September 28, 2011

Ketemu Dipo Alam Ingat IKOSIS

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:30 pm

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI pada hari Sabtu (24/09) menyelenggarakan acara halal bihalal bagi seluruh alumni FMIPA di ruang terapung Perpustakaan Pusat Kampus Depok. Dua orang alumninya yang menjadi menteri hadir dalam acara tersebut. Yaitu Menteri Riset dan Teknologi Suhana Surapranata dan Menteri Sekretaris Kabinet Dipo Alam. Ini adalah pertemuan penulis yang ketiga kalinya dengan Dipo Alam. Dua pertemuan sebelumnya yaitu waktu Soft launching perpustakaan pusat (13/05) dan acara halal bihalal FMIPA UI Januari tahun lalu di Hotel Sahid Jakarta. Penulis jadi teringat kembali peristiwa 35 tahun lalu.

Tahun 1976 kerap terjadi perkelahian antar pelajar di Jakarta. Bukan saja antar sesama pelajar STM, tetapi juga antar pelajar STM dan SMA. Perkelahian dipicu dari hal-hal sepele, misalnya saling lihat-lihatan di bis kota. Persoalan personal antar pelajar diangkat menjadi persoalan sekolah, yang akhirnya secara berombongan menyerbu ke sekolah. Waktu itu sekolah yang selalu menjadi biang perkelahian dan dikenal sangat garang yaitu para siswa STM Poncol di Jalan Jenderal Suprapto (dekat stasiun Senen) dan STMN I di Jalan Budi Utomo.

Untuk mengatasi perkelahian, Kantor Wilayah Pendidikan DKI Jakarta mengumpulkan para pengurus OSIS SLA se DKI melakukan berbagai kegiatan bersama di wisma Arga Mulya Tugu Puncak Bogor. Dalam kegiatan tersebut dilakukan ceramah dan pembekalan yang disampaikan oleh pelatih pramuka. Waktu itu baru kenal dengan kak Idik Sulaeman dan Bunda Bunakim. Keduanya biasa melatih para peserta pasukan pengibar Bendera Pusaka tingkat nasional. Usai kegiatan di Puncak, para pengurus OSIS mendapat tugas baru, menyelenggarakan kegiatan bersama yang melibatkan seluruh siswa SLA se DKI Jakarta. Akhirnya diputuskan melakukan kegiatan lomba gerak jalan. Star dimulai dari Silang Monas sampai bunderan senayan. Lalu kembali lagi finis di Silang Monas. Pemberian hadiah gerak jalan sekaligus peresmian pendirian Ikatan Keluarga Organisasi Siswa Intra Sekolah (IKOSIS) dilakukan di Jakarta Theatre. Dan yang meresmikan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Foto bersama pengurus IKOSIS dengan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin sempat dimuat di halaman pertama harian Kompas.

Satu saat IKOSIS diundang ikut seminar dan dialog dengan pengurus Dewan Mahasiswa (DM) UI di Student Center Kampus Salemba. Waktu itu ketua DMUI UI dijabat Dipo Alam (1975-1976). Penulis sangat terkesan dengan kegiatan tersebut, terutama dengan suasana kehidupan kampus. Perkembangan berikutnya, para pengurus IKOSIS “dirangkul” Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang baru berdiri, ketuanya David Napitupulu. Waktu itu suasana mulai “panas” karena mendekati Pemilu 1977. Karena tidak setuju dengan kedekatan IKOSIS ke KNPI, penulis tidak terlalu aktif lagi di IKOSIS. Akhir tahun 1980 an bertemu lagi dengan teman yang dulu aktif di IKOSIS, sudah menjadi dosen di FIB UI. Ternyata mendapatkan jodoh aktivis KNPI yang dulu selalu membimbing IKOSIS.

Juli lalu, penulis sempat menghadiri peringatan 35 tahun IKOSIS di Cipete Jakarta Selatan. Sempat bertemu dengan Ketua IKOSIS angkatan pertama (1976) dan juga dosen FIB bersama suaminya. Penulis masih ada kenangan tertentu dengan IKOSIS khususnya dengan dosen FIB. Karena tanggal kelahirannya sama persis dengan penulis, hanya beda tahunnya saja. Jadi pertemuan dengan Dipo Alam dan peringatan 35 tahun IKOSIS tahun ini, menjadi satu kenangan tersendiri. (280911)

September 27, 2011

Trik Mengundang Petinggi Negara Masuk Kampus

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:07 pm

Hari ini (27/09) di kampus UI Depok dilakukan pembukaan kegiatan Olimpaide Sains Nasional (OSN) yang ke-4 dengan sponsor utama Pertamina. Acara dibuka Dirjen Dikti Prof.Dr. Djoko Santoso, dari pihak pertamina diwakili Direktur SDM Rukmi Hadihartini dan Rektor UI Prof.Dr.derSoz. Gumilar Rusliwa Somantri. OSN kali ini diikuti 16.478 mahasiswa perguruan tinggi negeri dan swasta seluruh Indonesia. Temanya yaitu ‘mencetak generasi berprestasi sebagai energy negeri.

