September 14, 2011

Kampus Depok dan Demo-demo-an

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:33 pm

Kalau saja kampus Depok bisa bicara, pasti dia akan cerita panjang lebar apa saja yang terjadi sejak diresmikan pada 5 September 1987. Sayangnya dia hanya menjadi saksi bisu atas peristiwa yang terjadi selama ini. Seperti juga mayat korban salah satu tindakan kriminal, dia tidak akan bisa bicara apa-apa, jika tidak ada ahli forensik yang menelaah keadaan korban yang kemudian disimpulkan dalam visum et refertum. Mungkin demikian pula, perlu ada orang yang bisa menceritakan tentang peristiwa apa saja yang terjadi di dalam kampus.

Sudah amat kerap terjadi berbagai peristiwa demonstrasi yang dilakukan para mahasiswa dalam menanggapi berbagai peristiwa. Baik peristiwa yang menyangkut kehidupan di kampus, maupun menyikapi peristiwa yang terjadi di luar lingkungan kampus. Tetapi demo-demo itu hanya terbatas menarik perhatian warga kampus saja. Berbeda kalau demo itu dilakukan di Kampus Salemba. Biasanya menarik warga luar kampus untuk melihat, karena dekat dengan jalanan umum. Sehingga tidak tertutup kemungkinan warga luar kampus ikut kegiatan demo dan melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak bisa dikendalikan. Konon katanya, itulah salah satu alasan kampus UI pindah ke Depok. Kalau melakukan aksi-aksi demonstrasi tidak akan menarik perhatian warga di luar kampus, sehingga aksi demo pun bisa dikendalikan dan tidak terjadi tindakan destruktif.

Tetapi pernah terjadi ada demonstrasi yang bisa melibatkan masa cukup banyak dan melibatkan semua lapisan warga kampus, baik dosen, mahasiswa maupun karyawan. Yaitu demonstrasi menjelang kejatuhan rezim Orde Baru dan munculnya Orde Reformasi (1998). Semua komponen bersama-sama melakukan demonstasi (dalam kampus Depok). Ada satu demonstrasi, dimana orasi-orasi berlangsung disampaikan oleh pendemo. Seorang Pendi (pegawai FISIP UI) bisa berdampingan melakukan orasi bersama Guru Besar Fakultas Ekonomi Prof.Dr. Sri-Edi Swasono. Kalau dalam kehidupan normal sehari-hari mana mungkin seorang pegawai bisa sejajar bicara dengan seorang profesor dalam suatu forum.

Masih dalam suasana demonstrasi reformasi. Sautu kali rombongan mahasiswa digiring menuju ke garbatama, wilayah kampus yang berbatasan dengan jalanan umum. Di situ, di luar pagar kuning UI sudah siap siaga polisi anti huru hara lengkap dengan tameng dan pentungan serta helm pelindung. Para demonstran diperintahkan untuk duduk di jalanan. Antara para demonstran dengan polisi hanya dipisahkan pagar kuning. Cukup lama juga suasana tegang terjadi di garbatama tersebut. Alhamdulillah, tidak terjadi insiden yang membuat kedua kelompok bentrok. Diantara para mahasiswa yang melakukan demonstrasi tersebut terlihat seseorang yang juga sibuk mengawasi jalannya kegiatan demo. Dia itu adalah Hikmahanto, dosen muda Fakultas Hukum UI. Kini sudah Profesor, salah seorang pakar hubungan internasional.

Dalam kesempatan lain demonstrasi Reformasi di dalam kampus Depok, berlangsung orasi di luar gedung Balairung mengambil tempat di halaman parkir yang dekat ke jalan. Ada panggung sederhana di atas bangunan tempat menyimpan diesel cadangan untuk menyumplai listrik ke Balairung. Pada kesempatan itu, Amin Rais melakukan orasinya dengan didampingi Faisal Basri (dosen FEUI). Dari orasi di mimbar inilah nama Faisal Basri mulai dikenal masyarakat umum, bahkan kemudian diajak bergabung oleh Amin Rais merintis medirikan Partai Amanat Nasional (PAN) walaupun akhirnya Faisal Basri mengundurkan diri keluar dari PAN.

