July 14, 2011

Bimbingan Tiga Bambang Hasilkan Peluang Gelombang

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:39 pm

Ini perkara membicarakan Bambang. Nama yang begitu “melegenda” dan fenomenal di lingkungan UI pada tahun akhir tahun 2000 an. Bayangkan saja, enam dekan dari duabelas fakultas di lingkungan UI dijabat oleh orang yang bernama bambang. Seorang teman di FISIP ikut suatu acara yang kebetulan diikuti oleh 4 orang Dekan yang bernama Bambang. Teman itu merasa kebingungan juga bagaimana caranya memanggil salah seorang diantaranya tanpa mengganggu yang lainnya. Sebab kalau dia bicara agak keras menyebut nama Bambang, pasti keempat bambang akan memberikan respon. Akhirnya dia punya akal, dengan menyebutkan nama jabatan dan fakultasnya saja tanpa harus menyebut nama.

Nama Bambang biasanya disingkat atau dipanggil menjadi “Bang”. Kalau mendengar kata “bang” penulis jadi ingat salah satu lagu Sunda yang biasa dinyanyikan anak-anak yang sedang bermain di halaman. Dalam salah satu lagu Sunda, ada kata-kata “bang” yang juga merupakan singkatan dari kata “gobang”. Lagu ini unik juga, karena di masing-masing baitnya mengambail suku kata terakhir dari bait lagu sebelumnya. Syair lagu tersebut adalah sebagai berikut.

Bang…, bang… kalima.. lima… gobang… bang…. Bangkong di tengah sawah…wah Wahai tukang bajigur…gur… Guru sakola dasar…sar… Saban poe ngajar…jar… Dst

Kali ini kita membicarakan nama Bambang sebagai pengajar/dosen. Hari Selasa lalu (12/07) Fakultas Teknik UI menyelenggarakan acara promosi doktor atas nama Wahyu Nirbito, seorang staf pengajar Departemen Mesin FTUI. Promotor, ko-promotornya serta seorang pengujinya bernama Bambang. Mereka itu adalah Bambang Sugiarto (Dekan sekaligus juga bertindak sebagai promoter). Ada pula Bambang Suryawan (ko-promotor, dosen FTUI) dan Bambang Daryanto (penguji, dosen ITS). Tiga Bambang ini bersama anggota tim penguji lainnya “menggembleng” wahyu Nirbito menjadi seorang doktor atas risetnya yang berjudul “Penentuan Kerusakan Dini pada Elemen Mesin Dinamis Bantalan Gelinding Melalui Deteksi Sinyal Penjalaran Gelombang Tegangan Frekuensi Tinggi.”

Wahyu Nirbito melakukan eksperimen dengan memanfaatkan sensor AE (Acoustic Emissions), yaitu gelombang tegangan yang mempunyai frekuensi yang sangat tinggi, tetapi dengan amplitude yang sangat rendah. Cara kerjanya, sinyal AE dipancarakan pada elemen mesin yang kemudian akan mendeteksi kerusakan pada elemen mesin. Hal ini bisa terjadi dikarenakan, pada kondisi saat-saat sangat awal yang kemudian terjadi keretakan, bahan dari elemen mesin mengalami regangan, sehingga melepaskan energi regangan yang dengan cepat membangkitkan gelombang tegangan, menjalar ke semua arah dengan bentuk yang sama dengan gelombang suara, yaitu bentuk gelombang Raleigh atau bentuk gelombang P longitudinal.

Penjalaran gelombang AE merupakan kejadian awal sebelum terjadi inisiasi retakan yang disebabkan kelelahan (fatigue), pertumbuhan lambat (creep) atau pembebanan yang kompleks. Saat itu sama sekali belum terjadi kerusakan fisik yang nyata seperti berupa retakan atau permukaan yang merekah apalagi pecah. Bila dipasang suatu alat dengan material yang dapat menangkap gelombang yang menjalar pada permukaan bidang itu, maka dengan demikian penjalaran gelombang AE akan dirasakan oleh material tersebut sebagai sensor sehingga menjadi terukur.Bila gelombang AE ini dapat dideteksi kemunculannya sebagai sinyal gelombang getar, maka sinyal kerusakan dini telah dapat diketahui sebelum tanda awal kerusakan timbul.

Teknik deteksi kerusakan dini ini merupakan suatu teknik baru selangkah lebih maju dari teknik-teknik analitis getaran atau deteksi kerusakan komponen mesin yang sudah umum digunakan selama ini. Teknik baru ini mampu mendeteksi suatu kerusakan dini sebelum kerusakan itu terjadi atau muncul di permukaan, sedangkan teknik yang sudah umum tersebut hanya bisa mendeteksi kerusakan yang sudah terjadi di permukaan dan badan mesinnya telah bergetar. Maka jadilah tiga Bambang membimbing Wahyu Nirbito membuka peluang “mengurusi” gelombang. (140711)

July 13, 2011

China yang Gagah Perkasa

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:19 pm

Rabu lalu (06/07) sempat menghadiri acara “A Forum in Commemoration of The 20th Anniversary Marking Dialogue Relations Between China and ASEAN: Retrospect & Vision” di Hotel J.W. Marriot Kuningan Jakarta. Sebetulnya, hanya mau melakukan dokumentasi penyerahan 1000 buku dari pemerintah China untuk perpustakaan UI. Tetapi menjadi satu paket acara bersama kegiatan tersebut. Maka jadilah ikut mendengarkan forum itu. Ingatan menerawang kepada beberapa peristiwa ketika untuk pertama kalinya Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UI dijabat Mochtar Riady pada tahun 2000 an.

Ketika UI menerapkan Badan Hukum Milik Negara (BHMN) sebagai amanat yang tertuang dalam PP 152/2000 , untuk pertama kalinya mempunyai lembaga tertinggi di UI Majelis Wali Amanat UI dipimpin Mochtar Riady, seorang pengusaha Indonesia yang sukses keturunan Tionghoa. Waktu itu yang menjadi sekretaris MWA UI yaitu Dr. Gumilar Rusliwa Somantri. Mochtar yang telah mendapat gelar doktor Honoris causa dari universitas ternama di Beijing ini juga menjadi salah seorang dewan Penyantun universitas tersebut. Kepemimpinannya di MWA UI membawa angin baru, terutama dalam mengembangkan universitas sebagai lembaga yang tidak saja melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi juga bagaimana mencari pendanaan secara mandiri untuk membiayai kegiatan universitas khususnya di bidang riset. Pada kepemimpinan Mochtar Riady, di dunia pendidikan mulai ramai dibicarakan konsep nano-teknologi dan genom. Bahkan Mochtar membuat buku yang membicarakan tentang nano teknologi kaitannya dengan pendidikan. Di Dalamnya ada beberapa tulisan dari dosen UI, termasuk juga tulisan Gumilar Rusliwa Somantri. Pada peluncuran bukunya itu dilakukan bedah buku oleh Rhenald Kasali dan beberapa tokoh lainnya. Yang istimewa pada acara tersebut, selain dihadiri para tokoh intelektual dan pengusaha, baik dari kalangan orang Indonesia maupun keturunan Tionghoa.

Untuk membuka wawasan para staf pengajar UI, Mochtar Riady mengajak para petinggi UI, termasuk juga jajaran Senat Akademik Universitas (SAU) meninjau universitas di Beijing. Mempelajari apa yang bisa dijadikan contoh dan dapat diterapkan di UI. Salah satu hal yang menarik dari kunjungan itu, yaitu dukungan finansial yang penuh dari pihak pemerintah terhadap perguruan tinggi, sehingga perkembangan di bidang pendidikan dan riset sangat pesat. Dan ini juga ternyata berpengaruh kepada perkembangan negeri tirai bambu tersebut. Prof.Dr. Djoni Wahyuadi Direktur Politeknik Negeri Jakarta dalam salah satu wawancaranya di JAK TV beberapa waktu lalu menyebutkan, kemajuan yang dicapai China saat ini ditandai juga dengan peningkatan jumlah SDM lulusan perguruan tinggi yang terampil. Sejak duapuluh tahun lalu, China telah membangun infrastruktur untuk mendukung kemajuan China saat ini. Hasilnya? Kemakmuran China saat ini telah bisa mengucurkan utang untuk Amerika Serikat dan membuat jembatan terpanjang di dunia (45 kilometer).

Setelah sepuluh tahun berlalu, adakah “jejak” signifikan yang ditinggalkan Mochtar Riady Untuk UI? Apakah ide-idie dan kebijakan yang telah dibuat Gumilar Rusliwa Somantri sebagai Dekan FISIP dan kini menjadi Rektor yang telah mengembangkan UI hingga seperti sekarang ini, merupakan hasil “didikan” Mochtar Riady? Wallahualam bisawab.(080711)

July 5, 2011

Kebebasan Akademik

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:03 pm

Kalau mendengar cerita orang-orang tua tentang jaman dahulu (pemerintah kolonial Belanda) betapa susahnya untuk bisa bersekolah di sekolah yang baik dan bermutu. Lihatlah sejarah para tokoh pergerakan republik ini. Kebanyakan dari mereka, bersekolah di sekolah yang dikelola pemerintah kolonial Belanda. UI sendiri dulunya bernama STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlansche Artsen) atau biasa dikenal sekolah dokter (menak) Jawa. Hanya orang- orang tertentu yang bisa masuk STOVIA, terutama dari kalangan bangsawan/menak Jawa. Jelaslah sekolah waktu itu hanya diperuntukkan bagi golongan tertentu saja. Tidak ada keadilan apalagi pemerataan bagi orang-orang biasa, rakyat kebanyakan.

Saat ini pun, rupanya beberapa orang dari kalangan pejabat atau orang berpunya (hartawan) masih terhinggapi penyakit budaya feodal, yaitu ingin mendapat perlakuan/hak istimewa dalam menempuh pendidikan. Misalnya saja ingin memasukkan anaknya ke perguruan tinggi dengan melalui jalur “khusus” dan tes masuk dianggapnya sebagai suatu formalitas belaka, bukan untuk menguji kecerdasan dan kemampuan calon siswa, apakah dia dapat menyelesaikan pendidikannya tepat waktu. Tidak segan-segan untuk menempuh jalan yang tidak wajar, atau mengirim surat kepada pimpinan perguruan tinggi dengan memanfaatkan fasilitas dan jabatannya, meminta supaya anaknya bisa diterima di fakultas tertentu. Surat-surat ini ataupun sms yang meminta dispensasi setiap tahunnya selalu saja ada.

Dulu pernah terbetik kabar, katanya pimpinan perguruan tinggi mempertimbangkan jasa-jasa dan pengabdian seseorang kepada negara atau pun kepada almamater, dengan syarat calon mahasiswa tersebut lolos dari batas nilai yang telah ditentukan. Misalnya ada 10 orang calon yang memenuhi batas nilai standar untuk masuk program studi tertentu. Tetapi karena kursi yang tersedia hanya 8 orang, berarti ada dua orang yang tidak diterima. Nah, disinilah diperhitungkan faktor pengabdian dan jasa orang tuanya. Tetapi ini pun mempunyai kelemahan, bagaimana menentukan kriteria dan jasa seseorang kepada Negara atau almamater lebih besar daripada yang lainnya? Ada pimpinan yang tegas-tegas menolak kriteria ini, ada pula pimpinan yang menerapkan pola jasa dan pengabdian ini.

Karena persoalan seperti di atas serta tuntutan dari publik untuk memberikan pemerataan dan keadilan bagi semua warga masyarakat tanpa kecuali, maka disini pentingnya ditegakkan kebebasan akademik. Artinya seseorang bisa masuk pendidikan tinggi setelah melalui serangkaian tes masuk yang telah ditentukan, bebas dari pengaruh orang tua yang punya jabatan tinggi di pemerintahan ataupun orang yang berasal dari kalangan bangsawan/suku tertentu ataupun orang yang mempunyai uang banyak. Inilah sebetulnya hakikat kebebasan akademik itu, seseorang menjadi mahasiswa dilihat dari kecerdasannya, bukan dari yang lain-lain. Sekali kebebasan akademik ini tercemar, karena adanya pertimbangan-pertimbanan lain di luar kecerdasan, maka jangan harap hasil lulusannya akan baik.

Seorang pimpinan UI yang bergelar doktor bercerita, dia berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Bisa berkarir di UI dan merasa diuntungkan dengan adanya kebebasan akademik yang dipegang teguh di lingkungan UI. Andaikan saja, penilaian seseorang bisa masuk UI didasarkan pada jabatan orang tua, latar belakang keluarga bangsawan ataupun orang yang mempunya uang, maka dia tidak mempunyai kesempatan menjadi mahasiswa dan berkarir di UI.

UI mencoba untuk menegakkan kebebasan akademik ini dengan membuat motto untuk menjadi bahan renungan sivitas akademikanya, yaitu Veritas (kebenaran), probitas (kejujuran), Iustitia (keadilan). Dan UI selalu menyatakan, jika seseorang telah lolos seleksi masuk, tidak ada kamusnya menolak calon tersebut karena tidak bisa membayar biaya pendidikan. Karena UI menyediakan berbagai skenario untuk membantu dalam bidang finansial, mulai dari pemberian beasiswa 1000 anak bangsa, pembayaran secara mengangsur biaya operasi pendidikan, hingga pembebasan sama sekali biaya operasional pendidikan.

Tahun lalu, (kalau tidak salah) seorang lulusan SMA dengan nilai tertinggi se provinsi Jawa Timur, orang tuanya tidak mampu membiayai biaya operasional pendidikan, bisa masuk Fakultas Kedokteran UI tanpa tes dan semua kebutuhan selama pendidikan ditanggung seorang anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UI Rachmat Gobel. (050711)

Persaingan Antar Bambang

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:30 am

Indonesia yang kaya aneka etnis dan budayanya, dalam beberapa hal sangat mempengaruhi kepada perilaku orang-orangnya. Misalnya dalam hal pemberian nama, untuk etnis Jawa para orang tua tidak sembarangan memberikan nama untuk anak-anaknya. Karena nama juga akan membawa keberuntungan dan kecelakaan kepada si empunya nama. Tidak jarang seorang anak berganti nama karena ternyata sering sakit-sakitan. Proklamator Soekarno, konon katanya waktu kecil sering sakit-sakitan akhirnya berganti nama menjadi Soekarno.

Salah satu nama favorit di kalangan orang Jawa adalah Bambang. Satu nama yang mencitrakan seorang ksatria yang berperawakan tinggi besar, tampan, gagah perkasa, pintar dan cerdas. Dalam tokoh pewayangan, gatotkaca yang kemudian menjelma menjadi Bambang Ekalaya, mempunyai ciri-ciri seperti yang telah disebutkan tadi. Tokoh Gatotkaca ini bagi pecandu cerita pewayangan, menjadi idola, karena kegagahberaniannya dalam perang Bharatayudha, satu peperangan antara klan Pandawa yang menguasai kerajaan Amarta melawan klan Kurawa yang menguasai kerajaan Astina.

“Kerajaan” UI pun dalam kepemimpinan Rektor Gumilar Rusliwa Somantri, mempunyai para ksatria yang bernama Bambang. Dahulu ada enam Bambang yang menjadi dekan Fakultas di UI. Ada Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro (Dekan FEUI) tapi kemudian setelah tidak aktif menjadi Dekan sempat bekerja di Islamic Development Bank (IDB) lalu ditarik ke Departemen Keuangan RI. Ada Bambang Sugiyono (Dekan FT), Bambang Shergi Laksmono (Dekan FISIP), Bambang Wibawarta (Dekan FIB), Bambang Wispriyono (Dekan FKM) dan Bambang Irawan (Dekan FKG). Ada satu “Bambang” yang menjadi Dekan FMIPA, yaitu Bangadi Basukriadi. Memang, karena di lingkungan fakultasnya dia biasa disapa para mahasiswanya dengan sebutan “Bang Adi”. Pada waktu melihat-lihat kegiatan SIMAK UI hari Minggu (03/07), Rektor UI didampingi beberapa Dekan yang bernama Bambang. Karena diantara para pimpinan UI dan pimpinan Fakultas usianya relatif tidak terlalu jauh, maka selama peninjauan kegiatan SIMAK UI banyak becanda layaknya anak-anak muda sekarang.

Di salah satu fakultas, terlihat para mahasiswa berjaket kuning sedang menjajakan makanan dan minuman. Rektor UI yang melihat aktivitas mahasiswa ini, segera saja memanggil Bambang yang menjadi Dekan mahasiswa tersebut. Para dekan lainnya menggodanya disuruh memborong makanan dan minuman yang dijajakan mahasiswa. Dengan bangganya, Dekan Bambang mengeluarkan uang seratus ribu dari dompetnya, memborong makanan dan minuman yang dijajakan mahasiswa dan dibagi-bagikan kepada para wartawan yang hadir. Mahasiswa penjual makanan merasa surprise, karena pagi-pagi sekali makanannya sudah laku terjual.

Di satu fakultas lain, terlihat para mahasiswa sedang melaksanakan tugas sebagai panitia.Segera saja Rektor UI menanyakan kepada mahasiswa tersebut, tahukah nama lengkap dekan fakultasnya. Tidak lama kemudian datang dekan Bambang dan ditanya oleh Rektor, apakah kenal dengan para mahasiswa yang menjadi panitia. Dekan Bambang menjawab kenal baik, karena sering sama-sama melakukan penelitian lapangan. Di perjalanan, para pimpinan UI dan fakultas bercerita tentang seorang Dekan lainnya yang bernama Bambang pula. Kebetulan dia tidak ikut rombongan, jadi leluasa membicarakannya. Dekan Bambang yang satu ini mempunyai kelebihan diantara dekan lainnya. Selalu tidak tahan untuk tidak tidur dalam berbagai kesempatan kalau dirasakan pembicaraan terlalu lama. Pada suatu saat ketika menonton satu film, dia tampak tertidur pulas. Begitu film usai dan para dekan membicarakan isi film tersebut, anehnya dia bisa tahu dan mengutip dialog-dialog para tokoh dalam film tersebut. Rupanya Dekan Bambang yang satu ini mempunyai bakat seperti (alm) Presiden Gus Dur.

Usai melihat-lihat pelaksanaan SIMAK UI di SMAN 21 Kampung Ambon Jakarta timur, rombongan dijadwalkan untuk makan siang di Restoran Nyonya Suharti. Tiba-tiba saja tanpa diduga seorang Dekan Bambang menawarkan makan durian di Raja Durian Sunter. Rombongan akhirnya berbelok arah menuju ke Sunter dan makan durian sekenyang-kenyangnya. Setelah itu barulah menuju Restoran Nyonya suharti. Rupanya dekan Bambang yang satu ini tidak mau kalah dari Dekan Bambang lainnya yang mentraktir jajanan yang dijajakan mahasiswa di kampus Depok. (030711)

July 4, 2011

“Saya Tidak Marah!!!”

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:28 pm

Sudah empat kali UI menyelenggarakan kegiatan Seleksi Masuk (SIMAK) calon mahasiswa baru UI secara mandiri. Tahun ini jumlah peminat yang mengikuti SIMAK UI untuk semua program (Vokasi, S1 reguler, pascasarjana dan doktor) berjumlah 36.832. selain di Depok dan Jakarta, juga diadakan di 10 kota besar di Indonesia dan satu di Brussels Belgia. Dari sekian banyak itu UI hanya menjaring 700 calon mahasiswa S1 reguler (ada 32 ribu peminat) dan 1200 calon mahasiswa Vokasi. Sedangkan calon mahasiswa Program Pascasarjana dan doktor tergantung dari berapa banyak peserta memenuhi nilai standar yang telah ditentukan.

Kegiatan SIMAK yang berlangsung hari Minggu kemarin (03/07) ditinjau para pimpinan universitas dan fakultas bersama para wartawan. Lokasi yang ditinjau antara lain di Kampus FKM (untuk program Pascasarajana), Kampus FISIP ( untuk program S1 reguler) dan SMA 21 Kampung Ambon Jakarta Timur. Beberapa peserta di daerah merasa keberatan kegiatan SIMAK dilaksanakan pada hari Minggu, karena bersamaan dengan kegiatan ibadah para penganut agama Kristen dan Katholik. Tetapi panitia merasa kesulitan kalau diselenggarakan selain hari Minggu. Selain akan mengganggu hari kerja panitia, kalau diadakan pada hari berlainan di berbagai daerah, dikhawatirkan akan terjadi ‘kebocoran” soal.

Ada peserta yang mengikuti SIMAK yang berlokasi di Fakultas Ilmu Keperawatan, ternyata seorang perwira tinggi berbintang. Sejak hari Sabtu ajudannya sudah melihat-lihat lokasi dan meminta tempat parkir khusus untuk kendaraan yang membawa peserta SIMAK berbintang tersebut. Di FKM lain lagi, seorang peserta menggerutu dan dengan nada tinggi mempertanyakan sistimatika berkas soal yang diterimanya kepada panitia. Panitia menjelaskan, tidak ada yang salah pada berkas soal tersebut, karena soal yang diberikan untuk peserta program pascasarjana berbeda dengan berkas soal untu calon mahasiswa S1 reguler dan vokasi. Ada seseorang mengusap-usap punggung peserta yang emosional tersebut, sambil mengatakan supaya tenang dan jangan marah-marah. Lalu orang tersebut meninggalkan ruangan. Belum sampai keluar, peserta tersebut dengan nada masih tinggi menjawab, “Saya tidak marah!”. Rupanya orang tersebut terpancing juga dan mengatakan, ”wah…, belum jadi mahasiswa saja sudah marah-marah, bagaimana kalau sudah jadi mahasiswa yah?” Setelah berkomentar demikian, akhirnya orang tersebut keluar ruangan.

Siapakah yang berkomentar tersebut?

