July 15, 2011

Hari Isra Mi’raj di PRJ

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:56 am

Hari Rabu (29/06) libur nasional bertepatan dengan peringatan hari Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Penulis sekeluarga memanfaatkan liburan ini dengan berkunjung ke arena Pekan Raya Jakarta(PRJ) di siang hari, karena pada hari libur PRJ mulai buka jam 10 pagi. Di bawah ini adalah ‘oleh-oleh’ setelah jalan-jalan di PRJ sebagai suatu renungan Jumat.

Isra dan Mi’raj, seperti yang kita ketahui adalah proses perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian dilanjutkan perjalanan tersebut dari Mesjid Aqsa menuju langit ketujuh dan bertemu langsung dengan Allah SWT, pencipta alam semesta. Hasil dari perjalanan Isra Mi’raj itu adalah perintah shalat lima waktu bagi para penganut agama Islam. Pentingnya shalat ini diibaratkan sebagai tiang-tiang satu bangunan. Suatu bangunan tanpa tiang, maka bangunan itu tidak akan bisa berdiri tegak. Shalat lima waktu juga merupakan sarana untuk bisa berkomunikasi langsung dengan Allah sang Penguasa Alam semesta. Dan shalat lima waktu juga dapat menjadi pencegah seseorang untuk berbuat keji dan munkar. Boleh dikatakan, inti Isra dan Mi’raj itu adalah perintah shalat lima waktu. Suatu perintah yang bukan main-main. Jadi terlihat disini betapa pentingnya shalat lima waktu ini bagi orang Islam.

Di Pekan Raya Jakarta menjelang matahari tergelincir ke arah barat, mencari tempat parkir mobil susahnya setengah mati. Setelah berkeliling selama satu jam, barulah dapat memarkir mobil di kawasan parkir sebelah barat. Ratusan ribu pengunjung telah memadati arena PRJ. Ketika masuk gedung utama PRJ, sudah penuh sesak. Dari rumah memang sudah wudlu, rencanan di perjalanan akan berhenti untuk shalat dhuhur terlebih dahulu. Tapi niat itu tidak bisa terlaksana. Sampai di arena PRJ waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Jadi Tanya kepada petugas tempat untuk shalat. Katanya ada di lantai dua gedung utama. Ketika sampai tempat yang dituju, ternyata sudah dipenuhi orang yang akan melaksanakan shalat. Ada tempat wudlu khusus, tetapi ruangan shalat hanya cukup untuk shalat berjamaah sekitar tujuh orang berbajar dua baris, tanpa ventilasi dan udara panas serta pengap. Tempat shalat wanita terpisah di suatu ruangan yang tampaknya memang tidak dibuat untuk tempat shalat. Padahal di lantai dua itu masih ada ruangan yang tidak terpakai, tampaknya cukup luas dan cukup nyaman kalau dipakai sebagai tempat shalat.

Di bagian lain juga ada tempat shalat, tapi entahlah apakah cukup luas dan nyaman kalau shalat di ruangan ruangan tersebut. Tetapi penulis duga ruangannya tidak berbeda jauh dengan tempat shalat di gedung ruang utama lantai dua. Menjelang adzan magrib, ada pengumuman yang menghimbau kepada setiap pemilik gerai untuk mematikan sementara sound systemnya karena adzan magrib akan segera berkumandang. Himbauan yang simpatik. Tetapi masalahnya, dengan waktu shalat magrib yang singkat, apakah semua tempat shalat di PRJ dapat menampung para pengunjung yang akan melakukan shalat dalam waktu yang bersamaan?

Hartati Murdaya, seorang penganut Agama Budha sebagai pengelola kawasan PRJ tidak mengerti kebutuhan tempat shalat yang memadai bagi para pengunjung maupun para penjaga gerai PRJ yang beragama Islam. Disinilah perlunya toleransi lebih dalam lagi dari penganut agama lain terhadap kebutuhan tempat shalat bagi penganut agama Islam. Bukan hanya semata-mata mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya, tetapi juga memberikan tempat ibadah yang memadai bagi penganut agama Islam yang mayoritas sebagai pengunjung dan penjaga gerai di PRJ. Kalau saja pihak pengelola PRJ menyediakan fasilitas memadai untuk tempat shalat, penulis yakin para pengunjung akan betah berlama-lama di arena PRJ dan akan banyak lagi dari kocek keluar uang untuk belanja. Saat ini yang dirasakan adalah bagaimana cepat-cepat pulang dari PRJ, karena terbayang ketidaknyamanan melaksanakan ibadah shalat dan menghindar secepat mungkin dari kemacetan lalulintas di kawasan PRJ.

Sesekali mestinya Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, yang juga menjabat salah satu ketua NU DKI Jakarta mencoba shalat dan melihat-lihat semua tempat untuk melakukan shalat, apakah sudah cukup memadai dan bisa menampung para pengunjung PRJ yang akan melaksanakan ibadah shalat. Kalau Gubernur DKI Jakarta tidak bisa menyediakan sarana memadai, maka dapat dianggap dengan sengaja merubuhkan “tiang-tiang bangunan”.(010711)