September 7, 2011

Gumilar Berbeda Pendapat dengan Emil Salim

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:07 pm

Menurut pemberitaan di TVOne semalam dalam suatu acara yang dipandu Tina Talisa, dimana ada Effendei Gozali, Bonny Hargens dan Miing Bagito, hari ini (07/09) sivitas akademika UI akan melakukan dialog dengan Komisi X DPR yang membidangi pendidikan. Pertemuan ini katanya sebagai tindak lanjut pertemuan yang dilakukan di FEUI pada tanggal 5 September 2011. Siapa saja dari Sivitas akademika UI yang hadir belum diketahui pasti. Apa saja yang menjadi bahan pembicaraan, baru akan kita ketahui melalui pemberitaan televisi dan media cetak sore ini.

Kalau merunut kembali perbedaan pendapat antara Prof. Emil Salim dengan Rektor UI, bisa ditelusuri dari Rapat MWA UI yang berlangsung pada tanggal 25 Mei 2011 (ada rekaman videonya). Pada rapat itu hadir juga pimpinan UI dan anggota Dewan Guru Besar Pendapat yang mengemuka waktu itu adalah bagaimana UI sebagai lembaga pendidikan pasca dibatalkannya UU BHP melaksanakan kegiatan transisi sebelum lahirnya undang-undang baru, revisi UU BHP. Pemerintah memberikan koridor dengan dikeluarkan PP 66 tahun 2010. Tafsiran terhadap PP 66 Prof Emil Salim mengambil opsi transisi selama tiga tahun seperti yang diberikan pemerintah. Artinya selama tiga tahun itu kelembagaan yang ada masih bisa berjalan seperti apa adanya. Sementara pihak eksekutif (Rektor) tidak setuju karena akan menimbulkan berbagai hambatan dalam pelaksanaannya. Rektor mengambil opsi lebih cepat dari tiga tahun dan menaati aturan pemerintah menerapkan UU BLU dengan mendapatkan otonomi khusus, sebelum dikeluarkan UU Perguruan Tinggi Pemerintah yang baru pengganti UU BHP. Kalau keinginan rektor ini yang diterapkan, maka tidak ada lagi yang namanya Dewan Guru Besar dan MWA UI berubah statusnya menjadi Dewan Pertimbangan yang tugas dan kewajibannya tidak sama seperti MWA. Itulah inti perbedaan pendapat yang terjadi pada saat rapat 25 Mei tersebut. Namun diantara keduanya ada kesamaan yaitu menyangkut masa depan UI yang menginginkan adanya otonomi sehingga kegiatan Tridarma di UI dapat berjalan tanpa mengalami hambatan.

Ketika dahulu pemerintah menawarkan perubahan perguruan tinggi menjadi BHMN menjanjikan memberikan otonomi dalam hal pengelolaan keuangan tidak tergantung dengan pengelolaan keuangan rezim ICW serta memberikan dana dengan sistem Block Grant, dimana anggaran yang diberikan kepada PT BHMN disesuaikan dengan jumlah mahasiswa. Misalnya jumlah mahasiswa yang masuk ada berapa ratus orang, pembiayaan untuk satu satuan mahasiswa mulai dari tingkat satu sampai sarjana berapa besar, maka sebesar itulah anggaran yang akan diberikan pemerintah. Tetapi dalam perjalanannya ternyata itu hanya janji belaka. Nah, ketika masa transisi berlangsung pun, belum terlihat apakah dalam RUU BHP yang baru ada jaminan tentang otonomi. Maka kalau pembicaraan sivitas akademika UI dengan anggota DPR tidak menyangkut masalah itu, sangat disayangkan sekali, berarti terkatung-katunglah masa depan pendidikan di Universitas Indonesia. (070911)

Ironi Antara Provokasi dan Prestasi

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:27 am

Ketika berlangsung pelantikan Rektor UI Prof.Dr. Nugroho Notosusanto, pada tahun 1982 penulis sempat menghadiri di Aula Fakultas Kedokteran UI Kampus Salemba 6 Jakarta. Pada saat pengucapan sumpah jabatan yang dipimpin Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (waktu itu nama kementeriannya seperti itu) Prof.Dr.Ir. Doddy Tisnaamidjaja, tiba-tiba di belakang aula terdengar bunyi petasan yang nyaring sekali. Para hadirin sempat terkejut, tapi kemudian acara tetap berlangsung hingga selesai. Usai acara pelantikan, masih di tempat yang sama berlangsung dialog antara Rektor UI yang baru dengan didampingi Rektor lama dengan para mahasiswa dan pers. Pada saat dialog itu berlangsung, di dinding bagian belakang aula muncul spanduk bertuliskan “Jangan nodai kampus dengan sepatu lars”. Inilah salah satu bentuk protes atau penentangan para mahasiswa terhadap kepemimpinan Rektor UI yang baru, yang dianggapnya berasal dari kalangan militer. Pada waktu pengangkatan itu Prof. Nugroho berpangkat Brigadir Jenderal (tituler), karena menjabat sebagai Kepala Pusat Musium Sejarah ABRI. Padahal sejatinya dia adalah dosen FSUI, alumni Jurusan Sastra Indonesia yang kemudian mengambil program Doktor di bidang sejarah.

Waktu itu, para warga UI terbelah menjadi dua bagian, yang pro dan yang kontra terhadap kepemimpinan Rektor yang baru. Salah satu diantara yang tidak setuju, karena seharusnya yang menjadi Rektor UI itu adalah yang mendapat suara terbanyak para anggota Senat Universitas. Ada dua calon yang diajukan waktu itu selain Prof. Nugroho, yaitu Prof.Dr. Sujudi. Pemerintah dianggapnya “mengkhianati” Senat UI, karena mengangkat calon yang jumlah suaranya sedikit. Hal ini didengung-dengungkan kepada warga UI, sehingga ada yang terprovokasi. Padahal hak untuk memilih dan menentukan siapa yang akan menjadi rektor kewenangannya ada pada Menteri. Menterilah yang menentukan siapa yang akan dipilih menjadi rektor, apakah yang mendapat suara terbanyak atau tidak. Maka gelombang protes pun muncul, aksi-aksi dan orasi dilakukan. Dan pusat aksi dilakukan di Fakultas Ekonomi Kampus Salemba. Kebetulan penulis sempat mengikuti aksi itu dan turut membacakan satu puisi dalam aksi itu. Sebagai mahasiswa junior bisa ikut dan tampil dalam aksi suatu kebanggaan. Walaupun kalau ditanya apa dan kenapa ada aksi, penulis sendiri tidak tahu persis.

Rupanya sejarah memang dapat berulang, ketika pada tanggal 5 September 2011 sebagian warga UI berkumpul di Fakultas Ekonomi Kampus Depok, juga untuk mendengarkan orasi menentang kebijakan Rektor UI yang dianggap telah salah kelola, seperti pemberian doktor honoris causa kepada Raja Arab, sentralisasi keuangan yang menyulitkan kegiatan Tridarma di fakultas, penerapan biaya pendidikan mahal yang tidak pro rakyat, pembangunan proyek mercusuar sampai kepada gaya kepemimpinan rektor yang arogan dan diktator. Sehingga menurut senior rektor UI di Departemen Sosiologi FISIP UI, tidak segan atau sungkan menggunakan istilah harus “digulingkan”. Pada saat yang sama, rektor UI beserta jajarannya mengadakan konferensi pers dan menjelaskan tentang apa yang dipermasalahkan olah para penentangnya.

Pada tanggal 5 September 2011 pula Berdasarkan penilaian yang dikeluarkan Quacquarelli Symonds (QS) World University Ranking 2011/2012 mengeluarkan rilis prestasi UI di tingkat dunia. Universitas Indonesia (UI) berada pada peringkat ke-217 (peringkat 236 pada tahun 2010). QS World University Ranking 2011/2012 yang menilai lebih dari 600 perguruan tinggi terbaik di dunia menempatkan UI sebagai satu-satunya Perguruan Tinggi di Indonesia yang masuk dalam Top 300 Universities in the World.

Dibandingkan pada tahun 2010, UI meningkat secara signifikan yaitu sebanyak 19 tingkat yaitu peringkat ke-217 (skor 45.10) dan pada 2010 UI urutan ke-236 (skor 42.56). UI mengungguli sejumlah perguruan tinggi favorit di dunia seperti University of Notre Dame, United States (urutan ke-223, skor 44.8), Mahidol University Thailand (urutan ke-229, skor 43.10), University of Technology, Sydney Australia (urutan ke-268, skor 39.7).

Pemeringkatan QS World University Ranking 2011/2012 menilai pada lima rumpun ilmu yaitu Arts and Humanities, Engineering and Technology, Life Sciences and Medicine, Natural Science dan Social Sciences & Management. Pada bidang ilmu Arts and Humanities UI berada pada peringkat 142, bidang Engineering and Technology UI pada peringkat 232, bidang Life Sciences and Medicine peringkat 162, bidang Natural Science peringkat 258 dan bidang Social Sciences & Management pada peringkat 124.

Selain menjadi satu-satunya Universitas di Indonesia yang masuk ke dalam 300 besar, QS World University Ranking menggunakan enam parameter dalam pemeringkatan yaitu academic reputation (40 persen), employer reputation (10 persen), student/faculty ratio (20 persen), citations per faculty (20 persen), international faculty (5 persen) dan international students (5 persen).

Kutipan siaran pers dari Humas UI di atas, menunjukkan kinerja dan tata kelola selama ini dinilai oleh pihak asing sangat positif. Inilah ironi antara provokasi dan Prestasi. (070911)

Peringkat UI Naik

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:47 am

Berdasarkan penilaian yang dikeluarkan Quacquarelli Symonds (QS) World University Ranking 2011/2012 pada 5 September 2011, Universitas Indonesia (UI) berada pada peringkat ke-217 (peringkat 236 pada tahun 2010). QS World University Ranking 2011/2012 yang menilai lebih dari 600 perguruan tinggi terbaik di dunia menempatkan UI sebagai satu-satunya Perguruan Tinggi di Indonesia yang masuk dalam Top 300 Universities in the World.

Dibandingkan pada tahun 2010, UI meningkat secara signifikan yaitu sebanyak 19 tingkat yaitu peringkat ke-217 (skor 45.10) dan pada 2010 UI urutan ke-236 (skor 42.56). UI mengungguli sejumlah perguruan tinggi favorit di dunia seperti University of Notre Dame, United States (urutan ke-223, skor 44.8), Mahidol University Thailand (urutan ke-229, skor 43.10), University of Technology, Sydney Australia (urutan ke-268, skor 39.7).

Pemeringkatan QS World University Ranking 2011/2012 menilai pada lima rumpun ilmu yaitu Arts and Humanities, Engineering and Technology, Life Sciences and Medicine, Natural Science dan Social Sciences & Management. Pada bidang ilmu Arts and Humanities UI berada pada peringkat 142, bidang Engineering and Technology UI pada peringkat 232, bidang Life Sciences and Medicine peringkat 162, bidang Natural Science peringkat 258 dan bidang Social Sciences & Management pada peringkat 124.

Selain menjadi satu-satunya Universitas di Indonesia yang masuk ke dalam 300 besar, QS World University Ranking menggunakan enam parameter dalam pemeringkatan yaitu academic reputation (40 persen), employer reputation (10 persen), student/faculty ratio (20 persen), citations per faculty (20 persen), international faculty (5 persen) dan international students (5 persen).

Pencapaian UI tidak terlepas dari dukungan pemerintah terhadap pendidikan di UI. Peningkatan signifikan dalam publikasi jurnal hingga mencapai angka 200 %, pengelolaan sumber daya manusia di tingkat universitas maupun fakultas serta tata kelola organisasi yang mencakup budaya, kebiasaan, kebijakan dan aturan organisasi menjadi pendukung pencapaian UI sebagai salah satu universitas terbaik di Indonesia dan dunia. Pencapaian ini bukanlah hal mudah di tengah-tengah dinamika perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia sehingga diperlukan perjuangan tiada henti untuk terus meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan bagi UI sendiri maupun pendidikan Indonesia pada umumnya.

Informasi Lebih Lanjut : Vishnu Juwono Kepala Kantor Komunikasi UI / Jubir UI vjuwono@ui.ac.id