July 21, 2011

Mang Ayat 1: Hantunya Lebih Banyak

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:07 pm

Hidup di asrama banyak suka dukanya. Banyak kawan yang datang dari berbagai latar budaya. Asrama Daksinapati, bersama dengan Asrama Pegangsaan Timur 17, terkenal sebagai “gudang” orang besar Indonesia. Banyak tokoh nasional yang pernah menjadi penghuni salah satu asrama itu.

Emil Salim, guru besar (emeritus) ekonomi yang berkali-kali dipercaya menjadi menteri untuk lingkup kerja yang berbeda, Ibrahim Hasan dan Ben Mboi yang pernah menjadi gubernur, misalnya, adalah penghuni asrama UI. Gorys Keraf dan Maurits Simatupang adalah dua ahli widyabasa yang pernah menghuni asrama. Bahkan Yusril Ihza Mahendra yang menjadi menteri Kehakiman dan HAM dan Hasan Wirayuda, Menteri Luar Negeri, dalam kabinet terakhir juga penghuni Asrama Daksinapti semasa menjadi mahasiswa.

Menurut prasasti yang dipahatkan pada bungkah marmer dan ditempelkan di dinding Asrama Daksinapati dapat diketahui asrama itu mula-mula tidak bernama. Diresmikan Presiden Soekarno tahun 1954, asrama itu terdiri atas tiga lantai dengan jumlah kamar 120 buah. Kamar-kamar itu berukuran 4 x 6 m, dan sedianya setiap kamar ditempati 4 orang mahasiswa. Ada dua buah tempat tidur susun, empat meja belajar, dan empat lemari di tiap kamar. Namun kemudian penghuni tiap kamar diputuskan hanya tiga orang sehingga daya tampung seluruhnya 360 orang. Karena ada dua kamar digunakan untuk “ibu asrama”, kamar yang dapat diisi hanya 118 buah. Kamar mandi terdapat di tiap lantai, di sayap memanjang bangunan itu. Tetapi bersamaan dengan kian memburuknya fasilitas dan pelayanan asrama, air tidak mampu naik sampai ke lantai dua, apalagi lantai tiga. Karena itu, kamar mandi akhirnya hanya ada di lantai satu. Itu berarti kesibukan di kamar mandi makin menjadi-jadi. Selain pemakai bertambah, karena semua penghuni mengandalkan kedua ruangan mandi di lantai bawah, jumlah petak mandinya tetap. Akan lebih menarik jika ketika seseorang tengah menyabuni tubunya, airnya mati. Dalam keadaan terburu-buru, tidak jarang kami menumpang madi di sumur dan ruang cuci yang agak terpisah.

Jika malam dan dipandang dari kejauhan, sosok asrama itu tampil melalui lampu-lampu kamar penghuni. Di tengah kegelapan, sosoknya oleh sebagian orang dianggap sama dengan sosok sebuah kapal di tengah laut di malam hari. Karena ketika itu kapal yang cukup terkenal bernama Tampomas (yang tenggelam di perairan Masalembo, sebelah timur Madura) kami pun kadang-kadang menjuluki asrama tercinta itu dengan “Kapal Tampomas”. Nama Daksinapati itu sendiri diberikan entah oleh siapa.( Daksinapati diberikan seorang penghuni asrma Anwar Nasution, pernah menjabat Dekan FEUI, Ketua BPK- Penulis.). Karena menurut pemberi nama itu daksinapati diartikan sebagai ‘calon suami yang baik’, sangat jelas jadinya pemberi nama itu sama sekali tidak tahu baik bahasa Sansekerta maupun bahasa Jawa Kuno. Jika saja mereka tahu, tentulah bukan nama itu yang mereka pilih. Secara harfiah daksinapati bermakna ‘raja atau penguasa dari selatan”. Karena menurut tradisi lisan Jawa penguasa dari selatan adalah Nyi Roro Kidul, yang secara khusus dibikinkan, kamar khusus di hotel Samudra Beach, Pelabuhanratu, untuk sang ratu bermalam jika berkenan “mendarat”, daksinapati seharusnya diartikan sebagai suami Nyi Loro Kidul. Jika didasarkan pada letak atau lokasinya pun jelas pula kesalahannya. Bukankah asrama itu terletak di bagian timur Jakarta? Artinya, di wilayah Jakarta Timur, bukan Jakarta Selatan.

Ketika aku mulai menjadi penghuni resmi Asrama Daksinapati, jatah makan kami masih cukup. Walaupun menurut para penghuni awal yang beberapa diantaranya masih bertahan, sudah menurun dibandingkan dengan jatah makan masa awal itu. Pada masa awal itu katanya, setiap hari pasti terhidang tidak kurang dari empat macam lawuh nasi. Ketika aku masuk, lawuh tinggal tiga macam: sayur, tempe atau tahu, dan telur atau daging atau ikan. Tahun-tahun berikutnya tinggal dua macam, bahkan akhirnya hanya nasi. Lauknya mesti membeli sendiri. (waktu penulis masuk Asrama Daksinapati tahun 1982, tidak ada pembagian nasi, tapi kalau makan malam disediakan beberapa penjual nasi dan lawunya di lantai dasar. Untuk sarapan pagi atau makan siang ada warung sebelah tempat parkir motor).

Maka ketika mulai masuk “tahun-tahun keprihatinan” itu, pedagang lawuh, baik di halaman asrama maupun di warung yang dikelola karyawan asrama, mulai berkembang dengan subur. Aku biasanya membeli lawuh brupa rujak buah-buahan, bukan gado-gado. Nikmat sekali rasanya makan dengan lawuh rujak semacam itu. Atau kami bawa jatah nasi kami ke warung senggol di pojok gelap (kalau malam) tegalan rumput sebelah utara. Atau membawanya ke warung Pak Napi di seberang jalan ahmad Yani yang ketika itu masih dalam proses pembangunan. Nasi jatah itu digoreng di situ. , sambil minta lawuh lain yang dijual di kedua warung itu. Karena terjadi permitraan, akhirnya bahkan beberapa diantara kami setiap habis makan hanya mencatat angka. Habis bulan, atau kapan saja ada rezeki menclok, kami biasanya berteriak,”periksa arsiiip…”Maksudnya, penyelesaian utang piutang.

Berita Asrama Daksinapati itu angker dan banyak “penghuninya”, menyebabkan orang yang mendirikannya terusik juga. AKhirnya bulan November 1963 Bung Karno menugasi Pak Rahmat, kabarnya “dukun istana” yang tinggal di daerah Petojo untuk memeriksa. Mungkin semacam sidak yang akronim dari inspeksi mendadak. Karena pada waktu itu Pak Rahmat Datang, aku (bersama Abdullah Yusuf Darmawijaya, mahasiswa arkeologi yang juga tengah menyelesaikan skripsi) sedang pergi ke Lebak Cibedug di pelosok pegunungan Kendeng (memanjang dari Banten selatan ke Sukabumi) untuk keperluas skripsi, aku tidak tahu secara tepat apa yang dilakukan Pak Rahmat. Hanya kata mereka yang mengikuti “inspeksi mendadak” itu, Pak Rahmat mengatakan jumlah hantu di asrama itu lebih banyak daripada jumlah semua penghuni dari semua kamar dan lantai. Karena semua penghuni berjumlah 360 orang, dengan perhitungan tiap kamar dihuni 3 orang, berarti bahwa jumlah hantu di asrama itu sekurang-kurangnya ada 360,5. Kalau hantu, boleh kan hanya setengah…..

Mungkin ada benarnya juga hantu di Asrama Daksinapati jumlahnya lebih banyak daripada penghuninya. Sekurang-kurangnya aku pernah mengalami beberapa kali hal aneh selama tinggal di asrama itu. Satu diantaranya,, yang tak terlupakan, adalah apa yang kualami pada suatu malam di bulan Puasa. Kebetulan aku belum tidur karena keesokan paginya ada ujian, dan aku belum selesai membaca bahan-bahan untuk ujian itu. Jadi, sambil menunggu waktu sahur, aku terus membaca. Tiba-tiba lampu di ruang makan menyala, keran air di tempat cuci piring terdengar mengalir, dan dapur mulai ramai. Aku yang ketika itu masih “penghuni gelap” dan malam itu menginap di kamar Wagito, keluar dari kamar, lalu melihat-lihat kamar makan yang sudah terang benderang itu. Kebetulan kamar Wagito cukup dekat letaknya dari ruang makan. Namun, di ruang makan yang terang dan terdengar ramai itu, aku tidak melihat seorang pun. Bahkan ketika aku sudah hampir sampai ke pintu ruang makan, air keran berhenti mengalir. Suara orang mencuci piring tidak terdengar, dan…… lampu pun padam sehingga ruang makan kembali gelap.

Aku setengah berlari kembali ke kamar, lalu mengintip dari jenderla kamar. Sekitar setengah jam kemudian, lampu ruang makan menyala, air keran mengalir, dan terdengar orang-orang berbicara. Para pencuci piring dan petugas ruang makan untuk menyiapkan makan sahur sudah benar-benar bangun dan bertugas. Jadi siapa atau apa yang berada di ruang makan itu sebelumnya?

Masih banyak kisah “dunia lain” yang dapat digali dari kehidupan sekitar asrama itu. Belum lagi para hantu di FSUI. Di tiap gedung “bersemayam” entah berapa hantu. Padahal jumlah gedungnya ada empat. Tiap gedung terdiri atas dua lantai. Tiap lantai terdiri atas sejumlah ruang kuliah atau ruang kantor. Kata orang, di tiap ruangan itu ada hantunya. Bahkan ketika kami menyiapkan acara untuk masa perkenalan dengan mahasiswa di ruang Senat Mahasiswa di gedung 2, di halaman terdengar bunyi langkah sepasukan prajurit berbaris.

Semuanya itu akan merupakan lahan yang subur bagi semua stasiun televisi yang akhir-akhir ini menjadikan kehidupan tak masuk akal itu sebagai tontonan yang menarik. Tinggal lagi, bagaimana menggarapnya, mengingat asrama itu sekarang sudah beralih fungsi. Bukan lagi tempat tidur, melainkan kantor rektorat Universitas Negeri Jakarta yang jelmaan IKIP Jakarta.

Apakah tayangan dunia gaib, penampakan dan sejenisnya itu merupakan salah satu upaya melaksanakan amanat pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, mencerdaskan (kehidupan) bangsa…?

(dikutip dari buku Memoar Ayat Rohaedi “65=67 Cat at an Acak-acakan dan Cacat an Apa Adanya”, hal.129-133)