October 27, 2011

Separatisme

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:38 am

Dalam suatu kesempatan makan siang disela-sela pertemuan akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Sanur Denpasar Bali, pertengahan Oktober lalu, duduklah para pakar di satu meja Bundar. Ada ahli ekonomi, ahli pangan, ahli pendidikan, ahli bioteknologi, ahli astronomi, dan ahli kebudayaan. Diantara para ahli itu duduk menyempil seorang “anak bawang” (penulis).

Duduk satu meja dengan para ahli, memang suatu “kecelakaan” yang tidak disengaja. Gara-garanya, pakar ahli astronomi mengajak duduk di sebelahnya. Untuk menghormati ajakannya maka duduklah penulis disebelahnya. Pada mulanya meja itu sepi-sepi saja. Tetapi tiba-tiba seorang ahli ekonomi terkenal mengambil tempat duduk di depan penulis. Tidak lama kemudian, para ahli lain ikut nimbrung duduk dan mulailah obrolan meluncur dengan topik pembicaraan kesana kemari. Tidak terfokus. Mulai dari membicarakan Kantor Balai Pustaka di Jalan Wahidin yang sudah diambil Departemen Keuangan, sampai membicarakan buku-buku terbitannya hingga buku-buku karya Pramudya Anata Toer.

Ketika topik sampai kepada tata kelola pemerintahan sekarang, pembicaraan sampai juga kepada masalah separatisme yang akhir-akhir ini hangat menghiasi pemberitaan media massa. Salah seorang ahli yang duduk di meja menyatakan kekagetannya, ada satu daerah yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Sebelumnya ahli ini tidak pernah mendengar kabar atau berita daerah tersebut ingin mendirikan negara baru. Keheranan ahli ini juga didasarkan pada keadaan alam daerah tersebut yang tergolong miskin dan tidak tersedia infrastruktur yang memadai yang dapat meningkatkan roda perekonomian untuk menyejahterakan rakyat. Ahli ini tidak memasalahkan tentang keinginan untuk memisahkan diri, tetapi yang dikhawatirkan kalau memang terjadi, maka akan menambah jumlah negara-negara miskin di Dunia. Ahli ini kemudian menceritakan bagaimana PBB telah melakukan kesalahan membantu proses kemerdekaan Timor Leste. Setelah merdeka sekian puluh tahun ternyata kehidupan dan kesejahteraan masyarakatnya, tidak lebih baik daripada ketika berada dalam kesatuan NKRI. Sumberdaya alamnya tidak bisa diekplorasi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Dan saat ini negara tersebut masuk dalam kategori negara sangat miskin di dunia.

Lain lagi cerita seorang teman yang pernah bekerja di BPK Provinsi NAD. Bagaimana susahnya mengaudit keuangan pemerintah daerah Aceh. Banyak temuan di dapat, salah dalam hal tata kelola keuangan. Karena ternyata para tokoh GAM yang kini menjadi pejabat pemerintah daerah gaya hidupnya tergolong mewah sementara rakyatnya tetap saja menderita dan miskin.

Contoh yang dikemukakan di atas, menunjukkan betapa tidak mudahnya mengelola tata pemerintahan yang baik untuk menyejahterakan rakyat. Tidak semudah melakukan demo-demo, melontarkan kritik dan ancaman melakukan separatis. (271011)

October 26, 2011

Kalau Orang Bali Berwisata ke Jawa

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:21 pm

Ketika ada di Bali untuk mengikuti kegiatan akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Sanur Bali pertengahan oktober lalu, Setiap pagi menjelang shalat subuh, kerap terlihat berbis-bis rombongan wisata dari Jawa mampir ke mesjid melakukan di dekat tempat hotel menginap. Beberapa orang yang ditanyai, mereka para siswa berasal dari Blitar, Malang dan daerah Jawa Timur lainnya. Mereka berangkat sore hari dan tiba di Bali menjelang waktu subuh dan tempat yang pertama kali dituju yaitu Pantai Sanur. Setelah itu barulah menuju tempat wisata lainnya, seperti ke Tanah Lot, Pantai Kuta dan lainnya.

Siang ini (26/10), sehabis pulang dari Departemen Perindustrian di jalan Gatot Subroto Jakarta, menyaksikan penandatangnan kerjasama UI dengan BPPT nya Korea Selatan, terlihat puluhan bis diparkir dekat gedung Balaisidang UI Kampus Depok. Nomor plat mobilnya ternyata DK. Ternyata ada 300 an siswa dengan puluhan Guru pembimbing dari SMAN 7 Denpasar, melakukan kunjungan wisata ke Kampus Depok. Mereka mendapatkan penjelasan tentang seluk beluk yang berkaitan dengan pendidikan di UI, disampaikan staf Humas UI Bagian Eksternal. Sayangnya karena waktunya terbatas, mereka tidak sempat melihat lebih jauh keadaan kampus Depok. Konon katanya, setelah dari UI akan menuju ke Bogor. Bukan untuk melihat istana Bogor, melihat Kebun raya Bogor atau mencicipi asinan Bogor. Ternyata akan menuju satu pura yang cukup besar di kaki Gunung Salak.

Rombongan dari Bali ini datang kemarin. Sudah mengunjungi ITC Cempaka Mas dan Taman Mini Indonesia Indah. Setelah dari Bogor akan langsung menuju Bandung. Di Bandung tempat yang akan dituju yaitu ITB dan studio Trans TV. Usai menikmati suasana kota Bandung, rombongan akan menuju Yogyakarta. Setelah itu barulah pulang kembali menuju Bali. (“kembalikan Baliku Padaku”). Perjalanan memakan waktu seminggu. Kata seorang siswa peserta wisata, setiap peserta dipungut bayaran sebesar Rp 1,6 juta.

Rupanya perguruan tinggi, khususnya UI ternyata menjadi salah satu tujuan wisata para siswa. Tidak hanya dari Jawa, tetapi juga dari luar Jawa. Ditambah lagi dengan adanya “promosi” gonjang ganjing di UI, diduga semakin menambah daya tarik orang untuk berkunjung ke UI. Paling tidak ingin melihat perpustakaan yang katanya terluas di dunia dan pohon Baobab yang hanya ada di Kampus Depok. Tetapi sayangnya hal ini ternata belum dilirik para wira usahawan mahasiswa. Misalnya dengan membuat cendera mata yang dapat dibawa para wisatawan, atau memberikan jasa memandu keliling kampus Depok.(261011)

October 25, 2011

Menemukan Dokumen Lama

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:48 am

Kamis minggu lalu (20/10) ketika mencari berkas-berkas lama di lemari yang nyaris hampir dibuang, ditemukan bahan dokumentasi penting. Yaitu Buku tipis Sejarah universitas Indonesia yang diterbitkan Humas UI tahun 1967 dan kliping berita pengadilan mahasiswa UI yang terlibat malapetaka 15 Januari 1974 (MALARI). Tempo hari pernah juga menemukan buku lulusan UI dari tahun 1950 hingga 1975. Beberapa bagian dari isi buku lulusan itu sempat ditulis ulang dan dimuat di milis ini. Sebagai orang yang berkecimpung di bidang informasi, buku-buku tersebut sangat berharga sekali. Paling tidak bisa diinformasikan kepada generasi yang kemudian.

Beberapa waktu lalu sempat juga menemukan satu album foto hitam putih, kegiatan peringatan 10 tahun Arif Rahman Hakim gugur. Acara yang diselenggarakan di Student center kampus Salemba itu, menghadirkan pembicara A.H. Nasution. Waktu itu yang menjadi ketua Dewan Mahasiswa(DM) UI Dipo Alam. Beberapa aktivis mahasiswa UI lainnya juga tampak dalam album tersebut. Bahkan kalau tidak salah A.H. Nasution sempat melakukan pengguntingan pita sebagai tanda peresmian ruang kantin (kalau tidak salah) yang letaknya di bawah gedung student center. Beberapa waktu lalu saat ada acara halal bihalal alumni FMIPA, sempat bertemu dengan Dipo Alam dan menanyakan tentang kepemimpinan dia selama menjadi ketua DM UI. Seingatnya, menjabat Ketua DM UI dari tahun 1975 hingga 1976. Tahun 1977 sudah lulus dan sudah bekerja. Berarti Dipo Alam, menggantikan kepemimpinan Hariman Siregar yang ditahan karena terlibat peristiwa Malari. Tadina ingin bertanya lebih jauh tentang situasi dunia kemahasiswaan setelah peristiwa Malari. Tetapi tidak ada waktu. Namun dia menjanjikan untuk menceritakan pengalaman selama menjadi Ketua DM UI.

Pada saat soft launching Perpustakaan Pusat juga sempat ketemu Dipo Alam dan juga ketua DM UI IPB Mustafa Abubakar, menteri BUMN. Malahan secara khusus menyinggungnya dalam pidato yang disampaikan di depan umum dan menyatakan pertemuan waktu itu sebagai suatu reuni, mengingatkan kembali masa-masa masih aktif dalam dunia kemahasiswaan.Menarik juga ternyata beberapa menteri dalam satu kabinet dulunya, sama-sama aktivis.

Hari minggu kemarin (23/10), seorang teman bercerita bagaimana dia sempat dekat dengan mantan aktivis mahasiswa UI akhir tahun 1970 an dan menjadi salah seorang mantan penghuni asrama kampus kuning (tahanan Nirbaya?) di Bekasi. Bagaimana para aktivis kampus kuning itu setelah keluar tahanan banyak dibantu oleh Kolonel Eddy Nalapraya, (waktu itu) komandan Garnizun yang kemudian menjabat Pangdam Jaya dan dahulu menahan (melindungi?) para aktivis mahasiswa. Bahkan beberapa diantaranya dicarikan pekerjaan oleh Eddy Nalapraya. Hari senin kemarin(24/10) bertemu dengan seorang suami (mantan aktivis mahasiswa UI) yang beristrikan Guru Besar Fakultas Teknik UI. Dia bercerita bagaimana sepak terjang seorang menteri (yang kemudian dilengserkan) mantan aktivis mahasiswa satu perguruan tinggi negeri. Dari dulu memang dia sudah punya karakter begitu, katanya. Waktu teman-temannya ditahan, dia malahan bebas di luar dan jalan-jalan pergi keluar negeri. Jadi sebetulnya karakter orang, bisa dilihat sejak dia menjadi mahasiswa. Ketika dia menjadi pejabat atau pemimpin suatu lembaga/institusi, karakternya tidak akan banyak berubah. Jadi, kalau mau melihat kepemimpinan seseorang, telusuri kehidupannya sewaktu menjadi mahasiswa.(251011)

October 19, 2011

Merekam Gempa di Bali

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:24 pm

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan mendokumentasikan kegiatan gempa di Bali yang terjadi pada tanggal 13 Oktober lalu. Mungkin itulah satu-satunya video yang merekam kepanikan dari para peserta pertemuan organisasi kelanjutusiaan (ageing) se Asia Pasifik yang berlangsung di salah satu hotel Kawasan Sanur Bali.

Hari Jum’at siang (07/10) mendapat perintah harus ke Bali ada acara UI yang harus diliput. Sebetulnya masih banyak tugas yang harus diselesaikan di Kampus. Karena itu, kesempatan ini ditawarkan kepada orang lain barangkali ada yang berminat. Ternyata sampai hari Senin tidak ada yang mau. Maka dengan terpaksa penulis menyanggupi meliput acara tersebut. Pada senin siang itu juga harus segera memberikan nama sesuai KTP untuk dipesankan tiket yang akan berangkat hari Selasa.

Pada tanggal 11 hingga 13 Oktober sebetulnya ada dua kegiatan berlangsung yang berurutan. Kebetulan topiknya sama. Pertama kegiatan akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) yang berlangsung 11 – 12 Oktober dan kedua kegiatan pertemuan organisasi Usia lanjut (ageing) se Asia Pasifik. Karena keduanya membahas topik yang sama, maka kegiatannya pun dilakukan di tempat yang sama. Dihadiri para tamu yang agak sama juga. Misalnya saja ada Syamsuhidayat, Emil Salim, Taufik Abdullah, Bambang Hidayat, Sangkot Mardjuki, Edi Sedyawati, Mayling Oey, Mely G. Tan, Tribudi Rahardjo, suami istri Martha Tilaar, Sediono M. P. Tjondronegoro, Bunyamin, Eko Budihardjo dan lain-ain. Pada hari ketiga kegiatan kebetulan hadir Wakil Mendiknas Fasli Djalal.

Tanggal 11 Oktober purnama penuh di langit Bali. Menjelang magrib masyarakat Bali yang beragama Hindu melaksanakan upacara adat di pura-pura. Seperti juga di Jakarta kalau ada pengajian di salah satu mesjid dengan menghadirkan ustadz yang dikenal masyarakat, jalanan menjadi Macet. Demikian juga di Bali. Pura-pura yang terletak di pinggir jalan menjadi macet, lalu lintas jalan agak terganggu karena adanya konsentrasi massa yang membawa kendaraan untuk melaksanakan ibadah.Dalam beberapa hari ini udara Bali sangat panas. Konon katanya belum pernah turun hujan.

Tanggal 13 Oktober, udara pagi Bali terasa panas, matahari begitu cerah dan suasana jalanan di depan hotel tempat menginap sangat ramai di kawasan Denpasar Selatan ini. Akhir-akhir ini memang jalan-jalan di Denpasar sangat macet. Karena selain banyak orang yang mau berangkat kerja, turis-turis lokal dan mancanegara mulai hilir mudik. Setiap pagi menjelang shalat subuh, di depan hotel tempat menginap selalu saja ada dua hingga lima bis yang parkir, rombongan para pelajar dari Jawa yang baru sampai ke Bali dan akan melaksanakan shalat subuh. Kebetulan di sebelah hotel ada mesjid “Al Ikhlas” yang cukup besar di kawasan pantai Sanur.

Kegiatan pertemuan berlangsung tidak sesuai rencana. Agak terganggu sedikit karena, Fasli Jalal yang seharusnya memberikan sambutan mewakili Menteri Pendidikan, terlambat datang. Sehingga acara dimajukan. Ketika acara berlangsung, Fasli Jalal datang. Terpaksa acara dihentikan, memberikan kesempatan Wakil Mendiknas untuk berbicara. Usai Fasli jalal berbicara, acara dilanjutkan lagi dengan pembicara yang sebelumnya sudah bicara.

Pada saat itulah mulai terasa getaran. Lampu di atas ruangan mulai bergoyang. Tadinya pelan kemudian kencang disertasi dengan suara gemuruh seperti suara kapal yang terbang rendah. Getaran yang cukup kencang hanya berlangsung 30 detik saja. Tetapi membuat panik para peserta pertemuan. Mereka pergi berhamburan keluar ruangan gedung. Tribudi Rahardjo (Ketua pantia pelaksana pertemuan) dan Fasli Jalal (Wakil Mendiknas) yang duduk satu meja segera jongkok dan berlindung di bawah meja. Sementara pembawa acara tetap berdiri di dekat meja dimana Fasli Jalal dan Tribudi Rahardjo berlindung. Ketika yang lain berhamburan keluar, di salah satu meja (bundar) di pojok kanan sebelah depan ruangan pertemuan, masih berlindung dua orang Jepang. Setelah agak lama, ketika orang mulai masuk ruang pertemuan, barulah dua orang tersebut keluar dari bawah meja, sambil tetap melihat ke atas ruangan, untuk meyakinkan diri, bahwa gempa telah telah berakhir dan atap ruangan aman, tidak akan runtuh. Amin.

Itulah pengalaman yang tak akan terlupakan, tanpa sengaja telah merekam suasana kepanikan orang-orang saat terjadi gempa di Bali dengan kekuatan gempa mencapai 6,8 pada skala Richter pada pukul 11.20 WIT. Hanya dengan 30 detik saja. Jangan melihat besar dan kecilnya gempa serta kerusakan yang terjadi. Tetapi bagaimana suatu peristiwa yang tidak terduga dapat didokumentasikan. Itulah kebahagiaan sejati sebagai seorang dokumentator. Rekaman gempa selama 5 menit dapat di lihat di podcast web UI.(191011)

October 6, 2011

Ono Bom, Joko Solo Ojo Loyo

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:22 pm

Judul tulisan mengadaptasi dari satu artikel di Majalah Tempo puluhan tahun lalu “loko Solo Kok Loyo”. Joko Solo adalah sebutan untuk Walikota Solo untuk membedakan dengan Djoko Suyanto Menteri Polhukam atau Joko Santoso, mantan Rektor ITB kini Dirjen Dikti Kemendiknas. Atau Djoko Hartanto, mantan Ketua Senat Akademik UI.

Perkenalan dengan Joko Widodo atau lebih akrab dengan panggilan Jokowi bermula pada waktu peresmian pendirian Local Governance Watch (Logowa) Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI pertengahan tahun ini. Saat itu Jokowi diundang untuk menceritakan pengalamannya menata kota Solo. Setelah itu penulis juga melihat penampilannya di televisi dalam salah satu acara yang dipandu Tanri Abeng. Dalam dua kesempatan itu Djokowi bercerita bagaimana dia melakukan pendekatan dan berkomunikasi dengan masyarakat bawah. Tidak kurang dari limapuluh dua kali melakukan makan bersama dengan tigartusan pedagang kaki lima, sebelum akhirnya menyatakan maksud sebenarnya memindahkan para pedagang di jantung kota ke luar kota Solo. Dan ternyata sambutannya luar biasa. Para pedagang dengan sukarela mau pindah, bahkan dengan arak-arakan seperti mengantarakan penganten sunat. Di lain kesempatan walikota juga membuat gebrakan, dengan memberikan kartu jaminan kesehatan kepada warga masyarakat, untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis di puskesmas dan rumah sakit, mempermudah dan mempersingkat prosedur perijinan usaha, pembuatan KTP selesai satu hari dengan harga Rp 5.000 dan lain-lain. Hasilnya? Jokowi terpilih kembali sebagai walikota Solo untuk kedua kalinya dengan jumlah suara mencapai 98 %, tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Padahal ketika dia mengikuti pemilihan walikota untuk pertama kalinya harus mengeluarkan uang sampai Rp 13 Milyar. Jokowi pula yang berani menentang keinginan gubernur Jawa Tengah yang memberikan ijin kepada salah satu pengusaha untuk membuka supermarket di Solo. Karena dianggapnya justru akan melumpuhkan para pedagang kecil.

Kota Solo yang apik dan resik mulai dikenal masyarakat. Sehingga mulai dilirik dan menjadi salah satu tujuan wisata para pelancong dari dalam negeri dan bahkan para investor dari luar negeri. Kesuksesan menyelengarakan kongres PSSI untuk memilih ketua umum dengan aman dan lancar, menjadi salah satu bukti Solo memang pantas menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan seminar atau konferensi tingkat nasional maupun internasional.

Peristiwa bom bunuh diri di Solo (25/09), pastilah sangat mengagetkan semua orang Indonesia bahkan menarik perhatian kalangan internasional. Hal ini sangat merugikan bagi promosi kota solo sebagai tujuan wisata. Seperti juga kasus Bom Bali yang sempat menyurutkan kunjungan wisatawan, “goro-goro bom Solo” maka tidak pelak lagi perisitwa itu membuat orang jadi loyo untuk berwisata ke solo. Apakah Joko pun ikut loyo? Jangan karena “ono bom, Joko Solo loyo.” Maju terus Solo!