak terduga dapat didokumentasikan. Itulah kebahagiaan sejati sebagai seorang dokumentator. Rekaman gempa selama 5 menit dapat di lihat di podcast web UI.(191011)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment