September 9, 2011

“Biang Kerok”

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:54 am

Bukan hanya Mas Nug (Nugroho Notosusanto, pen) yang bermasalah. Sejumlah mahasiswa lain yang setelah lulus dikenal sebagai tokoh terkenal baik nasional maupun internasional di bidangnya masing-masing mengalami hal yang sama. Umar Yunus misalnya. Ia terakhir menjabat sebagai guru besar di UM (University of Malaya), juga pernah di Universiti Brunei Darussalam, dan merupakan salah seorang kritikus sastera yang sangat terkenal. Semua orang (yang mendalami sastera) mengakui kepandaian dan kepakarannya untuk bidang kesusasteraan. Mahasiswa bermasalah yang lain di antaranya adalah Harsoyo yang setelah lulus menjadi dosen di IKIP Bandung. Ia juga menjadi salah seorang pendiri dan Pembina FS Unpad di Bandung. Terakhir (sebelum meninggal) menjabat koordinator staf ahli menteri pertahanan dan keamanan. Masih ada Marbangun Hardjowirogo, wartawan yang setelah lulus bekerja di markas Unesco. Paris; Daryanto yang menjadi dosen baik di FS Unpad maupun IKIP Bandung (bersama Harsoyo); dan Husein Wijayakusumah, karyawan LBK yang setelah lulus lalu pindah menjadi dosen di FS Unpad.

Untuk “menolong” mereka, FS menyediakan atau membuka jurusan yang unik: Jurusan Bebas. Mereka yang bermasalah dengan kurikulum tunggal itu, ditampung sebagai mahasiswa Jurusan Bebas. Kebanyakan diantara mereka mengambil mata kuliah widyajana (=antropologi) yang waktu itu belum menjadi jurusan. Mas Nug mengambil widyakala (=sejarah) yang sebagai jurusan baru diresmikan dalam tahun 1956. Tapi karena sebelumnya terdaftar sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, ia tidak dapat pindah menjadi mahasiswa Jurusan Sejarah. Demikian juga yang lainnya, kecuali kalau mereka bersedia mengulang sejak awal, tercatat sebagai mahasiswa baru. Agar tidak mengulang, mereka beramai-ramai menjadi mahasiswa Jurusan Bebas itu. Dengan mata kuliah pilihan yang berlainan. Ada yang memilih widyajana, ada yang memilih widyakala. Ada juga yang memilih widyabasa atau widyasastra. Hasilnya mereka semua lulus sebagai sarjana, dan mengukir nama di bidang barunya masing-masing.

Sekembalinya dari Inggris, karir Mas Nug dengan cepat “melesat”. Ia diangkat sebagai pembantu rektor bidang kemahasiswaan dan alumni UI. Ketika Angkatan Bersenjata RI membentuk lembaga yang profesional di bidang kesejarahan, Mas Nug memperoleh kepercayaan untuk mengepalai dan mengembangkan lembaga yang disebut Pusat Sejarah Abri itu. Sehubungan dengan jabatan barunya itu, Mas Nug memperoleh pangkat tituler atau kehormatan sebagai kolonel, , bahkan kemudian menjadi brigadir jenderal. Jabatan pembantu rektor dilepaskan dan hampir seluruh waktunya tercurah di Pusat Sejarah Abri. Menjelang akhir masa tugasnya sebagai kepala Pusat Sejarah Abri, Mas Nug dicalonkan untuk menjadi rektor UI, dan berkat campur tangan para penentu kekuasaan di tingkat pusat, Mas Nug pun menjadi rektor, menyisihkan Prof.Dr. Suyudi yang didukung oleh umumnya orang dalam UI. Prof.Dr. Nugroho Notosusanto menggantikan Prof.Dr. Mahar Mardjono, tokoh yang dalam masa krisis itu berhasil membawa UI melalui celah celah penuh onak, terjal, dan sempit, melaluinya dengan selamat. Pak Mahar yang menjadi rektor selama dua masa jabatan (1973-82) meninggal dalam usia lanjut karena sakit (2001). Aku merasa sangat beruntung karena dapat menyelesaikan disertasi dan melakukan promosi ketika Pak Mahar menjadi rektor.

Dalam masa jabatan Mas Nug sebagai rektor itulah Jurusan Antropologi yang semula berada di lingkungan FSUI dipaksa pindah ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), tahun 1983. Kepindahan yang dipaksakan itu sebenarnya bukan sepenuhnya kehendak rektor, karena pejabat itu hanya melaksanakan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-83), Dr. Daud Yusuf, yang menganggap bahwa Jurusan Antropologi di Fakultas Sastra mana pun di Indonesia, lebih bersifat ilmu sosial dan karenanya harus berada di FISIP. Namun anehnya, FS UGM (yang sekarang menjadi Fakultas Ilmu Budaya) tetap mempertahankan Jurusan Antropologi berada di lingkungannya. Seperti juga halnya dengan Fakultas Sastra Universitas Udayana (Unud), Denpasar. Di UGM alasannya karena para dosen tetap bersikukuh menganggap FS adalah rumah mereka yang tepat. Dalam pada itu di Unud alasannya adalah karena universitas itu tidak punya FISIP( di tempat lain singkatannya Fisipol).

Di UI kisahnya lain lagi. Ketika itu pemilihan rektor masih sepenuhnya menjadi wewenang Senat Guru Besar dengan meminta pertimbangan dan saran dari para dekan Fakultas. Karena sebagian guru besar UI berada di FKUI, sangat wajar jika suara terbanyak mencalonkan Prof.Dr. Suyudi dari FKUI untuk menjadi rektor. Kang Suyudi ketika itu menjabat sebagai pembantu rektor bidang akademis setelah sebelumnya menjadi ketua Lembaga Penelitian UI. Peraturan yang ada mengharuskan calon yang diajukan sekurang-kurangnya dua orang, agar ada peluang bagi pengangkatnya di Pusat untuk menentukan pilihan. Maka ketika Senat Guru Besar memilih dua calon itu, muncul dua nama, Prof.Dr. Suyudi dari FKUI, dan Prof.Dr. Harsya W. Bakhtiar dari FSUI. Karena penentu tertinggi sangat menginginkan Prof.Dr. Nugroho Notosusanto menjadi rektor, hasil itu dikembalikan dan harus diulang. Dengan syarat: Prof. Nugroho Notosusanto harus masuk yang dicalonkan. Karena Prof. Nugroho juga dari FSUI, Prof. Harsya kemudian menyatakan mundur dari pencalonan sehingga pilihan hanya tinggal kedua guru besar itu. Hasilnya dapat ditebak: calon dari FKUI meraih perolehan suara terbanyak, antara lain karena juga didukung oleh Dekan FSUI waktu itu, Gondomono, yang sejak awal mencalonkan Prof.Suyudi. Karena penentu tertinggi sudah punya pilihan sejak awal pula, tentu saja yang diangkat menjadi rektor adalah calon unggulannya, Prof. Nugroho. Mas Nug akhirnya tahu juga bahwa dekannya sendiri tidak mendukungnya, sehingga ada kesan sejak diangkat sebagai rektor perhatiannya terhadap FSUI justru sangat kurang. Bahkan dengan mendasarkan kebijaksanaannya pada keputusan Menteri Daud Yusuf itu, ia “mengancam” akan menutup Jurusan Antropologi jika tidak bersedia pindah ke FISIP pada tahun akademis 1983. Maka demikianlah yang terjadi. Sejak tahun akademis 1983 itu FSUI kehilangan salah satu “biang kerok” yang dalam berbagai kesempatan selama berada di bawah satu atap, selalu menjadi saingan atau musuh kabuyutan Jurusan Arkeologi yang sudah kembali menjadi jurusan, bukan lagi sebagai program studi seperti pada masa kepemimpinan Pak Harsya sebelumnya. Ketika Kabinet Pembangunan IV diumumkan, Mas Nug menduduki pos Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menggantikan Dr. Daud Yusuf yang menurut berbagai kabar yang beredar dianggap tidak pernah sekali juga berbicara mengenai Pancasila. Namun, jabatannya sebagai Rektor UI tidak dilepaskannya karena sisa waktu masa Jabatannya tinggal satu tahun. Sebagai rektor, Mas Nug mengangkat Prof.Dr.W.A.F.J. Tumbelaka, dari FKUI sebagai pembantu rektor bidang akademis sebagai Pelaksana Harian Rektor, dan setelah Mas Nug meninggal, Pak Tumbel – demikian panggilannya – menjadi Pejabat Rektor UI. (090911)

(Mengutip dari Buku memoar Ayatrohaedi “65=67 Catatan Acak-acakan dan Cacatan Apa Adanya” Penerbit Pustaka jaya, 2011)