Siang ini (14/09) di Aula Fakultas Ekonomi Majelis Wali Amanat (MWA) UI mengundang komponen warga UI untuk mendengarkan hasil pertemuan Mendiknas dengan MWA UI, pimpinan UI, para Dekan yang berlangsung Selasa malam (13/09) berkaitan dengan kekisruhan yang terjadi di UI. Pada kesempatan itu juga Prof. Hikmahanto akan memaparkan beberapa aspek yang berkaitan dengan hukum. Sementara Faisal Basri akan melakukan orasi. Ini adalah babak baru perkembangan yang terjadi di UI.(140911)

Melihat Kembali Peresmian Kampus Depok

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:32 am

Sudah lama ingin melihat saat kampus UI diresmikan Presiden 5 September 1987. Baru pagi ini mempunyai kesempatan. Ada beberapa hal menarik yang barangkali tidak diketahui orang banyak. Beruntung waktu itu bisa merekam dalam bentuk video, tetapi karena sudah terlalu lama, beberapa bagian pidato dan gambar ada yang tidak jelas. Tetapi pada umumnya masih bisa melihat gambar orang-orang yang hadir pada saat acara tersebut.

Dalam pidatonya, Rektor UI Prof.Dr. Sujudi menyatakan hingga thun 1984, UI menempati kampus yang luasnya 15 hektar, terletak di Salemba, Pegangsaan Timur dan Rawamangun. Waktu itu sudah ada 12 Fakultas dengan 48 program studi dan 7 program diploma. Luas kampus Depok 312 hektar sebagian wilayah kampus berada di wilayah Jakarta (75 hektar). Bangunan untuk gedung-gedung berada di wilayah Depok. Untuk mencitrakan identitas Keindonesiaan, bentuk bangunan tiap-tiap fakultas disesuaikan dengan arsitektur rumah-rumah di seluruh Nusantara, seperti rumah penduduk asli Kalimantan, Baduy/Kanekes, Jawa Barat, Jawa tengah dan lain-lain. Lahan kampus seluas 138 hektar diperuntukkan hutan kota untuk penghijauan dan penghasil udara yang bersih. Gubernur Jawa Barat Yogie S. Memet yang juga mewakili Gubernur DKI Jakarta dalam pidatonya menyatakan Daerah Botabek di Jawa Barat dipersiapkan untuk menjadi penyangga perkembangan pembangunan yang terjadi di Ibukota, termasuk pembangunan kampus baru UI di Depok. Untuk mengantisipasinya telah ada kerjasama antara pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Provinsi DKI Jakarta. Sementara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan mewakili warga UI menyatakan terima kasih secara khusus kepada Presiden RI dengan peresmian Kampus baru UI Depok. Kampus Baru ini akan mendorong peningkatan tugas Tridharma Perguruan tinggi dan kualitas pendidikan.

Dalam amanatnya, Presiden RI Soeharto merasa berbahagia dengan adanya kampus baru UI. Dengan adanya kampus baru ini diharapkan UI dapat meningkatkan dharma baktinya bagai bangsa dan negara, mendorong peningkatan pengembangan ilmu dan teknologi untuk pembangunan. Pemerintah menyadari akan amanat yang tertuang pada Pembukaan UUD 1945 (mencerdaskan kehidupan bangsa). Diharapkan UI dapat meningkatkan produk lulusannya dan ambil bgian salam pembangunan yang adil, makmur dan lestari. Setelah selesai pidato dengan didampingi Mendikbud, Rektor UI, Gubernur Jawa Barat dan DKI Jakarta menekan tombol, terdengar bunyi sirine, lalu layar yang menutupi dinding di bagian panggung sedikit-demi sedikit terbuka, terlihatlah lambang makara UI yang berwarna kuning keemasan. Kemudian Presiden membubuhkan tanda tangannya pada prasasti (yang kemudian akan diletakkand di ruang Balai Kirti, Lantai 1 gedung Rektorat).

Acara selanjutnya ramah tamah. Tamu para undangan mengadakan resepsi di lantai dua, sementara rombongan presiden dan tamu VIP menuju ke lantai 9 (Ruang Senat) untuk ramah tamah dan rehat sejenak. Pada saat rehat itu, Rektor UI menyerahkan pin berbentuk makara UI yang terbuat dari emas untuk presiden dan Ibu negara. Itulah untuk pertama kalinya pin makara diberikan kepada seseorang yang sangat berjasa kepada UI. Sementara Rektor UI sendiri pun belum mendapatkan pin emas makara tersebut. (Selang beberapa waktu kemudian, konon menurut kabar yang belum dikonfirmasikan, UI ingin memberikan gelar doctor honoris causa dalam bidang ilmu politik kepada Presiden Suharto, tapi ditolaknya dengan halus).

Setelah rehat, Presiden beserta Nyonya melakukan peninjauan keliling kampus Depok yang hanya ditemani beberapa orang saja. Sempat juga melihat-lihat rumah kos-kosan mahasiswa di wilayah sekitar desa Kukusan. Rumah kos-kosan itu namanya Rumah Pondokan Tumbuh (RPT) yang dibangun oleh Yayasan Supersemar, salah satu yayasan dimana Presiden Suharto duduk sebagai ketua Dewan penyantun. Yayasan ini pula yang memberikan beasiswa bagi para siswa/mahasiswa di seluruh Indonesia.

Pada acara peresmian kampus ini pula, berkumpul beberapa mantan rektor dan istri rektor, yaitu Nyonya Soemantri Brodjonegoro, Nyonya Nugrohon Notosusanto, Prof. dr. Syarif Thayeb, Prof.Dr. Mahar Mardjono. Ada juga aktris film yang hadir, yaitu Christine Hakim. Para hadirin yang berada di Balairung, usai acara peresmian dihibur para artis dan penyanyi alumni UI , antara lain yaitu Kasino (FISIP), Pepeng (FPsi), Tety Manurung (FKG), Tika Bisono. Ada hal yang menarik juga yang mungkin perlu diketahui generasi sekarang ini, pada saat hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya dan para mahasiswa baru UI menyanyikan lagu generang UI, yang bertindak sebagai dirigen adalah Drs. Max Rukmarata. Inilah sebenar-benarnya dirigen UI yang memimpin pada setiap acara resmi di UI (waktu itu).

Atas inisiatif sendiri, penulis mengajukan usul supaya acara persemian ada dokumentasi video. Waktu orang-orang masih terfokus untuk melakukan dokumentasi foto atau reporter tulis. Dengan modal kamera video JVC pinjaman dari seorang paman, akhirnya penulis dimasukkan dalam kepanitiaan humas UI. Sementara teman-teman penulis lainnya turun meliput atas nama Surat Kabar Kampus (SKK) Warta UI. Ada Satrio Arismunandar, Riza Primadi, dr. Sony Wreksono. Terlihat juga Fotografer majalah Tempo Tegus Suryanto Jamal, wartawan Tempo alumni FISIP, Bunga C. Kedjora.

Percaya tidak percaya, ada isu yang beredar di kalangan kecil staf pengajar UI, usai peresmian Kampus Depok, beberapa orang menduduki jabatan lebih tinggi dari jabatan sebelumnya. Sebutlah ketua Lemtek UI (Konsultan yang mengawasi dan bertanggung jawab terhadap pembangunan kampus Depok) Ir. Todung Barita Lumban Radja, M.Sc, selang bebarapa waktu kemudian menjadi Dekan Fakultas Teknik UI. Gubernur Jawa Barat menjadi Menteri Dalam Negeri, Orang PU yang bertanggung jawab dengan pembangunan Kampus Depok, Radinal Mochtar menjadi Menteri Pekerjaan Umum. Rektor UI menjadi Menteri Kesehatan. Tukang dokumentasi video? Alhamdulillah yah, dari status mahasiswa bisa selesai juga jadi sarjana.(1409110)