Ketua panitia UI Dr.rer.nat. Harris merasa masygul, karena tadinya mengharapkan yang membuka OSN Menteri Pendidikan Nasional. Namun Rupanya Menteri berhalangan hadir. Padahal sehari sebelumnya (26/09) Menteri Pendidikan Nasional sempat datang ke kampus Depok, membuka pameran dan kuliah tentang perubahan Iklim yang dihadiri Menteri Lingkungan Norwegia. Entah benar entah tidak, rupanya di kalangan petinggi Negara ada aturan tidak tertulis, tidak bisa menghadiri suatu acara di kampus dua hari berturut-turut. Biasanya Menteri akan menugaskan kepada bawahannya. Karena itu Ketua panitia Harris bertekad untuk mengundang wapres membuka acara OSN tahun depan. Sehingga kalau Wapres berhalangan akan menugaskan bawahannya, paling tidak setingkat menteri. Dengan demikian Menteri Pendidikan tidak akan bisa “ngeles”.

Perkara mengundang petinggi Negara ke kampus, memang gampang-gampang susah. Tergantung siapa yang mengundang dan topik apa yang akan dibahas. Bagi lembaga kemahasiswaan atau institusi kampus, menjadi suatu kebanggaan tersendiri bila acaranya dihadiri petinggi Negara. Selain akan menjadi liputan berbagai media, juga dapat berdialog dan mengetahui secara langsung tentang suatu kebijakan di level Negara. Dan petinggi yang kerapkali datang ke Kampus Depok yaitu Yusuf Kalla. Dari Catatan penulis, sewaktu Yusuf Kalla menjadi Wapres sempat meninjau lab IHVCB di Kampus Salemba. Hadir dalam suatu acara yang diselenggarakan FISIP UI. Setelah tidak jadi Wapres, sempat memenuhi undangan BEM Fakultas Hukum UI sebagai Ketua PMI dan juga menjadi pembicara pada acara mahasiswa Fakultas Ekonomi UI tentang proses pembuatan kebijakan pemasyarakatan pemakaian kompor gas bagi rumah tangga. Suatu saat satu kelompok mahasiswa UI mengundang seorang menteri untuk menjadi narasumber satu seminar di dalam kampus. Menteri yang diundang sudah setuju untuk datang dan menjadi pembicara. Sehari sebelum acara, staf menteri menanyakan kepada petinggi fakultas bersangkutan tentang seminar yang akan diadakan esok hari. Jawaban dari petinggi fakultas menyatakan, tidak ada laporan atau undangan ke pihak fakultas mengenai acara seminar. Langsung saja sang menteri memerintahkan staf bawahannya untuk mewakili menjadi pembicara pada acara seminar tersebut.

Tetapi yang terjadi pada tbulan Oktober tahun 1980 lain lagi. Para mahasiswa yang sedang menggelar satu acara di Student center kampus Salemba sempat panik. Karena yang datang ke kampus bukan petinggi Negara, melainkan bawahannya. Bukan mau menjadi pembicara, tetapi mau membubarkan acara seminar dengan memakai popor senjata. (270911)

September 23, 2011

Gumilar Pernah Bercita-cita Jadi Dokter

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:54 pm

Tidak semua orang tahu kalau Prof.Dr. Der Soz Gumilar Rusliwa Somantri pernah bercita-cita menjadi dokter, seperti halnya pamannya (alm) Prof.dr. Udin Syamsudin, yang sempat menjabat Wakil Dekan Bidang Administrasi dan Keuangangan fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Tahun 2007 para mantan penghuni asrama mahasiswa Daksinapati Rawamangun mengadakan acara halal bihalal. Tempatnya di lantai dasar Gedung Pusat Administrasi Universitas Kampus Depok. Kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahun ini biasanya dihadiri para mantan penghuni lintas angkatan dan lintas fakultas. Jadi tidak memandang lagi mahasiswa UI angkatan tahun berapa. Ada pola komunikasi khas, yang justru dapat mempersatukan para mantan penghuni asrama daksinapati. Kalau seseorang menyapa dengan perkataan “Biisaaa!” kemudian yang disapanya menjawab dengan perkataan yang sama, maka dapat dipastikan keduanya adalah berasal dari kesatuan Korps asrama Daksinapati. Entahlah, apakah ada sapaan yang menjadi ciri khas dari penghuni asrama UI di Pegangsaan Timur dan Asrama Wismarini di Jatinegara.

Pada acara halal bihalal tahun 2007, Rektor UI berkesempatan hadir. kebetulan Rektor baru UI baru saja dilantik pada bulan Agustus 2007.Salah seorang mantan penghuni asrama Daksinapati yang cukup senior yaitu Nursyid Wonoprwiro, SH. Jabatan terakir sebelum pensiun (1988) sebagai Kepala Bagian Umum UI bercerita banyak tentang Rektor UI yang baru. Nursyid yang tinggal di Perumahan Dosen UI Ciputat, menjabat cukup lama sebagai Ketua RT di Kompleks itu. Dia mengetahui banyak tentang keluarga di lingungan Perumahan UI CIputat. Salah seorang diantaranya Prof.dr. Udin Syamsudin.

Menurut Nursyid, selepas lulus SMA dari wilayah Tasikmalaya, Gumilar mencoba peruntungan menjadi mahasiswa baru UI. Untuk itu, dia melakukan persiapan dengan mengikuti Bimbingan Tes yang dikelola Drs. (Med) Siky Mulyono di Jalan A.M. Sangaji Jakarta Pusat. Waktu itu bimbingan tes ini sangat dikenal di masyarakat Jakarta, salah satu bimbingan tes yang para siswanya banyak diterima di perguruan tinggi negeri terkenal di Indonesia. Ketika mengikuti Sipenmaru (Sistem Penerimaan Calon mahasiswa Baru), ternyata tidak berhasil masuk FKUI. Tahun berikutnya ikut lagi, gagal juga. Untunglah dia diterima di FISIP UI. Akhirnya dia berkarir di FISIP UI.

Kalau saja diterima di FKUI, Gumilar akan menjadi adik kelas (angkatan) Dekan FKUI sekarang ini (Dr.dr. Ratna Sitompul, Sp,M). Seperti diketahui hirarkis senioritas di FKUI sangat kental dan ketat sekali. Sehingga seseorang dalam usia muda, tidak mudah untuk menjadi orang nomor satu di FKUI apalagi di UI, walaupun otaknya cemerlang atau menonjol dalam bidang keahliannya. Untunglah memilih disiplin Ilmu Sosial, satu bidang ilmu yang sangat luas dan masih memerlukan banyak ahli. Tetapi yang jelas, Jika Gumilar berkutat di bidang ilmu kedokteran, dapat dipastikan tidak akan bisa menjadi Rektor UI. Itulah barangkali suratan nasib. Gagal di satu bidang terbuka kemungkinan peluang keberhasilan di bidang lain. (230911)

Amalnya Lebih Baik

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:37 am

Sekitar dua minggu lalu, ke rumah kedatangan seorang tamu dengan mengendarai sepeda motor. Berpakaian lusuh dengan muka kusut dan jalan dengan tertatih tatih. Kalau bertemu dengan orang ini, hati selalu dipenuhi dengan perasaan mendongkol dan berprasangka negatif. Tetapi karena masih dalam suasana lebaran, untuk menjaga silaturahim, sedapat-dapatnya memendam perasaan itu.

Puluhan tahun lalu, ketika masih berstatus mahasiswa, penulis mengenal seorang anak kecil yang biasa jualan majalah dan Koran di sekitar mesjid Arif Rahman Hakim (ARH) Kampus Salemba UI Jakarta. Dari jualan itulah dia banyak kenal dengan para aktifis mahasiswa dari berbagai fakultas. Perkenalan ini dia jalin terus sampai para aktifis mahasiswa yang biasa suka ke mesjid ARH, lulus dan membina karir di berbagai bidang baik di sektor swasta, pemerintahan maupun staf pengajar di UI.

Konon katanya, anak pengecer Koran/majalah ini orangtuanya asli Padang, tinggal di rumah kontrakan di bilangan Salemba Bluntas. Jiwa wiraswastanya menurun dari kedua orangtuanya. Seperti pada umumnya tabiat orang sebrang, terkesang songong, tidak mengenal anggah-ungguh adat orang Jawa/Sunda, orang yang baru mengenalnya akan menilai bertabiat sombong dan percaya diri yang begitu kuat. Raut mukanya selalu “kusut” seperti orang yang belum mandi. Sempat mengecap pendidikan tinggi di salah satu perguruan tinggi swasta, tetapi tidak selesai (DO).

Satu saat di akhir tahun 1980 an, dia ditawari untuk menjual buku alumni UI oleh salah seorang mantan aktivis kampus. Buku yang berisi daftar nama alumni UI dari berbagai fakultas sejak tahun 1970 an itu, terbilang cukup lengkap. Disitu dicantumkan alamat rumah dan kantor para alumni. Dari berjualan buku alumni inilah kehidupan dia sejahtera. Sempat mempunyai empat rumah di Jakarta, Bekasi dan Cikarang. Kemudian mempunyai istri. Mulailah malapetaka menimpa. Jualan buku alumninya tidak selaris dahulu, penghasilan semakin surut. Atas saran istrinya, rumah yang di Bekasi dan cikarang satu demi satu dijual untuk menutupi kebutuhan kehidupan sehari-hari.

Akhirnya dia berwiraswasta secara serabutan, menjuala buku-buku Islam, menjual pakaian/kaos dan lain-lain. Untuk mendapatkan modal, dia meminta bantuan kepada para alumni UI yang dia kenal sewaktu masih berjualan Koran/majalah di Kampus Salemba. Terkadang meminta bantuan untuk membeli obat ibunya yang sakit. Atau suatu waktu dia minta bantuan untuk membayar listrik yang sudah menunggak beberapa bulan. Satu kali minta bantuan untuk membayar cicilan motor, modal untuk mengojek. Bukan uangnya yang jadi masalah, tetapi cara memintanya yang memaksa serta selalu minta sesuai dengan jumlah yang dia kehendaki, yang membuat orang kesal. Hal ini juga yang dikeluhkan oleh teman-teman yang pernah membantunya. Karena cara-cara pemaksaan seperti itulah, teman-teman yang dulu suka membantunya, selalu menghindar kalau kedatangan dia ke kantor atau ke rumah. Satu saat dia pernah ditawari satu pekerjaan oleh salah seorang alumni UI. Tetapi karena gajinya dibawah upah minimum, dia menolaknya.

Suatu kali dia pernah bercerita, di Kampung istrinya di daerah Jawa Tengah, dengan bantuan modal sekedarnya, dia berhasil menggerakkan masyarakat untuk membangun sebuah mesjid, yang belum pernah ada sebelumnya. Kalau menilik secara lahiriah, pada dirinya tidak terlihat sebagai seorang muslim yang saleh. Tidak pernah terlihat pakai sarungan, memakai baju koko dan kopiah haji. Bahkan di jidatnya tidak terlihat titik atau benjolan hitam sebagai tanda orang sering bersujud shalat. Tetapi dia mampu menggerakkan masyarakat untuk membangun sebuah mesjid. Satu hal yang luar biasa. Penulis sendiri yang cukup berpendidikan, banyak bergaul dengan kalangan yang mengerti agama, banyak mempelajari tentang keislaman serta sering menghadiri ceramah agama belum tentu bisa membangun mesjid. Tetapi penulis yakin, kedekatan dia dengan komunitas mesjid kampus sewaktu kecil, banyak menginspirasi dia untuk beramal.

Orang yang paling baik di sisi Allah, adalah orang yang lebih banyak amalannya. Amalan inilah yang menenentukan seseorang di akhirat kelak kemudian hari, termasuk golongan manusia manakah kita ini. Di hari penghitungan nanti, manusia akan dinilai , apakah amalan baiknya lebih banyak daripada amalan tidak baiknya. Maka jika kita bertemu dengan orang lain, paling tidak inilah yang harus menjadi salah satu kriteria untuk melihat kualitas keimanan seseorang.(230911)

September 22, 2011

Gumilar Bicara “Ikan Sepat Ikan Lele”

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:47 pm

Banyak hal menarik dalam kegiatan Wisuda UI yang berlangsung Jumat dan Sabtu (16/17-09) kemarin di Balairung Kampus UI Depok. Setiap kali wisuda semester gasal yang digabung dengan penyambutan mahasiswa baru Balairung senantiasa penuh sesak, karena dipadati para orangtua wisudawan, para mahasiswa baru dan tentunya para wisudawan yang jumlahnya selalu lebih besar dibandingkan dengan lulusan yang diwisuda pada semester genap setiap bulan Januari/Februari.

Wisudawan semua jenjang pada bulan September tahun ini berjumlah 7.458 orang. Terdiri dari lulusan S1 reguler dan kelas internasional berjumlah 2641 orang. Mereka di wisuda pada hari Jumat siang (16/09). Sementara untuk upacara wisuda Sabtu pagi (17/09) diperuntukkan bagi lulusan profesi (543 orang), Program Spesialis (219orang), Program Magister (2.114 orang) dan Program Doktoral (107 orang). Sedangkan pada Sabtu siang (17/09), berlangsung upacara wisuda untuk 831 lulusan program vokasi/diploma dan 1002 wisudawan program sarjana ekstensi. Ini jumlah yang spektakuler, karena belum pernah terjadi pada wisuda sebelumnya jumlah sebanyak itu.

Wisuda kali ini, dihadiri tamu beberapa universitas dari luar negeri seperti Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong, Malaysia, Thailand, Singapura yang menghadiri kegiatan The 8th Conference of Asian Universiy President di Jakarta. kebetulan tahun ini UI menjadi tuan rumah acara tersebut. Para tamu tersebut ikut dalam prosesi upacara, bergabung dengan para anggota Guru Besar dan anggota Senat Universitas, berada di atas panggung. Mereka membawa atribut/kebesaran perguruan tinggi masing-masing.

Rektor UI Prof.Dr.der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri yang memberikan pidato pada ketiga upacara wisuda tersebut sangat tenang, tidak berapi-api seperti wisuda yang berlangsung Januari lalu. kalau wisuda lalu Gumilar membacakan pidato dalam bahasa Inggris, pidato kali ini hanya sesekali saja mengucapkan beberapa patah kata bahasa Inggris. Apakah hal ini disebabkan karena ada “gonjang ganjing” yang mengeritik mengenai kebijakan tata kelola UI? entahlah, tetapi seorang teman mengatakan, Gumilar kali ini dalam pidato wisudanya “ikan sepat ikan lele” lebih cepat tidak bertele-tele.(220911)

September 16, 2011

Wisuda Tempo Dulu

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:08 am

Skripsi yang kujuduli Tarumanagara: Pertemuan Dua Kebudayaan itu, sudah selesai kususun sekitar bulan Juni 1964. Dengan demikian, kami – aku dan lima orang lain yang harus ujian – sudah siap diuji sekitar bulan Juli 1964 dan dapat mengikuti upacara wisuda di akhir September. Jurusan sudah menentukan tanggal ujian, kami semua sudah bersiap-siap menempuh ujian. Tetapi dua hari menjelang waktunya, kami diberi tahu, ujian terpaksa diundurkan. Semua penguji, bersama dengan hampir seluruh dosen Jurusan Sejarah dan Purbakala harus menghadiri sidang-sidang Panitia Pengisian Diorama Monumen Nasional. Akhirnya ujian dilangsungkan pada bulan Desember 1964.

Sarjana Arkeologi angkatanku mungkin patut dicatat dalam hal keanehan atau keunikannya. Setelah kami semua siap dengan skripsi dan berdasarkan firasat akan lulus ujian, nama kami dimasukkan dalam daftar lulusan tahun 1964 itu. Walaupun diundur, kami masih yakin bahwa ujian akan dapat berlangsung setelah kami pulang dari penggalian di Gilimanuk dan sebelum hari wisuda di akhir bulan September. Karena itu ketika, ketika Benny (Benny H. Hoed, sekarang guru besar emeritus) dari panitia wisuda meminta nama calon sarjana dari Jurusan Arkeologi, aku sampaikan saja nama keenam orang itu. Namun aku berpesan kepadanya, harap diperiksa lagi apakah kami benar-benar sudah ujian sebelum wisuda itu. Rupanya karena kesibukannya, Benny tidak sempat (atau lupa?) melaksanakan yang kuminta itu. Hasilnya, nama kami muncul sebagai sarjana di tahun 1964 itu. Padahal kami baru berhak mengikuti wisuda di tahun berikutnya yang dilangsungkan di Ciputat karena kami baru sampai ke Jakarta bertepatan dengan saat wisuda berlangsung. Nama kami pun terdaftar lagi sebagai wisudawan tahun 1965 sehingga kami muncul sebagai lulusan dua tahun berturut-turut.

Untuk menerima ijazah secara simbolis, sudah diputuskan dua orang lulusan. Lulusan Perempuan Pujiastuti Suratno yang kemudian lebih terkenal sebagai Tuti Indra Malaon dari Sastra Inggris, sedangkan lulusan laki-lakinya sahabat karibku yang bernama Munadi Patmadiwiria alias Mang Alit dari Sastra Indonesia. Namun, menjelang acara penyampaian ijazah itu berlangsung, Tuti mengajukan keberatan kepadaku. Katanya, masa “jodohnya” orang yang tinggi badannya tidak sampai sepundaknya. Lalu ia berkata, sebaiknya aku saja yang menjadi wakil sarjana laki-lakinya. Akhirnya, ketika wakil FSUI diminta maju untuk menerima tabung ijazah dan selempang sarjana dari Pak Kun (Kuncaraningrat.pen) sebagai dekan, kami berdualah yang maju. Maaf ya, Mang Alit. Ini permintaan Si Nenek (julukan kami untuk Tuti setelah ia bermain sebagai seorang nenek dalam sebuah pementasan).

Sampai saat itu, kesarjanaan belum ditandai dengan pemakaian toga seperti yang berlaku kemudian. Para sarjana hanya berpakaian sopan, boleh pakai jas, boleh berbaju batik, tapi harus bersepatu. Lalu dekan tiap fakultas memanggil para wakil lulusan fakultasnya untuk menerima tabung ijazah dan selempang kuning yang secara langsung dikenakan oleh dekan ke bahu wakil lulusan. Itu saja. (160911) (Mengutip dari buku memoar Ayatrohaedi, “65=67 Catatan Acak-acakan dan Cacatan Apa Adanya” penerbit Pustaka Jaya, 2011)

Janji Wisudawan

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:42 am

Janji Wisudawan

Kami para wisudawan Universitas Indonesia berjanji:

  1. Akan menjunjung tinggi norma-norma ilmiah dalam lapangan keahlian kami masing-masing.

  2. Akan senantiasa setia dan berbakti pada almamater yang kami cintai dan agungkan universitas Indonesia.

  3. Akan mengabdikan diri kepada rakyat, bangsa serta Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

September 15, 2011

Wisuda UI dari Waktu ke Waktu

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:44 pm

Salah satu kegiatan akademik yang rutin dilakukan setiap tahun adalah upacara wisuda. Dalam tulisan terdahulu yang mengutip dari buku memoar Ayatrohaedi, 28 September 1961 untuk pertama kalinya UI melakukan upacara wisuda, sehingga tanggal tersebut dinobatkan sebagai Hari Sarjana. Tetapi karena kegiatan wisuda tidak selalu tepat dilakukan setiap tanggal 28 September, akhirnya Hari Sarjana itu tidak berlaku lagi. Hari Jum’at siang (16/09) wisuda program Sarjana (S1) dan Sabtu pagi dan siang (17/09) melaksanakan wisuda Program Program Diploma dan Program Pascasarjana/spesialis/doktor.

Penulis mulai terlibat dalam kegiatan wisuda sejak tahun 1984, Waktu itu dilaksanakan di Gedung Balai Sidang (Convention Hall) Senayan. Dahulu bentuk bangunan masih bulat, tidak seperti sekarang. Prosesi upacara pada dasarnya sama seperti sekarang ini, ada dua wakil wisudawan dari masing-masing fakultas yang maju ke depan lalu diberikan ijazah oleh rektor, kemudian bersalaman dengan rektor dan Dekan. Ada anggota paduan suara dan orkes yang mengiringi saat prosesi upacara, ada pidato wakil wisudawan dan pidato Rektor, juga ada acara penyerahan kendi ilmu dari wisukurang dari dua jam acara bisa terlaksana. Bandingkan dengan acara wisuda yang dilakukan oleh perguruan tinggi lain (waktu itu). Semua wisudawan maju ke depan, rektor memindahkan kuncir pada topi yang dipakai wisudawan dari kiri ke kanan, lalu bersalaman dengan rektor dan dekan. Konon katanya, acara prosesi seperti ini bisa memakan waktu berjam-jam.

Wisuda pertama kali di Kampus Depok, berlangsung tanggal 7 September 1987, dua hari setelah peresmian Kampus Depok oleh Presiden Suharto. Waktu itu karena wisudawan masih sedikit (dibawah 2000 orang), para lulusan program Diploma, Sarjana serta pascasarjana digabung menjadi satu. Ketika produktivitas lulusan makin meningkat dan bertambah banyak, sementara kapasitas ruangan Balairung tidak berubah, mulailah acara wisuda dilakukan beberapa kali. Mula-mula dua kali kemudian berubah menjadi tiga kali. Pertama-tama dilakukan pada hari Sabtu, kemudian duakali berturut-turut setiap hari sabtu dan akhirnya dilaksanakan hari jumat (satu kali) dan hari sabtu (dua kali).

Dalam hal pakaian (toga) yang dipakai para wisudawan pun mengalami perubahan. Kalau dahulu cukup dengan memakai pakaian/jubah hitam dengan memakai warna tertentu yang melingkar di leher para wisudawan, sesuai dengan warna fakultas, maka kini di lengan baju sebelah kanan melingkar warna tertentu. Lengan baju yang tidak ada apa-apa berarti wisudawan program diploma. Di lengan ada satu lingkaran, itu adalah wisudawan program sarjana. Dua lingkaran untuk pasca sarjana dan tiga lingkaran berarti wisudawan program doktor.

Pada masa kepemimpinan Rektor UI Prof.Dr.dr. Asman Boedisantoso Ranakusuma (1997-2002), mulai diterapkan tradisi baru, mengumumkan wisudawan yang lulus tepat waktu dengan IPK kumulatif di atas 3,5 dinyatakan lulus dengan nilai cum laude dan diberikan penghargaan selain sertifikat juga uang senilai SPP satu semester. Tradisi lulusan cum laude ini sampai saat ini terus berlangsung, tetapi tidak lagi mendapat hadiah uang. Pada waktu Kepemimpinan Rektor UI Prof.dr. Usman Chatib Warsa, Sp.MK., Ph.D (2002-2007) ada tradisi baru. Ketua MWA dan Ketua ILUNI UI ikut prosesi upacara dan duduk di sebelah Rektor. Juga ada tradisi, para wisudawan yang sudah menjadi alumni UI itu menyumbangkan sejumlah uang kepada UI yang diserahkan Ketua ILUNI UI kepada Pimpinan UI, yang akan dijadikan dana abadi UI. Uang ini diambil dari paket pembelian toga, undangan dan konsumsi wisudawan. Pada kepemimpinan Rektor Prof.Dr. Gumilar Rusliwa Somantri ada tradisi baru dengan mengundang Rektor/pimpinan perguruan tinggi lain baik di tingkat nasional maupun dari luar negeri, untuk ikut dalam acara wisuda UI.

Untuk memeriahkan suasana wisuda, pada upacara wisuda disajikan lagu-lagu yang dinyanyikan paduan suara mahasiswa dan penyanyi pop/seriosa yang memang sengaja diundang khusus. Inilah salah satu atraksi yang menarik para wisudawan dan undangan. Untuk paduan suara mahasiswa ini pernah memecahkan rekor MURI (2005), karena anggota paduan suara yang menyanyi mencapai 4000 mahasiswa. Sementara untuk penyanyi, pernah mengundang seorang penyanyi cilik berusia 9 tahun dan menyanyikan lagu berirama jazz.

Pada Agustus lalu, penulis baru mendapatkan informasi, kalau konsep janji wisudawan yang setiap kali dibacakan pada saat acara wisuda dibuat Prof.Dr.Sri-Edi Swasono, pada waktu menjabat sebagai Pembantu Rektor III UI pada masa kepemimipinan Rektor Prof.Dr. Mahar Mardjono (1973-1982). Janji wisudawan itu sengaja dibuat, untuk menanamkan nilai-nilai kepada para lulusan, ketika sudah keluar dari UI supaya ingat dan mencamkan terhadap apa yang diucapkannya pada waktu diwisuda.(150911)

September 14, 2011

Kampus Depok dan Demo-demo-an

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:33 pm

Kalau saja kampus Depok bisa bicara, pasti dia akan cerita panjang lebar apa saja yang terjadi sejak diresmikan pada 5 September 1987. Sayangnya dia hanya menjadi saksi bisu atas peristiwa yang terjadi selama ini. Seperti juga mayat korban salah satu tindakan kriminal, dia tidak akan bisa bicara apa-apa, jika tidak ada ahli forensik yang menelaah keadaan korban yang kemudian disimpulkan dalam visum et refertum. Mungkin demikian pula, perlu ada orang yang bisa menceritakan tentang peristiwa apa saja yang terjadi di dalam kampus.

Sudah amat kerap terjadi berbagai peristiwa demonstrasi yang dilakukan para mahasiswa dalam menanggapi berbagai peristiwa. Baik peristiwa yang menyangkut kehidupan di kampus, maupun menyikapi peristiwa yang terjadi di luar lingkungan kampus. Tetapi demo-demo itu hanya terbatas menarik perhatian warga kampus saja. Berbeda kalau demo itu dilakukan di Kampus Salemba. Biasanya menarik warga luar kampus untuk melihat, karena dekat dengan jalanan umum. Sehingga tidak tertutup kemungkinan warga luar kampus ikut kegiatan demo dan melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak bisa dikendalikan. Konon katanya, itulah salah satu alasan kampus UI pindah ke Depok. Kalau melakukan aksi-aksi demonstrasi tidak akan menarik perhatian warga di luar kampus, sehingga aksi demo pun bisa dikendalikan dan tidak terjadi tindakan destruktif.

Tetapi pernah terjadi ada demonstrasi yang bisa melibatkan masa cukup banyak dan melibatkan semua lapisan warga kampus, baik dosen, mahasiswa maupun karyawan. Yaitu demonstrasi menjelang kejatuhan rezim Orde Baru dan munculnya Orde Reformasi (1998). Semua komponen bersama-sama melakukan demonstasi (dalam kampus Depok). Ada satu demonstrasi, dimana orasi-orasi berlangsung disampaikan oleh pendemo. Seorang Pendi (pegawai FISIP UI) bisa berdampingan melakukan orasi bersama Guru Besar Fakultas Ekonomi Prof.Dr. Sri-Edi Swasono. Kalau dalam kehidupan normal sehari-hari mana mungkin seorang pegawai bisa sejajar bicara dengan seorang profesor dalam suatu forum.

Masih dalam suasana demonstrasi reformasi. Sautu kali rombongan mahasiswa digiring menuju ke garbatama, wilayah kampus yang berbatasan dengan jalanan umum. Di situ, di luar pagar kuning UI sudah siap siaga polisi anti huru hara lengkap dengan tameng dan pentungan serta helm pelindung. Para demonstran diperintahkan untuk duduk di jalanan. Antara para demonstran dengan polisi hanya dipisahkan pagar kuning. Cukup lama juga suasana tegang terjadi di garbatama tersebut. Alhamdulillah, tidak terjadi insiden yang membuat kedua kelompok bentrok. Diantara para mahasiswa yang melakukan demonstrasi tersebut terlihat seseorang yang juga sibuk mengawasi jalannya kegiatan demo. Dia itu adalah Hikmahanto, dosen muda Fakultas Hukum UI. Kini sudah Profesor, salah seorang pakar hubungan internasional.

Dalam kesempatan lain demonstrasi Reformasi di dalam kampus Depok, berlangsung orasi di luar gedung Balairung mengambil tempat di halaman parkir yang dekat ke jalan. Ada panggung sederhana di atas bangunan tempat menyimpan diesel cadangan untuk menyumplai listrik ke Balairung. Pada kesempatan itu, Amin Rais melakukan orasinya dengan didampingi Faisal Basri (dosen FEUI). Dari orasi di mimbar inilah nama Faisal Basri mulai dikenal masyarakat umum, bahkan kemudian diajak bergabung oleh Amin Rais merintis medirikan Partai Amanat Nasional (PAN) walaupun akhirnya Faisal Basri mengundurkan diri keluar dari PAN.

Siang ini (14/09) di Aula Fakultas Ekonomi Majelis Wali Amanat (MWA) UI mengundang komponen warga UI untuk mendengarkan hasil pertemuan Mendiknas dengan MWA UI, pimpinan UI, para Dekan yang berlangsung Selasa malam (13/09) berkaitan dengan kekisruhan yang terjadi di UI. Pada kesempatan itu juga Prof. Hikmahanto akan memaparkan beberapa aspek yang berkaitan dengan hukum. Sementara Faisal Basri akan melakukan orasi. Ini adalah babak baru perkembangan yang terjadi di UI.(140911)

Melihat Kembali Peresmian Kampus Depok

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:32 am

Sudah lama ingin melihat saat kampus UI diresmikan Presiden 5 September 1987. Baru pagi ini mempunyai kesempatan. Ada beberapa hal menarik yang barangkali tidak diketahui orang banyak. Beruntung waktu itu bisa merekam dalam bentuk video, tetapi karena sudah terlalu lama, beberapa bagian pidato dan gambar ada yang tidak jelas. Tetapi pada umumnya masih bisa melihat gambar orang-orang yang hadir pada saat acara tersebut.

Dalam pidatonya, Rektor UI Prof.Dr. Sujudi menyatakan hingga thun 1984, UI menempati kampus yang luasnya 15 hektar, terletak di Salemba, Pegangsaan Timur dan Rawamangun. Waktu itu sudah ada 12 Fakultas dengan 48 program studi dan 7 program diploma. Luas kampus Depok 312 hektar sebagian wilayah kampus berada di wilayah Jakarta (75 hektar). Bangunan untuk gedung-gedung berada di wilayah Depok. Untuk mencitrakan identitas Keindonesiaan, bentuk bangunan tiap-tiap fakultas disesuaikan dengan arsitektur rumah-rumah di seluruh Nusantara, seperti rumah penduduk asli Kalimantan, Baduy/Kanekes, Jawa Barat, Jawa tengah dan lain-lain. Lahan kampus seluas 138 hektar diperuntukkan hutan kota untuk penghijauan dan penghasil udara yang bersih. Gubernur Jawa Barat Yogie S. Memet yang juga mewakili Gubernur DKI Jakarta dalam pidatonya menyatakan Daerah Botabek di Jawa Barat dipersiapkan untuk menjadi penyangga perkembangan pembangunan yang terjadi di Ibukota, termasuk pembangunan kampus baru UI di Depok. Untuk mengantisipasinya telah ada kerjasama antara pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Provinsi DKI Jakarta. Sementara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan mewakili warga UI menyatakan terima kasih secara khusus kepada Presiden RI dengan peresmian Kampus baru UI Depok. Kampus Baru ini akan mendorong peningkatan tugas Tridharma Perguruan tinggi dan kualitas pendidikan.

Dalam amanatnya, Presiden RI Soeharto merasa berbahagia dengan adanya kampus baru UI. Dengan adanya kampus baru ini diharapkan UI dapat meningkatkan dharma baktinya bagai bangsa dan negara, mendorong peningkatan pengembangan ilmu dan teknologi untuk pembangunan. Pemerintah menyadari akan amanat yang tertuang pada Pembukaan UUD 1945 (mencerdaskan kehidupan bangsa). Diharapkan UI dapat meningkatkan produk lulusannya dan ambil bgian salam pembangunan yang adil, makmur dan lestari. Setelah selesai pidato dengan didampingi Mendikbud, Rektor UI, Gubernur Jawa Barat dan DKI Jakarta menekan tombol, terdengar bunyi sirine, lalu layar yang menutupi dinding di bagian panggung sedikit-demi sedikit terbuka, terlihatlah lambang makara UI yang berwarna kuning keemasan. Kemudian Presiden membubuhkan tanda tangannya pada prasasti (yang kemudian akan diletakkand di ruang Balai Kirti, Lantai 1 gedung Rektorat).

Acara selanjutnya ramah tamah. Tamu para undangan mengadakan resepsi di lantai dua, sementara rombongan presiden dan tamu VIP menuju ke lantai 9 (Ruang Senat) untuk ramah tamah dan rehat sejenak. Pada saat rehat itu, Rektor UI menyerahkan pin berbentuk makara UI yang terbuat dari emas untuk presiden dan Ibu negara. Itulah untuk pertama kalinya pin makara diberikan kepada seseorang yang sangat berjasa kepada UI. Sementara Rektor UI sendiri pun belum mendapatkan pin emas makara tersebut. (Selang beberapa waktu kemudian, konon menurut kabar yang belum dikonfirmasikan, UI ingin memberikan gelar doctor honoris causa dalam bidang ilmu politik kepada Presiden Suharto, tapi ditolaknya dengan halus).

Setelah rehat, Presiden beserta Nyonya melakukan peninjauan keliling kampus Depok yang hanya ditemani beberapa orang saja. Sempat juga melihat-lihat rumah kos-kosan mahasiswa di wilayah sekitar desa Kukusan. Rumah kos-kosan itu namanya Rumah Pondokan Tumbuh (RPT) yang dibangun oleh Yayasan Supersemar, salah satu yayasan dimana Presiden Suharto duduk sebagai ketua Dewan penyantun. Yayasan ini pula yang memberikan beasiswa bagi para siswa/mahasiswa di seluruh Indonesia.

Pada acara peresmian kampus ini pula, berkumpul beberapa mantan rektor dan istri rektor, yaitu Nyonya Soemantri Brodjonegoro, Nyonya Nugrohon Notosusanto, Prof. dr. Syarif Thayeb, Prof.Dr. Mahar Mardjono. Ada juga aktris film yang hadir, yaitu Christine Hakim. Para hadirin yang berada di Balairung, usai acara peresmian dihibur para artis dan penyanyi alumni UI , antara lain yaitu Kasino (FISIP), Pepeng (FPsi), Tety Manurung (FKG), Tika Bisono. Ada hal yang menarik juga yang mungkin perlu diketahui generasi sekarang ini, pada saat hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya dan para mahasiswa baru UI menyanyikan lagu generang UI, yang bertindak sebagai dirigen adalah Drs. Max Rukmarata. Inilah sebenar-benarnya dirigen UI yang memimpin pada setiap acara resmi di UI (waktu itu).

Atas inisiatif sendiri, penulis mengajukan usul supaya acara persemian ada dokumentasi video. Waktu orang-orang masih terfokus untuk melakukan dokumentasi foto atau reporter tulis. Dengan modal kamera video JVC pinjaman dari seorang paman, akhirnya penulis dimasukkan dalam kepanitiaan humas UI. Sementara teman-teman penulis lainnya turun meliput atas nama Surat Kabar Kampus (SKK) Warta UI. Ada Satrio Arismunandar, Riza Primadi, dr. Sony Wreksono. Terlihat juga Fotografer majalah Tempo Tegus Suryanto Jamal, wartawan Tempo alumni FISIP, Bunga C. Kedjora.

Percaya tidak percaya, ada isu yang beredar di kalangan kecil staf pengajar UI, usai peresmian Kampus Depok, beberapa orang menduduki jabatan lebih tinggi dari jabatan sebelumnya. Sebutlah ketua Lemtek UI (Konsultan yang mengawasi dan bertanggung jawab terhadap pembangunan kampus Depok) Ir. Todung Barita Lumban Radja, M.Sc, selang bebarapa waktu kemudian menjadi Dekan Fakultas Teknik UI. Gubernur Jawa Barat menjadi Menteri Dalam Negeri, Orang PU yang bertanggung jawab dengan pembangunan Kampus Depok, Radinal Mochtar menjadi Menteri Pekerjaan Umum. Rektor UI menjadi Menteri Kesehatan. Tukang dokumentasi video? Alhamdulillah yah, dari status mahasiswa bisa selesai juga jadi sarjana.(1409110)