July 22, 2011

Mang Ayat 2: Put On – Put In

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:48 pm

Selama lima tahun menjadi mahasiswa, aku selalu terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan. Terutama yang menyangkut mahasiswa FSUI (Fakultas Sastra UI, sekarang FIB UI.pen). Dalam setiap masa perkenalan yang namanya setiap tahun berubah, aku selalu muncul sebagai salah seorang anggota panitia. Sejumlah mahasiswa lain, baik yang seangkatan denganku, angkatan di atasku, atau angkatan di bawahku, merupakan langganan tetap kepanitiaan itu. Widarti Jayadisastra yang sekarang menjadi tokoh sangat penting di kelompok Femina, misalnya, adalah salah seorang diantaranya. Ia masuk jurusan Sastra Indonesia tahun 1962, dan sejak tahun berikutnya selalu aktif sekurang-kurangnya pada waktu masa perkenalan.

Arti, demikian panggilannya, termasuk salah seorang tokoh yang hebat. Selama lima tahun aktif mengikuti masa perkenalan, lima kali itu pula dia terpilih sebagai rakawati tergalak. Selama lima tahun dia tidak pernah tergeser dari singgasananya sebagai yang tergalak itu. Padahal rakawati tergalak yang seangkatan denganku (1959) yang diramalkan bakal menjadi rakawati tergalak selama menjadi mahasiswa, hanya bertahan selama tiga tahun. Tapi Arti, lima tahun dia menjadi yang tergalak. Heran juga aku, karena raut wajahnya tidak mengisyaratkan dia dapat berbuat galak. Bahkan, tidak salah jika dimasukkan ke dalam kelompok gadis cantik. Itulah pula mungkin alasannya, mengapa seorang mahasiswa Fakultas Psikologi UI angkatan 1961, tergila-gila kepadanya. Mahasiswa itu kukenal karena kesukaan kami yang sama:berpuisi. Namanya Gunawan Mohamad, yang kemudian memang menikahi Arti dan keduanya menjadi tokoh terkenal di bidangnya masing-masing. Menurut beberpa orang teman yang mengenal Arti cukup baik dan hubungannya cukup dekat, ternyata kegalakan itu bukan hanya selama masa perkenalan di fakultas. Hingga sekarang pun Arti terkenal galak, terutama ya tentunya di lingkungan atau dunia kerjanya. Barangkali dapat dianggap sebagai ‘galak bawaan’ ya!

Di setiap angkatan harus ada yang bernama bagus Jenderal untuk yang laki-laki dan jendril untuk yang perempuan. Nama itu mulai muncul ketika aku pertama kali menjadi mahasiswa, tahun 1959. Ketika itu, dan sampai dua tahun berikutnya (1961), nama bagus belum dimunculkan, kecuali untuk jenderal dan jendril itu. Mahasiswa yang ketiban pulung menjadi jenderal atau jendril, resminya diberi “jabatan fungsional” sebagai pemimpin sesama temannya itu. Jenderal menjadi kepala suku mahasiswa laki-laki, dan jendril menjadi pemimpin mahasiswa perempuan. Tapi dalam tahun itu juga (1959), kebetulan ada mahasiswa baru, orang Cina (ia benar-benar warganegara Cina, dimungkinkan karena masih dibolehkan kewarganegaraan rangkap) bernama Cio Ci-sek yang bertubuh subur seperti karikatur Put On dalam surat kabar Sin Po. Maka, panitia pun menobatkan Ci-sek dari Sastra Indonesia menjadi Put On, sementara sebagai jodohnya diangkat seorang Put In yang juga harus memiliki syarat yang sama: tubuh bongsor. Tahun itu yang terpilih adalah Lenny Lumenta, anak Manado yang masuk jurusan Sastra Inggris. Kisah menyedihkan tentang Put In 1959 itu kudengar ketika dia belajar di Amerika Serikat.Aku memang hanya mendengar kabar dari kabar dari kabar lagi, entah dari tangan yang keberapa. Menurut kabar itu, sekitar sepuluh tahunan yang lalu Lenny ditemukan tewas terbunuh di wilayah kumuh di sebuah kota besar, kalau tidak salah New York. Entahlah, apa sebab sebenarnya.

Tidak sukar menacari tokoh untuk diberi nama Put On, namun agak sukar juga memilih mahasiswi untuk dijadikan Put In. Bahkan pernah, kedua nama keramat itu terpaksa diberikan mahasiswa yang secara jasadi kurang memenuhi syarat untuk menyandang nama terhormat itu. Namun apa boleh buat, nama itu harus ada sementara sediaan Cuma itu yang ada. Aneh juga memang, mengapa pada tahun itu (1961) tidak ada mahasiswa baru yang gembrot atau bongsor mendaftar ke FSUI. Atau, bukan mendaftar, melainkan diterima. Padahal jelas, kami tidak pernah menentukan bobot tubuh seseorang untuk mendaftar. Lain dengan Komite Pemilihan Umum yang mensyaratkan kesehatan jasmani dan ruhani berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Indonesia untuk dapat diterima sebagai calon presiden. (210711) (Dikutip dari Buku Memoar Ayat Rohaedi “65=67 Cat at an Acak-Acak an dan Cacat an Apa Adanya” hal.145, 147-148)