September 6, 2011

Gumilar Mendapat Ujian Berat

Filed under: Kampusiana — rani @ 11:21 am

Gonjang ganjing perkara Doktor Honoris causa (Dr. HC) yang diberikan UI kepada Pemimpin negara Saudi Arabia Raja Abdullah membuat warga UI ‘terbelah’ antara yang pro dan kontra. Bukan itu saja, perkara ini juga akhirnya membawa satu permasalahan yang telah lama terpendam yaitu mengenai tata kelola UI dibawah kepemimpinan Gumilar Rusliwa Somantri. Sudah empat tahun UI dinakhodai Gumilar, menginjak tahun terakhir kepemimpinannya diuji dengan berbagai peristiwa. Perubahan BHMN menjadi Badan Layanan Umum membuat keadaan UI kembali kepada keadaan semula seperti sebelum diberlakukan PP BHMN. Persoalan pemberian Dr. HC hanyalah salah satu pemicu, ditambah lagi dengan pemberitaan di media menjadi “bola panas” yang diangkat menjadi persoalan politis. Inilah salah satu pertaruhan yang harus dibayar mahal oleh warga UI. Penulis jadi teringat peristiwa yang terjadi ketika Rektor UI baru saja dijabat Prof. Dr. Nugroho Notosusanto tahun 1982, dimana warga UI terbelah menjadi antara yang pro dan kontra terhadap kepemimpinan Nugroho menjadi Rektor UI.

Tahun 2007 ketika masa jabatan Prof Usman Chatib Warsa akan berakhir sebagai Rektor UI, dilakukan renovasi mesjid ARH di Kampus Salemba. Pemerintah Saudi Arabia memberikan bantuan perbaikan mesjid legendaris tersebut. Ketua Panitianya mantan Wakil rektor II UI M. Nazief. Waktu itu panitia mencari bantuan dana dan Pemerintah Saudi Arabia memberikan bantuan sebesar Rp 13 Milyar. Ketika jabatan Rektor UI dipegang Prof. Gumilar Rusliwa Somantri, ada usulan pemberian gelar doktor honoris causa, atas jasa-jasa selama ini baik yang dilakukan di dalam negerinya maupun di luar negeri. (lihat tokoh Raja Abdullah di Harian Kompas pada bulan November 2008). Usulan itu kemudian diterima tim penganugerahan doktor honoris causa Rektor yang dipimpin Prof.Dr. Ichramsyah, SpOG. Lalu dibentuklah peergroups yang terdiri empat orang untuk menelaah pantas tidaknya Raja mendapat Dr.HC. Hasil telaahan ini lalu dilaporkan ke Rektor yang kemudian dibicarakan dengan anggota MWA UI Dr. Alwi Shihab yang waktu itu menjabat sebagai Duta Besar Keliling RI untuk Timur Tengah. Alwi Shihab menyetujui pemberian gelar Dr. HC tersebut. Kemudian dirundingkan pemberian gelar Dr.HC akan dilakukan saat Raja Arab melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Tetapi kunjungan ini dibatalkan sampai dua kali, karena raja sakit. Akhirnya pada bulan Mei diputuskan Prof. Ichramsyah dari UI menghadap raja untuk menentukan tanggal pemberian Dr.HC tersebut. Raja Arab akhirnya menyetujui pemberian gelar itu sepuluh hari menjelang Idul Fitri 1432 H.

Pada bulan Juni tidak disangka terjadilah hukuman Qishas terhadap Ruyati TKI asal Indonesia di Arab Saudi. Satu peristiwa yang mendadak dan tidak terduga sama sekali Mengapa bisa terjadi demikian? Menurut penuturan Prof, Maswadi Rauf, salah seorang anggota tim pemberian gelar Dr.HC, yang mendapat informasi di Dr. Alwi Shihab, rupanya proses hukuman mati di negara Arab ditangani oleh lembaga tersendiri, dimana Raja Arab tidak mempunyai kekuasaaan untuk mengintervensi pelaksanaan hukuman. Hukuman dapat ditangguhkan apabila keluarga korban memaafkan atau membayar diat (denda) sejumlah uang tertentu yang ditentukan keluarga korban kepada terdakwa. Konon menurut Alwi Shihab, yang juga diterangkan kembali pada saat debat dengan Thamrin Amal Tomagola di Metro TV senin sore (05/09) kemudian metro TV mengulang kembali pada acara berita selasa pagi pukul 6 pagi (06/09), untuk mengatasi masalah hukuman qishas ini Raja Arab membentuk satu lembaga yang bertugas untuk melobi keluarga korban, bahkan Raja sendiri memberikan dana untuk diat (bayar denda) jika keluarga korban memintanya. Hal inilah yang tidak diketahui oleh media dan masyarakat di Indonesia. Menjelang akhir ramadhan kemarin, Metro TV menayangkan film dari National Geographic tentang apa yang dilakukan Raja Arab Abdullah dan menilai cukup obyektif apa yang telah dilakukannya.

Rombongan UI yang akan berangkat ke Arab sebetulnya merasa prihatin dengan peristiwa yang dialami Ruyati dan sempat ragu-ragu apakah jadi dilakukan pemberian Dr.HC kepada raja Arab. Tetapi Dr. Alwi Shihab menyatakan, harus tetap dilaksanakan karena kalau dibatalkan akan berdampak lebih buruk lagi. Setelah pemberian gelar itu, menurut penuturan Atase Pendidikan RI di Arab seperti yang dituturkan Rektor UI pada konferensi pers senin siang (05/09), terjadi perubahan pandangan orang-orang Arab terhadap masyarakat Indonesia, seperti yang terlihat di berbagai media arab. Orang Arab tidak percaya, kalau ada satu perguruan tinggi di Indonesia yang peringkatnya di atas perguruan tinggi di negara Arab memberikan gelar doktor kepada rajanya. Gumilar juga menyatakan, saat ini ada 12 kasus TKI yang menunggu putusan hukuman merasa yakin bisa diselesaikan dengan baik tanpa harus mengalami nasib seperti yang menimpa (almh) Ruyati. Thamrin Amal Tomagola yang menentang pemberian Dr. HC UI kepada raja Arab menilainya sebagai suatu sogokan untuk meringankan hukuman. Tetapi Gumilar berpendapat, bagaimana ke depan tidak lagi terjadi penghukuman yang berat terhadap para TKI di Arab Saudi. Dr. Alwi Shihab bahkan menyatakan, penganugerahan Dr. HC secara signifikan akan mengubah sikap masyarakat Arab dan juga Raja Arab terhadap TKI asal Indonesia.

Konon katanya MWA UI akan memanggil Gumilar pada pertengahan September ini, sehubungan dengan kebijakan-kebijakannya selama menjabat Rektor. Bagaimana hasilnya, kita masih harus menunggu. Menunggu perkembangan yang terjadi di Arab Saudi, menunggu perkembangan apa yang dilakukan Rektor UI dengan jajarannya terhadap kritikan tentang salah kelola di UI. Ini adalah satu pertaruhan besar yang sangat menentukan nasib UI ke depan. Tetapi ini adalah satu dinamika masyarakat akademis sebagai sumbangsih terhadap permasalahan bangsa, bukan satu kegiatan politis. Sangat disayangkan kalau dinamika akademis dibelokan menjadi komoditas politik yang hanya mementingkan kepentingan pribadi jangka pendek sesaat. (060911)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment