October 6, 2011

Ono Bom, Joko Solo Ojo Loyo

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:22 pm

Judul tulisan mengadaptasi dari satu artikel di Majalah Tempo puluhan tahun lalu “loko Solo Kok Loyo”. Joko Solo adalah sebutan untuk Walikota Solo untuk membedakan dengan Djoko Suyanto Menteri Polhukam atau Joko Santoso, mantan Rektor ITB kini Dirjen Dikti Kemendiknas. Atau Djoko Hartanto, mantan Ketua Senat Akademik UI.

Perkenalan dengan Joko Widodo atau lebih akrab dengan panggilan Jokowi bermula pada waktu peresmian pendirian Local Governance Watch (Logowa) Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI pertengahan tahun ini. Saat itu Jokowi diundang untuk menceritakan pengalamannya menata kota Solo. Setelah itu penulis juga melihat penampilannya di televisi dalam salah satu acara yang dipandu Tanri Abeng. Dalam dua kesempatan itu Djokowi bercerita bagaimana dia melakukan pendekatan dan berkomunikasi dengan masyarakat bawah. Tidak kurang dari limapuluh dua kali melakukan makan bersama dengan tigartusan pedagang kaki lima, sebelum akhirnya menyatakan maksud sebenarnya memindahkan para pedagang di jantung kota ke luar kota Solo. Dan ternyata sambutannya luar biasa. Para pedagang dengan sukarela mau pindah, bahkan dengan arak-arakan seperti mengantarakan penganten sunat. Di lain kesempatan walikota juga membuat gebrakan, dengan memberikan kartu jaminan kesehatan kepada warga masyarakat, untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis di puskesmas dan rumah sakit, mempermudah dan mempersingkat prosedur perijinan usaha, pembuatan KTP selesai satu hari dengan harga Rp 5.000 dan lain-lain. Hasilnya? Jokowi terpilih kembali sebagai walikota Solo untuk kedua kalinya dengan jumlah suara mencapai 98 %, tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Padahal ketika dia mengikuti pemilihan walikota untuk pertama kalinya harus mengeluarkan uang sampai Rp 13 Milyar. Jokowi pula yang berani menentang keinginan gubernur Jawa Tengah yang memberikan ijin kepada salah satu pengusaha untuk membuka supermarket di Solo. Karena dianggapnya justru akan melumpuhkan para pedagang kecil.

Kota Solo yang apik dan resik mulai dikenal masyarakat. Sehingga mulai dilirik dan menjadi salah satu tujuan wisata para pelancong dari dalam negeri dan bahkan para investor dari luar negeri. Kesuksesan menyelengarakan kongres PSSI untuk memilih ketua umum dengan aman dan lancar, menjadi salah satu bukti Solo memang pantas menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan seminar atau konferensi tingkat nasional maupun internasional.

Peristiwa bom bunuh diri di Solo (25/09), pastilah sangat mengagetkan semua orang Indonesia bahkan menarik perhatian kalangan internasional. Hal ini sangat merugikan bagi promosi kota solo sebagai tujuan wisata. Seperti juga kasus Bom Bali yang sempat menyurutkan kunjungan wisatawan, “goro-goro bom Solo” maka tidak pelak lagi perisitwa itu membuat orang jadi loyo untuk berwisata ke solo. Apakah Joko pun ikut loyo? Jangan karena “ono bom, Joko Solo loyo.” Maju terus Solo!