Ternyata Rektor UI yang sedang meninjau pelaksanaan SIMAK UI.(030711)

July 1, 2011

Diplomasi Posisi Bendera

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:46 pm

Kali ini akan membicarakan hal remeh temeh atau sepele di balik kuliah umum Perdana Menteri Perancis H.E. François Fillon di UI Jum’at pagi (01/07) di Kampus Depok, yang mungkin luput dari perhatian orang. Tetapi ternyata yang sepele ini jika ditarik lebih jauh ternyata berhubungan dengan nasionalisme suatu bangsa. Banyak hal yang terjadi pada waktu kuliah umum ini, seperti yang akan diceritakan di bawah ini. Kalau mengenai isi materi kuliah yang disampaikan PM Perancis bisa disimak di berbagai media cetak atau media online.

Sebelum memberikan kuliah umum seorang moderator membacakan riwayat hidup sang Perdana Menteri dalam bahasa Perancis. Tetapi rupanya terlalu panjang dan membiarkan Perdana Menteri Perancis berdiri terpaku di podium. Akhirnya seorang anggota rombongan panitia dari Perancis berjalan mendekati moderator dan mengingatkannya supaya segera saja mengakhiri bicaranya untuk memberikan kesempatan bicara lebih banyak kepada Perdana Menteri Perancis. Sekretaris Rektor UI pun beberapa kali berbisik kepada moderator untuk segera mengakhiri bicaranya.

Setelah Rektor UI memberikan kata sambutannya dalam bahasa Inggris, dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan Menteri Pendidikan Nasional RI M. Nuh. Kalau pada saat pemberian doctor honoris causa dari UI kepada Presiden Turki beberapa waktu lalu, Menteri Pendidikan memberikan kata sambutan dalam bahasa Indonesia. Maka kali ini, Menteri memberikan sambutannya dalam Bahasa Perancis. Suatu hal yang luar biasa. Usut punya usut ternyata Menteri Pendidikan Nasional R.I adalah lulusan salah satu perguruan tinggi di Perancis.Maka tidaklah mengherankan kalau aksen Perancisnya masih terasa walaupun dengan membacakan teks pidato. Hal ini juga barangkali kesempatan bagi Menteri Pendidikan Nasional, karena belum tentu ada forum lain yang dapat memberikan kesempatan untuk bicara dalam bahasa Perancis.Barangkali ini sebagai suatu ekspresi keramahtamahan orang Indonesia dan penghormatan kepada tamu. Tetapi apakah ini layak dilakukan seorang pejabat Negara dihadapan khalayak ramai yang kebanyakan orang Indonesia?

Dalam acara gladi bersih, sehari sebelum acara dilaksanakan, pihak kedubes Perancis memasalahkan pembuatan spanduk dan menginginkan perubahan sesuai dengan keinginan pihak Kedubes Perancis. Tulisan yang tadinya berada di tengah-tengah spanduk menjadi berada di sebelah kanan, bagian sebelah kiri spanduk kosong untuk meletakkan bendera kedua Negara yang mengapit podium yang letaknya berada agak di sebelah kiri spanduk.

Pagi-pagi sebelum acara kuliah umum berlangsung terjadi perdebatan yang cukup sengit antara pihak kedubes Perancis dengan panitia dari Kementerian Luar Negeri RI. Yang menjadi permasalahan yaitu posisi benderan nasional Indonesia dan bendera Perancis diletakkan sebelah mana podium. Pihak Kedubes Perancis menginginkan Bendera Perancis berada di sebelah kanan, sehingga ketika Perdana Menteri Perancis pidato menghadap ke undangan, bendera Perancis berada dibelakang pundak kanan perdana menteri. Sedangkan bendera nasional RI berada di sebelah pundak kiri Perdana Menteri. Hal ini sudah dilakukan, pada saat Perdana Menteri bicara di Hotel Hyatt Kamis malam dihadapan para undangan masyarakat Perancis dan Eropa lainnya. Mendengar penjelasan panitia Kedubes Perancis seperti di atas, panitia dari Kementerian Luar Negeri RI dengan entengnya menjawab dan memberikan argumen balasan. Letak bendera RI harus berada di sebelah kanan dan bendera Perancis di sebelah kiri. Karena ini forum dimana pendengarnya kebanyakan orang Indonesia, dan itu sudah menjadi aturan keprotokolan di Indonesia. Posisi Bendera RI di sebelah kanan ini juga berlaku ketika Presiden Amerika Serikat Obama melakukan orasi Ilmiah di Balairung Kampus Depok tahun lalu. (010711)