July 5, 2011

Kebebasan Akademik

Filed under: Uncategorized — rani @ 4:03 pm

Kalau mendengar cerita orang-orang tua tentang jaman dahulu (pemerintah kolonial Belanda) betapa susahnya untuk bisa bersekolah di sekolah yang baik dan bermutu. Lihatlah sejarah para tokoh pergerakan republik ini. Kebanyakan dari mereka, bersekolah di sekolah yang dikelola pemerintah kolonial Belanda. UI sendiri dulunya bernama STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlansche Artsen) atau biasa dikenal sekolah dokter (menak) Jawa. Hanya orang- orang tertentu yang bisa masuk STOVIA, terutama dari kalangan bangsawan/menak Jawa. Jelaslah sekolah waktu itu hanya diperuntukkan bagi golongan tertentu saja. Tidak ada keadilan apalagi pemerataan bagi orang-orang biasa, rakyat kebanyakan.

Saat ini pun, rupanya beberapa orang dari kalangan pejabat atau orang berpunya (hartawan) masih terhinggapi penyakit budaya feodal, yaitu ingin mendapat perlakuan/hak istimewa dalam menempuh pendidikan. Misalnya saja ingin memasukkan anaknya ke perguruan tinggi dengan melalui jalur “khusus” dan tes masuk dianggapnya sebagai suatu formalitas belaka, bukan untuk menguji kecerdasan dan kemampuan calon siswa, apakah dia dapat menyelesaikan pendidikannya tepat waktu. Tidak segan-segan untuk menempuh jalan yang tidak wajar, atau mengirim surat kepada pimpinan perguruan tinggi dengan memanfaatkan fasilitas dan jabatannya, meminta supaya anaknya bisa diterima di fakultas tertentu. Surat-surat ini ataupun sms yang meminta dispensasi setiap tahunnya selalu saja ada.

Dulu pernah terbetik kabar, katanya pimpinan perguruan tinggi mempertimbangkan jasa-jasa dan pengabdian seseorang kepada negara atau pun kepada almamater, dengan syarat calon mahasiswa tersebut lolos dari batas nilai yang telah ditentukan. Misalnya ada 10 orang calon yang memenuhi batas nilai standar untuk masuk program studi tertentu. Tetapi karena kursi yang tersedia hanya 8 orang, berarti ada dua orang yang tidak diterima. Nah, disinilah diperhitungkan faktor pengabdian dan jasa orang tuanya. Tetapi ini pun mempunyai kelemahan, bagaimana menentukan kriteria dan jasa seseorang kepada Negara atau almamater lebih besar daripada yang lainnya? Ada pimpinan yang tegas-tegas menolak kriteria ini, ada pula pimpinan yang menerapkan pola jasa dan pengabdian ini.

Karena persoalan seperti di atas serta tuntutan dari publik untuk memberikan pemerataan dan keadilan bagi semua warga masyarakat tanpa kecuali, maka disini pentingnya ditegakkan kebebasan akademik. Artinya seseorang bisa masuk pendidikan tinggi setelah melalui serangkaian tes masuk yang telah ditentukan, bebas dari pengaruh orang tua yang punya jabatan tinggi di pemerintahan ataupun orang yang berasal dari kalangan bangsawan/suku tertentu ataupun orang yang mempunyai uang banyak. Inilah sebetulnya hakikat kebebasan akademik itu, seseorang menjadi mahasiswa dilihat dari kecerdasannya, bukan dari yang lain-lain. Sekali kebebasan akademik ini tercemar, karena adanya pertimbangan-pertimbanan lain di luar kecerdasan, maka jangan harap hasil lulusannya akan baik.

Seorang pimpinan UI yang bergelar doktor bercerita, dia berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Bisa berkarir di UI dan merasa diuntungkan dengan adanya kebebasan akademik yang dipegang teguh di lingkungan UI. Andaikan saja, penilaian seseorang bisa masuk UI didasarkan pada jabatan orang tua, latar belakang keluarga bangsawan ataupun orang yang mempunya uang, maka dia tidak mempunyai kesempatan menjadi mahasiswa dan berkarir di UI.

UI mencoba untuk menegakkan kebebasan akademik ini dengan membuat motto untuk menjadi bahan renungan sivitas akademikanya, yaitu Veritas (kebenaran), probitas (kejujuran), Iustitia (keadilan). Dan UI selalu menyatakan, jika seseorang telah lolos seleksi masuk, tidak ada kamusnya menolak calon tersebut karena tidak bisa membayar biaya pendidikan. Karena UI menyediakan berbagai skenario untuk membantu dalam bidang finansial, mulai dari pemberian beasiswa 1000 anak bangsa, pembayaran secara mengangsur biaya operasi pendidikan, hingga pembebasan sama sekali biaya operasional pendidikan.

Tahun lalu, (kalau tidak salah) seorang lulusan SMA dengan nilai tertinggi se provinsi Jawa Timur, orang tuanya tidak mampu membiayai biaya operasional pendidikan, bisa masuk Fakultas Kedokteran UI tanpa tes dan semua kebutuhan selama pendidikan ditanggung seorang anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UI Rachmat Gobel. (050711)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment