September 13, 2011

Kampus Depok Tempo Dulu

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:11 am

5 September 1987, peresmian kampus UI di Depok, atau waktu itu disebut Kampus Baru UI. Baru tujuh fakultas yang secara resmi mengadakan perkuliahan di Depok, yaitu Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Psikologi (FPsi), Fakultas Sastra (FS) dan Fakultas Hukum (FH). Sedangkan fakultas lainnya yang masih mengadakan kegiatan perkuliahan di Kampus Salemba yaitu Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Kedokteran Gigi, Program Pascasarjana UI serta Fakultas Kedokteran, dan di Kampus Pegangsaan Timur (Ilmu Kedokteran Komunitas dan Mikrobiologi).

Waktu itu, bulan September masih belum ada hujan, Tanah seputar kampus terlihat merah, rumput dan pepohonan masih belum tumbuh. Danau Kenanga yang dikelilingi bangunan mesjid, balairung dan gedung rektorat boleh dikatakan kering, airnya menyusut sampai ke dalam, sehingga bentuk danau seperti cekungan seperti bekas penggalian pasir di daerah Tanggerang tahun 1980 an. Supaya tidak terlihat kering kerontang, konon katanya panitia peresmian pembangunan kampus Depok sampai mengangkut bertruk-truk air untuk mengurangi cekungan danau. Padahal dahulu sebelum menjadi kampus UI, danau ini tidak pernah kekurangan air. Seputar danau ditumbuhi rerumputan dan pepohonan liar yang tingginya mencapai dua meter. Inilah surga bagi burung belibis dan blekok dan menjadi tempat mangkal serta sumber pencaraian makanan unggas tersebut.

Pintu masuk utama ke kampus masih melalui pintu gerbang garbatama yang dekat gedung sekolah, belum ada jembatan layang (karena masih ada satu rumah yang masih tetap bertahan, yang meminta ganti rugi sebesar 1 milyar, sehingga dikenal “gubuk satu milyar”). Kendaraan dari arah depok yang akan menuju ke arah Pasar Minggu harus melintasi rel kereta apa di dekat jalan utama ke kampus Depok. Begitu pula bis kuning (bikun) belum ada. Sarana transportasi dari pintu gerbang utama ke dalam kampus masih dilayani angkot Daihatsu/Suzuki yang berwarna merah dan harus membayar satu kali jalan Rp 50. Stasiun UI sudah berfungsi, walaupun masih sangat sederhana. Begitu pula stasiun pondok Cina, yang memang sudah ada sejak sebelum UI ada di Depok. Bahkan jalan stasiun pondok Cina inilah sebenar-benarnya jalan utama penduduk yang menghubungkan lalu lintas dari margonda raya menuju Kukusan. Jalan ini juga uratnadi lalu lintas para mahasiswa/dosen/karyawan Politeknik Negeri Jakarta yang telah mendiami kampus Depok sejak tahun 1982. Sebetulnya ada penanda khusus jalan ini, di dekat gedung biru sekarang ini tumbuh pohon waru yang batang pohonnya miring sehingga agak menghalangi jalan. Tetapi itulah ciri khas dari jalan stasiun pondok cina ini.

Sepanjang danau mahoni dan puspa yang memanjang mulai dari belakang gedung pusgiwa hingga dekat belakang pusat studi Jepang/belakang Fakultas ekonomi, dulunya berupa lembah persawahan yang dikelola penduduk setempat yang dulu tinggal di kawasan kampus Depok. Ada juga persawahan di dekat hutan Fakultas Teknik, yang terletak di lembah juga. Sehingga pada waktu itu, lengkaplah sudah sarana yang ada di kampus Depok, mulai dari sarana pendidikan, ada danau, ada hutan, ada sawah hingga sarana untuk berisitrahat selama-lamanya (pekuburan).

Pada waktu peresmian kampus Depok oleh Presiden Soeharto di Balairung dihadiri banyak menteri dan pejabat penting di republik ini. Bahkan dihadiri juga para duta besar negara sahabat. Seperti biasanya kalau suatu acara dihadiri RI 1 penjagaan superketat, berbagai kemungkinan dikemukakan. Pihak keamanan presiden sampai bertanya kepada panitia, bagaimana persiapan yang dilakukan, kalau atap balairung roboh. Mereka berpikir sampai ke sana karena melihat di atas gedung berseliweran besi-besi melintang yang beratnya puluhan ton. Ada insiden kecil terjadi di pintu gerbang utama dekat stasiun UI. Seperti biasanya pihak protokoler dan keamanan kampus memeriksa undangan yang dibawa para tamu. Kendaraan pejabat yang ditumpangi Panglima ABRI Jenderal Benny Moerdani pun tidak terkecuali diperiksa juga. Setelah pemeriksaan selesai ternyata mobil balik arah ke Jakarta. Apa yang terjadi? Ternyata ajudannya lupa membawa undangan, ketika ditanyakan pihak panitia tidak bisa menunjukkan undangan tersebut. Panitia sebetulnya mempersilahkan mobil terus menuju Balairung, tetapi Benny Moerdani bersikeras untuk pulang saja. (120911)