September 12, 2011

Makilah eh…Makalah

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:05 am

Beberapa orang mahasiswa FSUI telah kukenal sebelum aku menjadi mahasiswa. Perkenalan itu terjadi karena kegiatanku sebagai pengarang. Kami sudah agak sering bertemu dalam kegiatan-kegiatan kepengarangan. Salah seorang yang sudah agak kukenal itu adalah Nugroho Notosusanto. Melalui perkenalan itu aku menyapanya “Mas Nug”. Kebiasaan itu berlanjut ketika kami bertemu lagi di FSUI. Bahkan terus berlanjut ketika ia sudah menjadi dosen dan aku termasuk mahasiswa yang mengikuti mata kuliahnya.

Setelah lulus (1961) Nugroho memperdalam pengetahuannya mengenai sejarah ke Inggris. Sepulang dari sana, ia mengajarkan mata kuliah baru yang sebelumnya tidak pernah diajarkan: Teori dan Metod Sejarah, dan Filsafat Sejarah. Alasannya mengapa kedua mata kuliah itu tidak diajarkan, dapat ditebak, tidak atau belum ada tenaga pengajarnya. Maka, agar dapat mengajarkan kedua mata kuliah itu, Mas Nug dikirim ke Inggris segera setelah lulus sarjana. Banyak yang mengira bahwa Mas Nug mahasiswa Jurusan Sejarah. Padahal bukan. Ia bukan mahasiswa sejarah, karena ketika ia pertama kali mendaftarkan diri sebagai mahasiswa, Jurusan Sejarah belum dibuka. Jika ia mengambil sejumlah mata kuliah sejarah, hal itu lebih merupakan jalan keluar terbaik yang dipilihnya.

Pada masa awal kegiatan akademis di Fakultet Sastra dan Filsafar, hanya ada empat jurusan yang tersedia. Jurusan-jurusan itu adalah Sastra Indonesia, Ilmu Purbakala dan Sejarah Kuna Indonesia, Sastra Inggris dan Sastra Cina. Ketika Mas Nug mendaftarkan diri, ia mendaftar sebagai mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia. Pada masa awal itu, mata kuliah di jurusan itu, lebih cenderung mendidik mahasiswa menjadi ahli filologi. Karena filologi berkaitan erat dengan bahasa, baik yang modern maupun yang kuna, mahasiswa Sastra Indonesia wajib mengikuti mata kuliah bahasa-bahasa itu. Ada bahasa Arab, Bahasa Jawa Kuna, bahasa Sansekerta, bahasa Melayu, dan juga bahasa Jawa. Bahasa Sunda pun dijadikan mata kuliah pilihan. Dosennya mula-mula M.A. Salmun, pengarang gogoda ka nu Ngarora ‘Godaan untuk kaum Muda’ (1951) yang dimaksudkannya sebagai “lanjutan” Baruang ka nu Ngarora ‘Racun untuk Kaum Muda’ karya D.K. Ardiwinata (1914). Setelah berhenti, ia digantikan oleh Rusman Sutiasumarga. Tidak ada pilihan, karena pada masa itu yang berlaku adalah kurikulum tunggal. Jika tidak lulus dalam satu mata kuliah, mahasiswa dinyatakan tidak naik tingkat dan harus mengulang mata kuliah yang tidak lulus itu pada tahun berikutnya. Masih lebih baik, karena di beberapa tempat mahasiswa yang tidak naik tingkat itu diwajibkan mengulang semua mata kuliah di tingkat yang sama.

Rupanya Mas Nug termasuk mahasiswa yang tidak siap menerima semua mata kuliah bahasa itu sama baiknya. Kata teman-teman seangkatan dan teman-teman dekatnya, selalu ada saja mata kuliah yang diujikan tidak memperoleh angka minimal untuk dinyatakan lulus, dan itu mengakibatkan ia harus mengulang di tingkat yang sama. Walaupun yang tidak lulus mungkin hanya satu atau dua mata kuliah, tetap saja tahun berikutnya mahasiswa demikian itu akan terdaftar untuk tingkat yang sama.

Mas Nug terdaftar sebagai mahasiswa FSUI tahun 1952. Di lingkungan kampus Mas Nug tercatat sebagai penggiat di bidang kesusasteraan. Apalagi setelah kemudian terpilih sebagai ketua Senat Mahasiswa (SM). Salah satu kegiatan tahunan yang terlaksanakan setiap tahun semasa Mas Nug menjadi mahasiswa adalah simposium sastera. Dalam simposium yang lingkupnya nasional itu, banyak tampil para budayawan dan seniman sebagai pembicara. Isitlahnya pada masa itu adalah referator karena mereka membawakan referat. Sekarang para pembicara dalam pertemuan ilmiah dikatakan membentangkan kertas atau kerta kerja. Kemudian dikenal istilah makalah.

Sejak tahun 1973, aku mulai menggunakan istilah makalah (diambil dari kebiasaan yang dipakai di kalangan kampus di Malaysia, yang hampir dapat dipastikan diserap dari bahasa Arab) untuk setiap tulisan yang kuhasilkan, baik itu untuk bahan bincangan maupun sekedar tulisan populer untuk surat kabar atau majalah. Artinya aku mengunakan istilah makalah itu pada mulanya untuk mengganti istilah artikel yang masih digunakan secara meluas dan merata. Cukup lama hal itu berlangsung, sampai setelah terlalu sering muncul istilah itu, bukan hanya dalam tulisanku, melainkan dari mereka yang memiliki kewenangan resmi di bidang kebahasaan. Akhirnya istilah makalah pun diterima sebagai pengganti referat, paper, atau working paper. (120911) (mengutip dari buku memoar Ayatrohaedi,”65=67 Catatan Acak-acakan dan cacatan Apa Adanya” terbitan Pustaka Jaya, 2011)