September 16, 2011

Wisuda Tempo Dulu

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:08 am

Skripsi yang kujuduli Tarumanagara: Pertemuan Dua Kebudayaan itu, sudah selesai kususun sekitar bulan Juni 1964. Dengan demikian, kami – aku dan lima orang lain yang harus ujian – sudah siap diuji sekitar bulan Juli 1964 dan dapat mengikuti upacara wisuda di akhir September. Jurusan sudah menentukan tanggal ujian, kami semua sudah bersiap-siap menempuh ujian. Tetapi dua hari menjelang waktunya, kami diberi tahu, ujian terpaksa diundurkan. Semua penguji, bersama dengan hampir seluruh dosen Jurusan Sejarah dan Purbakala harus menghadiri sidang-sidang Panitia Pengisian Diorama Monumen Nasional. Akhirnya ujian dilangsungkan pada bulan Desember 1964.

Sarjana Arkeologi angkatanku mungkin patut dicatat dalam hal keanehan atau keunikannya. Setelah kami semua siap dengan skripsi dan berdasarkan firasat akan lulus ujian, nama kami dimasukkan dalam daftar lulusan tahun 1964 itu. Walaupun diundur, kami masih yakin bahwa ujian akan dapat berlangsung setelah kami pulang dari penggalian di Gilimanuk dan sebelum hari wisuda di akhir bulan September. Karena itu ketika, ketika Benny (Benny H. Hoed, sekarang guru besar emeritus) dari panitia wisuda meminta nama calon sarjana dari Jurusan Arkeologi, aku sampaikan saja nama keenam orang itu. Namun aku berpesan kepadanya, harap diperiksa lagi apakah kami benar-benar sudah ujian sebelum wisuda itu. Rupanya karena kesibukannya, Benny tidak sempat (atau lupa?) melaksanakan yang kuminta itu. Hasilnya, nama kami muncul sebagai sarjana di tahun 1964 itu. Padahal kami baru berhak mengikuti wisuda di tahun berikutnya yang dilangsungkan di Ciputat karena kami baru sampai ke Jakarta bertepatan dengan saat wisuda berlangsung. Nama kami pun terdaftar lagi sebagai wisudawan tahun 1965 sehingga kami muncul sebagai lulusan dua tahun berturut-turut.

Untuk menerima ijazah secara simbolis, sudah diputuskan dua orang lulusan. Lulusan Perempuan Pujiastuti Suratno yang kemudian lebih terkenal sebagai Tuti Indra Malaon dari Sastra Inggris, sedangkan lulusan laki-lakinya sahabat karibku yang bernama Munadi Patmadiwiria alias Mang Alit dari Sastra Indonesia. Namun, menjelang acara penyampaian ijazah itu berlangsung, Tuti mengajukan keberatan kepadaku. Katanya, masa “jodohnya” orang yang tinggi badannya tidak sampai sepundaknya. Lalu ia berkata, sebaiknya aku saja yang menjadi wakil sarjana laki-lakinya. Akhirnya, ketika wakil FSUI diminta maju untuk menerima tabung ijazah dan selempang sarjana dari Pak Kun (Kuncaraningrat.pen) sebagai dekan, kami berdualah yang maju. Maaf ya, Mang Alit. Ini permintaan Si Nenek (julukan kami untuk Tuti setelah ia bermain sebagai seorang nenek dalam sebuah pementasan).

Sampai saat itu, kesarjanaan belum ditandai dengan pemakaian toga seperti yang berlaku kemudian. Para sarjana hanya berpakaian sopan, boleh pakai jas, boleh berbaju batik, tapi harus bersepatu. Lalu dekan tiap fakultas memanggil para wakil lulusan fakultasnya untuk menerima tabung ijazah dan selempang kuning yang secara langsung dikenakan oleh dekan ke bahu wakil lulusan. Itu saja. (160911) (Mengutip dari buku memoar Ayatrohaedi, “65=67 Catatan Acak-acakan dan Cacatan Apa Adanya” penerbit Pustaka Jaya, 2011)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment