September 8, 2011

Pengubahan FSUI Menjadi FIBUI

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:46 am

Sebenarnya upaya pengubahan nama FSUI sudah berlangsung lama. Sudah sejak awal tahun 1980 an. Ketika peminat memasuki fakultas yang menyandang nama sastera itu kian tahun kian menurun. Berdasarkan berbagai sumber embaran dapat diketahui, salah satu penyebabnya adalah justru nama itu. Banyak orang tua yang dengan tegas melarang anak mereka memasuki fakultas sastera, karena menurut mereka kelak anaknya hanya akan menjadi pelamun. Paling-paling menulis sajak. Tidak terkilas dalam benak mereka, Sujatmoko, Kuncaraningrat, Umar Kayam, dan Sartono Kartodirjo, misalnya, menjadi “orang” karena mereka mempelajari sastera dalam artian budaya. Atau tidak terpikir oleh mereka sejumlah presiden di Vietnam, Senegal, Angola dan Ceska misalnya, adalah para penyair dan sasterawan. Juga tidak terpikir oleh mereka Taufik Ismail, Asrul Sani, Ayip Rosidi dan bahkan Muhamad Yamin, menulis karya berupa puisi bukan karena mereka memasuki Fakultas Sastera. Taufik dan Asrul adalah dokter hewan, Yamin sarjana hukum, sementara Ayip bahkan tidak pernah tamat SMA. Artinya, kesenimanan atau kepenyairan mereka tidak diperoleh dari Fakultas Sastera. Jika pun ada sejumlah sasterawan yang benar pernah kuliah di Fakultas Sastera, cuma kebetulan. Nugroho Notosusanto, Subagio Sastrowardoyo, Sapardi Joko Damono, Rendra, Kuntowijoyo dan Budi Darma misalnya, sudah menulis karya sastera sebelum mereka menjadi mahasiswa. Atau, hampir bersamaan dengan ketika mereka menjadi mahasiswa.

Namun gagasan itu tidak pernah mendapat dukungan penuh dari para dosen FSUI sendiri. Banyak diantara mereka yang tetap mempertahankan nama lama. Bahkan ada yang ingin melengkapinya dengan kata lain untuk menegaskan cakupannya itu. Ada yang cenderung “meniru” UGM dengan Fakultas Sastra dan Kebudayaan, ada yang ingin kembali kepada nama “aslinya”, fakultas sastra dan filsafat. Lainnya, menyukai nama yang sederhana dan sudah digunakan, fakultas sastra. Nama yang sederhana itulah yang kemudian “dimenangkan” oleh Pemerintah ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melakukan penyeragaman nama. Semuanya menjadi Fakultas Sastera, tanpa embel-embel apa pun.

Upaya itu mulai gencar lagi dilakukan ketika desas-desus mengenai status UI sebagai badan hukum milik negara kian menguat. Dekan Sapardi (Prof.Dr. Sapardi Joko Damono) yang cepat tanggap segera menyelenggarakan lokakarya untuk mengarahkan bagaimana FSUI pada masa BHMN kelak. Tidak kurang dari dua lokakarya pada masa kedekanannya, disambung juga dengan dua lokakarya pada masa dekan penggantinya Abdullah Dahana (sekarang Prof.Dr). Melalui Senat Fakultas (sekarang tidak ada lagi, sebagai gantinya dibentuk Senat Akademik Fakultas dengan kewenangan yang lebih terbatas) kami sepakat untuk mengganti nama, dari Fakultas Sastra (FS) menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB). Permohonan diajukan, lalu dibicarakan oleh Komisi B Senat Akademik Universitas (SAU). Dekan diminta memaparkan alasan penggantian nama itu, apa untung ruginya, mengapa harus diganti, dan sebagainya. Ada juga yang keberatan jika perubahan nama itu disetujui, walaupun hanya satu fakultas. FISIP merasa “terancam” jika FS mengubah nama menjadi FIB. Mereka menduga, perubahan itu merupakan salah satu upaya untuk menarik widyajana (Antropologi) agar kembali ke habitatnya. Kecurigaan yang wajar, mengingat pemindahan jurusan atau program studi itu ke FISIP (1983), dilakukan secara paksa oleh Rektor UI waktu itu, Prof.Dr. Nugroho Notosusanto. Namun akhirnya SAU menyetujui perubahan nama itu hingga tinggal masalah, keresmian saja berupa surat keputusan rektor. Apa yang seharusnya tinggal penerbitan surat keputusan itu, nyatanya tersendat lagi. Masalahnya, ada pergantian rektor, dan rektor baru yang terkesan selalu mencari celah-celah untuk kompromi, kata lain untuk “kurang berani” mengambil keputusan, menyebabkan ia tidak juga menandatangani surat keputusan itu.

Menjelang Dies Natalis UI tahun 2002, barulah surat keputusan yang sudah sekian lama ditunggu-tunggu itu muncul. Fakultas Sastra UI berubah nama menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI. Singkatannya FIB dan bukan FIPB, untuk menghindarkan kemungkinan ada yang menafsirkan nama baru itu punya hubungan dengan Institut Pertanian Bogor yang singkatannya IPB.

(Mengutip dari Buku Memoar Ayatrohaedi, “65=67 Catatan Acak-acakan dan Cacatan Apa Adanya” terbitan Pustaka Jaya, Januari 2011)