September 23, 2011

Amalnya Lebih Baik

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:37 am

Sekitar dua minggu lalu, ke rumah kedatangan seorang tamu dengan mengendarai sepeda motor. Berpakaian lusuh dengan muka kusut dan jalan dengan tertatih tatih. Kalau bertemu dengan orang ini, hati selalu dipenuhi dengan perasaan mendongkol dan berprasangka negatif. Tetapi karena masih dalam suasana lebaran, untuk menjaga silaturahim, sedapat-dapatnya memendam perasaan itu.

Puluhan tahun lalu, ketika masih berstatus mahasiswa, penulis mengenal seorang anak kecil yang biasa jualan majalah dan Koran di sekitar mesjid Arif Rahman Hakim (ARH) Kampus Salemba UI Jakarta. Dari jualan itulah dia banyak kenal dengan para aktifis mahasiswa dari berbagai fakultas. Perkenalan ini dia jalin terus sampai para aktifis mahasiswa yang biasa suka ke mesjid ARH, lulus dan membina karir di berbagai bidang baik di sektor swasta, pemerintahan maupun staf pengajar di UI.

Konon katanya, anak pengecer Koran/majalah ini orangtuanya asli Padang, tinggal di rumah kontrakan di bilangan Salemba Bluntas. Jiwa wiraswastanya menurun dari kedua orangtuanya. Seperti pada umumnya tabiat orang sebrang, terkesang songong, tidak mengenal anggah-ungguh adat orang Jawa/Sunda, orang yang baru mengenalnya akan menilai bertabiat sombong dan percaya diri yang begitu kuat. Raut mukanya selalu “kusut” seperti orang yang belum mandi. Sempat mengecap pendidikan tinggi di salah satu perguruan tinggi swasta, tetapi tidak selesai (DO).

Satu saat di akhir tahun 1980 an, dia ditawari untuk menjual buku alumni UI oleh salah seorang mantan aktivis kampus. Buku yang berisi daftar nama alumni UI dari berbagai fakultas sejak tahun 1970 an itu, terbilang cukup lengkap. Disitu dicantumkan alamat rumah dan kantor para alumni. Dari berjualan buku alumni inilah kehidupan dia sejahtera. Sempat mempunyai empat rumah di Jakarta, Bekasi dan Cikarang. Kemudian mempunyai istri. Mulailah malapetaka menimpa. Jualan buku alumninya tidak selaris dahulu, penghasilan semakin surut. Atas saran istrinya, rumah yang di Bekasi dan cikarang satu demi satu dijual untuk menutupi kebutuhan kehidupan sehari-hari.

Akhirnya dia berwiraswasta secara serabutan, menjuala buku-buku Islam, menjual pakaian/kaos dan lain-lain. Untuk mendapatkan modal, dia meminta bantuan kepada para alumni UI yang dia kenal sewaktu masih berjualan Koran/majalah di Kampus Salemba. Terkadang meminta bantuan untuk membeli obat ibunya yang sakit. Atau suatu waktu dia minta bantuan untuk membayar listrik yang sudah menunggak beberapa bulan. Satu kali minta bantuan untuk membayar cicilan motor, modal untuk mengojek. Bukan uangnya yang jadi masalah, tetapi cara memintanya yang memaksa serta selalu minta sesuai dengan jumlah yang dia kehendaki, yang membuat orang kesal. Hal ini juga yang dikeluhkan oleh teman-teman yang pernah membantunya. Karena cara-cara pemaksaan seperti itulah, teman-teman yang dulu suka membantunya, selalu menghindar kalau kedatangan dia ke kantor atau ke rumah. Satu saat dia pernah ditawari satu pekerjaan oleh salah seorang alumni UI. Tetapi karena gajinya dibawah upah minimum, dia menolaknya.

Suatu kali dia pernah bercerita, di Kampung istrinya di daerah Jawa Tengah, dengan bantuan modal sekedarnya, dia berhasil menggerakkan masyarakat untuk membangun sebuah mesjid, yang belum pernah ada sebelumnya. Kalau menilik secara lahiriah, pada dirinya tidak terlihat sebagai seorang muslim yang saleh. Tidak pernah terlihat pakai sarungan, memakai baju koko dan kopiah haji. Bahkan di jidatnya tidak terlihat titik atau benjolan hitam sebagai tanda orang sering bersujud shalat. Tetapi dia mampu menggerakkan masyarakat untuk membangun sebuah mesjid. Satu hal yang luar biasa. Penulis sendiri yang cukup berpendidikan, banyak bergaul dengan kalangan yang mengerti agama, banyak mempelajari tentang keislaman serta sering menghadiri ceramah agama belum tentu bisa membangun mesjid. Tetapi penulis yakin, kedekatan dia dengan komunitas mesjid kampus sewaktu kecil, banyak menginspirasi dia untuk beramal.

Orang yang paling baik di sisi Allah, adalah orang yang lebih banyak amalannya. Amalan inilah yang menenentukan seseorang di akhirat kelak kemudian hari, termasuk golongan manusia manakah kita ini. Di hari penghitungan nanti, manusia akan dinilai , apakah amalan baiknya lebih banyak daripada amalan tidak baiknya. Maka jika kita bertemu dengan orang lain, paling tidak inilah yang harus menjadi salah satu kriteria untuk melihat kualitas keimanan seseorang.(230911)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment