July 26, 2011

IKIP Kali…!

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:31 pm

Walaupun berasal dari daerah-daerah di Indonesia, penghuni Asrama Daksinapati merasa sebagai warganegara kelas satu, karena statusnya sebagai mahasiswa Universitas Indonesia, perguruan tinggi negeri satu-satunya (waktu itu) yang menyandang nama bangsa dan terletak di ibukota pusat pemerintahan Negara. Karena seleksi masuknya yang ketat bersaing dengan putra-putra terbaik lainnya, dari segi intelektualitas pastilah sudah teruji dan berkualitas baik. Di luar perguruan tinggi itu, maka dapat dikategorikan sebagai warganegara kelas dua, kualitas intelektualitasnya tidak terlalu baik. Itulah salah satu “kesombongan” yang menghinggapi sebagian penghuni Asrama Daksinapati.

Ada pemeo diantara para penghuni Asrama Daksinapati kalau punya pacar sesama mahasiswa UI suatu hal yang wajar dan memang seharusnya demikian. Tetapi kalau mempunyai pacar bukan mahasiswa UI, dianggap sebagai suatu musibah. Sementara kalau perempuan bukan mahasiswa UI mendapat pacar mahasiswa Asrama Daksinapati, dianggap sebagai suatu anugerah. Bukankan arti Daksinapati yang beredar di kalangan umum artinya “calon suami yang baik”? Konon katanya, arti Daksinapati ini dilontarkan salah seorang penghuni asrama Anwar Nasution, mantan Dekan FEUI dan mantan Ketua BPK. Tapi ternyata arti ini digugat dan dipertanyakan oleh salah seorang mantan penghuni asrama Daksinapati , ahli linguistik dan ahli arkeologi Mang Ayatrohaedi dalam buku memoarnya, “65=67 Catatan Acak-acakan Cacatan Apa Adanya”yang diterbitkan Pustaka Jaya bulan Januari 2011).

Maka tidak heran kalau kesombongan “merasa paling…” ini terbawa dalam sikap sehari-hari. Misalnya saja, kalau di depan kebetulan lewat perempuan mahasiswa IKIP (sekarang berubah menjadi Universitas Negeri Jakarta/UNJ), karena letak kampusnya bersebelahan dengan UI, selalu menjadi bahan godaan para penghuni asrama. ‘Disuit-suitin’, atau kalau sedang menumpang menelepon di asrama, ‘digodain’ penghuni asrama yang kebetulan tidak sedang kuliah. Tingkah laku penghuni asrama daksinapati yang “norak” ini menjadi satu hal yang lumrah, karena menganggap “sebelah mata” kepada para mahasiswa IKIP, intelektualitas dan kualitas para mahasiswa IKIP dianggapnya lebih rendah. Kalau mereka pintar pastilah bisa masuk UI. Karena itu, kalau ada penghuni asrama yang cara berpikirnya agak “tulalit” atau “bloon”, biasanya teman-teman mengejeknya dengan sebutan, “IKIP kali… kau ini!” Atau kalau mendapat pacar bukan mahasiswa UI, biasanya keluar kata, “IKIP kali….”. Pokoknya ucapan tersebut keluar untuk hal-hal yang bersifat negatif, tidak berbobot, berselera rendah dan lain-lain.

Puluhan tahun kemudian, penulis berjodoh dengan seorang alumnus UI juga. Usut punya usut, tidak dinyana, ternyata S1 nya dari IKIP Jakarta. Kalau dikatakan dapat jodoh karena kena tulah, rasanya dulu dalam setiap pembicaraan tidak pernah melontarkan atau mengatakan perkataan “IKIP….kali…!” (260711)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment