July 25, 2011

Koin Gan tole

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:31 am

Pada tahun 1980 an, jika kita pada akhir pecan berjalan-jalan ke puncak, di langit sesekali akan terlihat “burung raksasa” melayang-layang begitu anggunnya. Begitu kita amati dengan seksama, ternyata layang-layang dimana di tengah-tengahnya ada manusia yang mengendalikan burung raksasa tersebut. Ya, itu jenis olahraga bernama paralayang yang sedang “in” dan digandrungi masyarakat. Masyarakat awam biasa menyebutnya sebagai gantole atau layang gantung. Entah bagaimana istilah itu diterapkan kepada jenis olahraga tersebut. Mungkin, karena olahragawan yang mengendalikan alat tersebut, bisa melayang-layang dan bergelantungan, sehingga dengan mudahnya disebut gantole asal kata dari mengggantung. Pada akhir-akhir ini, ada satu film kartun “Avatar” dimana jagoannya membawa semacam tongkat, yang sewaktu-waktu bisa berubah bentuk menjadi layang-layang, dengan tangkasnya sang jagoan dapat mengemudikan layang-layang tersebut di udara, karena ternyata sang jagoan dalam cerita tersebut telah berhasil menguasai ilmu mengendalikan angin.

Awal 1980-an penulis telah menjadi penghuni Asrama Daksinapati di Kampus Rawamangun, setelah kuliah di FISIP menginjak tahun kedua. Itu pun dengan perjuangan “keras” dan mengalami masa transisi tinggal/mondok di satu rumah yang letaknya persis di sebelah sekolah Kanisius, Menteng Jakarta Pusat selama beberapa bulan. Kamar yang penulis tempati bernomor 59 di lantai dua, sisi kanan meghadap ke Taman Sastra/Gedung IKIP. Kehidupan di asrama sangat dinamis, boleh dikatakan sebagai miniatur republik ini. Karena penghuni asrama berasal dari berbagai pelosok di Indonesia.

Salah satu sisi kehidupan di asrama yang sempat menarik perhatian, yaitu penggunaan telpon umum yang waktu itu hanya satu dan terletak di bagian depan asrama di depat kantor tata usaha asrama. Dari jendela kamar penulis jaraknya kalau diambil garis lurus kurang lebih sekitar sepuluh meter. Setiap saat telpon tersebut ramai sekali dimanfaatkan penghuni asrama. Terkadang ada juga orang non-asrama yang memanfaatkan fasilitas telpon tersebut. Di kamar Tata usaha pun sebenarnya ada telpon, tetapi entah kenapa kemudian dicabut. Konon katanya, karena sering dipakai penghuni asrama tidak terkontrol, tagihan rekeningnya membengkak, karena ternyata suka dipakai untuk interlokal. Hal ini juga terjadi di Asrama Wismarini, yang penghuninya wanita terletak di Jalan Otista di depan Gedung PFN (Perusahaan Film Nasional).

Rupanya, olahraga paralayang yang sedang “in” waktu itu mengilhami beberapa penghuni Asrama Daksinapati, maka dikenal istilah koin gantole. Waktu itu kalau melakukan hubungan memakai telpon umum, cukup dengan memasukkan uang koin logam Rp 50 bisa melakukan percakapan selama 3 menit. Lebih dari itu, masukkan lagi koin limapuluhan. Tetapi penghuni asrama dapat melakukan percakapan lebih dari 3 menit tanpa harus sering memasukkan koin limapuluhan. Malahan dia dapat mengambil kembali uang logam limapuluhan yang telah dimasukkan ke box telepon. Kok Bisa? Disinilah “kreativitas” (ataukah Kriminalitas?) mahasiswa Asrama Daksinapati bermain. Uang logam limapuluh memakai benang yang direkatkan dengan isolatif bening. Pada waktu koin masuk ke lubang telpon umum terdengar bunyi “klek” yang berarti percakapan bisa dimulai, begitu tiga menit berlalu, koin otomatis akan jatuh, sehingga kalau percakapan tidak ingin terputus harus memasukkan koin lagi. Tetapi karena memakai benang, begitu terdengar bunyi “klek” benang segera ditegangkan /ditarik untuk menahan supaya koin tidak jatuh. Dengan demikian batas waktu tiga menit tidak berlaku. Tentu saja hal ini sangat mengesalkan para penelepon lain yang harus menunggu cukup lama. Pernah suatu kali, penghuni asrama Daksinapati memakai koin gantole di telepon umum di luar asrama dan tertangkap basah petugas Telkom, dia akhirnya dibawa ke kantor Telkom terdekat. Berita ini sempat juga masuk dalam koran Pos Kota. Setelah kasus itu terjadi, apakah pemakaian koin gantole berhenti atau kapok? Ternyata tidak.

Seperti diceritakan di atas, kamar penulis cukup dekat dengan telpon umum yang ada di Asrama Daksinpati. Malam-malam, penulis mencari jaringan kabel telpon umum yang terletak di bawah jendela kamar, lalu dipotong dan dibuat sambungan paralel kabel ke kamar penulis. Kebetulan penulis mempunyai telepon bekas yang dibawa dari rumah dimana penulis tinggal sebelum pindah ke asrama. Pesawat teleponnya masih memakai sistem analog, dimana pemutarnya berbentuk bulat yang berlubang-lubang. Dengan demikian penulis dan teman sekamar dapat menelepon tanpa harus memakai koin gantole. Setiap malam, kalau telpon umum di bawah ramai antri yang akan menelepon, penulis dapat menyadap dan mendengarkan pembicaraan mereka. Kebanyakan percakapan dilakukan dengan lawan jenis, berisikan rayuan gombal mahasiswa asrama, bahkan ada yang melakukan duet, nyanyi bersama di telpon. Untuk beberapa lama kegiatan “penyadapan” berlangsung cukup lama. Bahkan beberapa teman asrama yang tahu, mereka suka memanfaatkan telpon “pribadi” ini di kamar penulis. Hingga akhirnya suatu saat, telepon di kamar penulis berbunyi. Ketika ditelusuri, ternyata kabel telpon ke kamar penulis sudah diputus petugas Telkom. Untungnya tidak ada orang Telkom yang datang ke kamar penulis. Kalau datang, bisa-bisa penulis masuk berita di Pos Kota. (250711)