September 23, 2011

Gumilar Pernah Bercita-cita Jadi Dokter

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:54 pm

Tidak semua orang tahu kalau Prof.Dr. Der Soz Gumilar Rusliwa Somantri pernah bercita-cita menjadi dokter, seperti halnya pamannya (alm) Prof.dr. Udin Syamsudin, yang sempat menjabat Wakil Dekan Bidang Administrasi dan Keuangangan fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Tahun 2007 para mantan penghuni asrama mahasiswa Daksinapati Rawamangun mengadakan acara halal bihalal. Tempatnya di lantai dasar Gedung Pusat Administrasi Universitas Kampus Depok. Kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahun ini biasanya dihadiri para mantan penghuni lintas angkatan dan lintas fakultas. Jadi tidak memandang lagi mahasiswa UI angkatan tahun berapa. Ada pola komunikasi khas, yang justru dapat mempersatukan para mantan penghuni asrama daksinapati. Kalau seseorang menyapa dengan perkataan “Biisaaa!” kemudian yang disapanya menjawab dengan perkataan yang sama, maka dapat dipastikan keduanya adalah berasal dari kesatuan Korps asrama Daksinapati. Entahlah, apakah ada sapaan yang menjadi ciri khas dari penghuni asrama UI di Pegangsaan Timur dan Asrama Wismarini di Jatinegara.

Pada acara halal bihalal tahun 2007, Rektor UI berkesempatan hadir. kebetulan Rektor baru UI baru saja dilantik pada bulan Agustus 2007.Salah seorang mantan penghuni asrama Daksinapati yang cukup senior yaitu Nursyid Wonoprwiro, SH. Jabatan terakir sebelum pensiun (1988) sebagai Kepala Bagian Umum UI bercerita banyak tentang Rektor UI yang baru. Nursyid yang tinggal di Perumahan Dosen UI Ciputat, menjabat cukup lama sebagai Ketua RT di Kompleks itu. Dia mengetahui banyak tentang keluarga di lingungan Perumahan UI CIputat. Salah seorang diantaranya Prof.dr. Udin Syamsudin.

Menurut Nursyid, selepas lulus SMA dari wilayah Tasikmalaya, Gumilar mencoba peruntungan menjadi mahasiswa baru UI. Untuk itu, dia melakukan persiapan dengan mengikuti Bimbingan Tes yang dikelola Drs. (Med) Siky Mulyono di Jalan A.M. Sangaji Jakarta Pusat. Waktu itu bimbingan tes ini sangat dikenal di masyarakat Jakarta, salah satu bimbingan tes yang para siswanya banyak diterima di perguruan tinggi negeri terkenal di Indonesia. Ketika mengikuti Sipenmaru (Sistem Penerimaan Calon mahasiswa Baru), ternyata tidak berhasil masuk FKUI. Tahun berikutnya ikut lagi, gagal juga. Untunglah dia diterima di FISIP UI. Akhirnya dia berkarir di FISIP UI.

Kalau saja diterima di FKUI, Gumilar akan menjadi adik kelas (angkatan) Dekan FKUI sekarang ini (Dr.dr. Ratna Sitompul, Sp,M). Seperti diketahui hirarkis senioritas di FKUI sangat kental dan ketat sekali. Sehingga seseorang dalam usia muda, tidak mudah untuk menjadi orang nomor satu di FKUI apalagi di UI, walaupun otaknya cemerlang atau menonjol dalam bidang keahliannya. Untunglah memilih disiplin Ilmu Sosial, satu bidang ilmu yang sangat luas dan masih memerlukan banyak ahli. Tetapi yang jelas, Jika Gumilar berkutat di bidang ilmu kedokteran, dapat dipastikan tidak akan bisa menjadi Rektor UI. Itulah barangkali suratan nasib. Gagal di satu bidang terbuka kemungkinan peluang keberhasilan di bidang lain. (230911)

Amalnya Lebih Baik

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:37 am

Sekitar dua minggu lalu, ke rumah kedatangan seorang tamu dengan mengendarai sepeda motor. Berpakaian lusuh dengan muka kusut dan jalan dengan tertatih tatih. Kalau bertemu dengan orang ini, hati selalu dipenuhi dengan perasaan mendongkol dan berprasangka negatif. Tetapi karena masih dalam suasana lebaran, untuk menjaga silaturahim, sedapat-dapatnya memendam perasaan itu.

Puluhan tahun lalu, ketika masih berstatus mahasiswa, penulis mengenal seorang anak kecil yang biasa jualan majalah dan Koran di sekitar mesjid Arif Rahman Hakim (ARH) Kampus Salemba UI Jakarta. Dari jualan itulah dia banyak kenal dengan para aktifis mahasiswa dari berbagai fakultas. Perkenalan ini dia jalin terus sampai para aktifis mahasiswa yang biasa suka ke mesjid ARH, lulus dan membina karir di berbagai bidang baik di sektor swasta, pemerintahan maupun staf pengajar di UI.

Konon katanya, anak pengecer Koran/majalah ini orangtuanya asli Padang, tinggal di rumah kontrakan di bilangan Salemba Bluntas. Jiwa wiraswastanya menurun dari kedua orangtuanya. Seperti pada umumnya tabiat orang sebrang, terkesang songong, tidak mengenal anggah-ungguh adat orang Jawa/Sunda, orang yang baru mengenalnya akan menilai bertabiat sombong dan percaya diri yang begitu kuat. Raut mukanya selalu “kusut” seperti orang yang belum mandi. Sempat mengecap pendidikan tinggi di salah satu perguruan tinggi swasta, tetapi tidak selesai (DO).

Satu saat di akhir tahun 1980 an, dia ditawari untuk menjual buku alumni UI oleh salah seorang mantan aktivis kampus. Buku yang berisi daftar nama alumni UI dari berbagai fakultas sejak tahun 1970 an itu, terbilang cukup lengkap. Disitu dicantumkan alamat rumah dan kantor para alumni. Dari berjualan buku alumni inilah kehidupan dia sejahtera. Sempat mempunyai empat rumah di Jakarta, Bekasi dan Cikarang. Kemudian mempunyai istri. Mulailah malapetaka menimpa. Jualan buku alumninya tidak selaris dahulu, penghasilan semakin surut. Atas saran istrinya, rumah yang di Bekasi dan cikarang satu demi satu dijual untuk menutupi kebutuhan kehidupan sehari-hari.

Akhirnya dia berwiraswasta secara serabutan, menjuala buku-buku Islam, menjual pakaian/kaos dan lain-lain. Untuk mendapatkan modal, dia meminta bantuan kepada para alumni UI yang dia kenal sewaktu masih berjualan Koran/majalah di Kampus Salemba. Terkadang meminta bantuan untuk membeli obat ibunya yang sakit. Atau suatu waktu dia minta bantuan untuk membayar listrik yang sudah menunggak beberapa bulan. Satu kali minta bantuan untuk membayar cicilan motor, modal untuk mengojek. Bukan uangnya yang jadi masalah, tetapi cara memintanya yang memaksa serta selalu minta sesuai dengan jumlah yang dia kehendaki, yang membuat orang kesal. Hal ini juga yang dikeluhkan oleh teman-teman yang pernah membantunya. Karena cara-cara pemaksaan seperti itulah, teman-teman yang dulu suka membantunya, selalu menghindar kalau kedatangan dia ke kantor atau ke rumah. Satu saat dia pernah ditawari satu pekerjaan oleh salah seorang alumni UI. Tetapi karena gajinya dibawah upah minimum, dia menolaknya.

Suatu kali dia pernah bercerita, di Kampung istrinya di daerah Jawa Tengah, dengan bantuan modal sekedarnya, dia berhasil menggerakkan masyarakat untuk membangun sebuah mesjid, yang belum pernah ada sebelumnya. Kalau menilik secara lahiriah, pada dirinya tidak terlihat sebagai seorang muslim yang saleh. Tidak pernah terlihat pakai sarungan, memakai baju koko dan kopiah haji. Bahkan di jidatnya tidak terlihat titik atau benjolan hitam sebagai tanda orang sering bersujud shalat. Tetapi dia mampu menggerakkan masyarakat untuk membangun sebuah mesjid. Satu hal yang luar biasa. Penulis sendiri yang cukup berpendidikan, banyak bergaul dengan kalangan yang mengerti agama, banyak mempelajari tentang keislaman serta sering menghadiri ceramah agama belum tentu bisa membangun mesjid. Tetapi penulis yakin, kedekatan dia dengan komunitas mesjid kampus sewaktu kecil, banyak menginspirasi dia untuk beramal.

Orang yang paling baik di sisi Allah, adalah orang yang lebih banyak amalannya. Amalan inilah yang menenentukan seseorang di akhirat kelak kemudian hari, termasuk golongan manusia manakah kita ini. Di hari penghitungan nanti, manusia akan dinilai , apakah amalan baiknya lebih banyak daripada amalan tidak baiknya. Maka jika kita bertemu dengan orang lain, paling tidak inilah yang harus menjadi salah satu kriteria untuk melihat kualitas keimanan seseorang.(230911)