July 28, 2011

Mang Ayat 3: Sejarah Lagu Genderang UI

Filed under: Uncategorized — rani @ 7:44 pm

Dengan membawa ijazah SMA yang baru beberapa hari kuterima, aku mendaftarkan diri ke FSUI yang terletak di Jalan Diponegoro 82, Jakarta Pusat. Nama itu Fakultas Sastra, baru digunakan dalam tahun ajaran 1957/8. Tahun itu, sejalan dengan upaya nasionalisasi perusahaan Belanda, selain karyawan perusahaan yang dinasionalisasi, para dosen di perguruan tinggi pun ikut kembali ke Negara Belanda. Para dosen Fakultas Sastra dan Filsafat yang kembali ke tanah airnya itu di antaranya adalah Prof.Dr. F. Beerling, Prof.Dr. A.J. Bernet-Kempers dan Prof.Dr. A.A. Fokker. Prof. Beerling adalah guru besar filsafat dan dengan kepulangannya maka tidak ada lagi yang mengasuh dan mengajarkan mata kuliah itu. Sehubungan dengan itu, apa alasan yang tinggal untuk mempertahankan nama Fakultas Sastra dan Filsafat? Maka berubahlah nama fakultas itu, menjadi hanya Fakultas Sastra. FSUI terletak tepat di depan Rumah Sakit Umum Pusat yang kemudian bernama RSUP Cipto Mangunkusumo.

Aku mendaftarkan diri ke Jurusan Ilmu Purbakala dan Sejarah Kuna Indonesia yang dalam obrolan sehari-hari cukup disebut Purbakala atau bahkan hanya Purba. Beberapa hari kemudian aku mengikuti ujian masuk. Ujian masuk itu baru dua tahun diselenggarakan. Sebelumnya, seseorang cukup dengan membawa ijazah SMA dan mendaftar sesuai dengan jurusan yang diminati. Resmilah ia menjadi mahasiswa FSUI. Namun sejak tahun 1958, rupanya peminat melimpah sementara tempat terbatas. Karenanya mulailah diadakan ujian masuk. Ujian itu berlangsung di Aula UI yang terletak di Jalan Raya Salemba 4 Jakarta Pusat.

Aku sama sekali tidak mengharapkan lulus dalam ujian masuk itu. Sebabnya, ada satu pertanyaan sejarah yang kujawab berdasarkan apa mauku, bukan apa mau pembuat soal itu. Pertanyaan itu berkenaan dengan Gajah Mada, Mahapatih Majapahit yang terkenal itu. Pertanyaannya, apa sebabnya dalam kisah sejarah Indonesia, Gajah Mada selalu dianggap sebagai pahlawan nasional?. Pertanyaan itu langsung saja menggugah sentimen kedaerahanku. Walaupun aku tidak terlibat dalam KPS yang diadakan tahun 1956 itu, gaung sentimen anti-Jawa yang menggema melalui kongres itu langsung terdengar menggelegar di telingaku. Itu tidak benar! Demikian darah mudaku menggugat. Maka akupun menulis jawaban berdasarkan apa yang dilakukan Gajah Mada terhadap berbagai daerah di Nusantara, sebenarnya Gajah Mada lebih layak disebut sebagai penjajah nasional. Sama sekali bukan pahlawan nasional!

Namun ternyata, aku termasuk ke dalam 16 orang peserta ujian masuk yang memilih Jurusan Purbakala yang diterima. Aku malah jadi bertanya-tanya, pembuat soal itu maunya apa sih, jawaban yang salah dan reaksioner seperti itu tetap juga diterima? Tapi apa boleh buat, pengumuman ujian masuk sudah keluar dan aku dinyatakan lulus dan diterima. Maka Tugasku berikutnya yang menunggu adalah mengikuti kegiatan pengganti perpeloncoan selama satu minggu. Kegiatan yang nama resminya masa perkenalan.

Selama sepekan mengikuti masa perkenalan, aku memperoleh pengetahuan praktis dan pengalaman yang entah harus berapa lama jika semuanya itu kujalani di luar tradisi masa perkenalan. Sudah sejak hari pertama kami diperkenalkan kepada “lagu kebangsaan” mahasiswa UI yang bertajuk Genderang Mahasiswa. Aku sangat beruntung karena masih mengenal lagu itu yang asli, lalu mengikuti perubahan yang dialaminya sejalan dengan perjalanan sejarah UI.

Pada masa awal kemerdekaan, hanya ada dua universitas negeri di negara kita, yaitu Universitas Indonesia di Jakarta dan Universitas Gajah Mada di Yogyakarta. UI pada masa awal itu fakultasnya tersebar di beberapa kota di Jawa dan Sulawesi. Selain fakultas di Jakarta yang terdiri atas Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (FHIPK), Fakultas Sastra dan Filsafat dan Fakultas Ekonomi (FE) masih ada Fakultas Pertanian dan Kehutanan (FPKH) dan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (FKHP) di Bogor, Fakultas Teknik (FT), Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA), dan Akademi Pendidikan Jasmani (APD) di Bandung, Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) di Surabaya, dan Fakultas Ekonomi (FE) di Makasar. Ketika pemerintah mendirikan Universitas Airlangga di Surabaya dan Universitas Hasanuddin di Makasar, fakultas-fakultas yang berada di kedua kota itu pun dilepaskan atau melepaskan diri dari UI.

Pada masa fakultas-fakultas tersisa di tiga kota itulah “lahir” lagu itu. Lagunya digubah oleh mahasiswa FHIPK bernama Surni Warkiman, sedangkan liriknya juga diciptakan oleh mahasiswa FHIPK merangkap penyair, M. Husseyn Umar. Lirik lagu itu menurut pendapatku benar-benar mencerminkan siapa, apa, dan bagaimana makhluk yang berjuluk mahasiswa itu. Tidak terlibat dalam kehidupan politik atau kehidupan yang aneh-aneh dan macam-macam. Dunia mahasiswa hanya terdiri atas tiga bagian yang saling melengkapi, tidak dapat dipisah-pisahkan: buku, pesta dan cinta. Lagu Genderang Mahasiswa yang “asli” itu berbunyi….

Universitas Indonesia Universitas kami Bandung Bogor dan Jakarta Pusat ilmu budaya bangsa

Kami mahasiswa Pelambang cita ‘ngejar ilmu pekerti luhur ‘tuk nusa dan bangsa

S’mangat lincah gembira Buku pesta dan cinta itulah hidup kami Mahasiswa

Universitas Indonesia Pelambang cita Walaupun kami tersebar Di tiga kota Bandung Bogor dan Jakarta Kami yang punya

Namun umur lagu yang asli itu tidak panjang. Tahun 1959 itu fakultas-fakultas dan akademi yang ada di Bandung dilepaskan atau melepaskan diri. FT dan FIPIA dikembangkan menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB), sedangkan APD dijadikan bagian dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pajajaran, kemudian FKIP dikembangkan menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP). Dalam perkembangan mutakhir, IKIP Bandung berubah menjadi universitas dan namanya berganti menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Namun, karena pelepasan itu terjadi di awal tahun kuliah, lagu itu belum sempat disesuaikan sehingga aku masih berbahagia mengenal kaol ‘versi’ aslinya itu.

Setelah Bandung lepas, tinggal fakultas-fakultas di Bogor dan Jakarta yang dimiliki UI. Sehubungan dengan itu, mulai masa perkenalan tahun 1960, lirik yang menyebut kota diubah menjadi kota Bogor dan Jakarta, dan di dua kota. Kata atau kalimat lainnya masih tetap. Namun kembali penyesuaian itu tidak berumur panjang. Tahun 1963 Bogor pun melepaskan diri dan mendirikan Institut Pertanian Bogor (IPB). Sebagai konsekuensinya, lagu itu pun harus disesuaikan lagi. Karena fakultas-fakultas yang tersisa hanya ada di Jakarta dan tersebar di Rawamangun dan Salemba, maka penyesuaian yang dilakukan pun berkenaan dengan kota Bogor dan Jakarta diganti menjadi ibu kota Jakarta, di dua kota menjadi di dua tempat, sedangkan kota Bogor dan Jakarta yang terakhir menjadi Rawamangun dan Salemba.

Lagu itu sama sekali jauh dari “bau politik”. Lagu itu seutuhnya menggambarkan tiga dunia yang merupakan wilayah kehidupan mahasiswa. Namun lagu yang bebas politik itu, pada awal kebangkitan Orde Baru justru terkena polusi politik yang seperti biasa, berisi omong kosong. Kata-kata ampera, tugas mulia, dan entah apa lagi disusupkan ke dalam lagu itu.

Dalam pada itu, para tokoh “penyusup”nya setelah berhasil dengan upaya politiknya itu, tanpa basa basi tidak lagi memperhatikan kata-kata kosong yang mereka paksakan masuk dan mengubah dunia kehidupan mahasiswa itu. Hasilnya? Aku tidak pernah dapat menyenandungkan atau menyanyikan lagu baru itu. Bagiku lagu baru itu bukan lagi lagu yang menggambarkan dunia kehidupan mahasiswa, melainkan justru lagu yang meracuni kehidupan itu. Lirik yang secara spontan meluncur dari mulutku ketika mengumandangkan lagu itu, ya lagu yang mendendangkan buku, pesta dan cinta! (280711) (mengutip dari memoar Ayatrohaedi “65=67 Catatan acak-acakan dan cacatan apa adanya”, penerbit Pustaka Jaya, Jan 2011)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment