June 6, 2011

Tugas Berat Mendiknas M. Nuh

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:09 pm

Dalam pemberitaan media beberapa hari ini, berkaitan dengan peringatan lahirnya Pancasila, hangat diperbincangkan Mendiknas mendapat tugas untuk memasukkan Pancasila ke dalam kurikulum pendidikan. Ini suatu tugas yang cukup berat mengingat pengalaman masa lalu pada jaman Orde Baru Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila) di lakukan tidak saja di lembaga pendidikan tetapi juga di berbagai instansi pemerintah dan swasta pada semua berbagai lapisan masyarakat.

Pada saat memperingati Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei lalu, dalam teks pidato mendiknas, terlihat jelas program Kementerian Pendidikan Nasional yaitu bagaimana mengembangkan pendidikan anak usia dini (PAUD) sebagai landasan untuk membina karakter dan watak generasi muda yang akan datang. Tetapi perkembangan yang begitu cepat berubah dengan adanya peristiwa teror bom yang mengatasnamakan agama dan konflik horizontal antar golongan perilaku beberapa aparatur Negara dan politikus yang tidak lagi mengindahkan etika, membuat bahan perenungan yang mendalam, pasti ada yang tidak beres dengan pada sistem pemerintahan. Pidato mantan Presiden Habibie pada peringatan Hari lahirnya Pancasila dengan tepat sekali membeberkan ketidakberesan itu. Bangsa ini sudah melupakan esensi dan makna sebenarnya hakekat Pancasila.

Beberapa waktu lalu penulis sempat menghadiri acara promosi doktor bidang Antroplogi di FISIP UI, yang memakai landasan teori invensi tradisi Eric Hobsbawm (1992). Salah satu kesimpulannya antara lain bagaimana invensi tradisi bisa berlangsung terus dan tetap eksis sehingga kepemimpinan dengan segala macam hak atau kewenangan akan terus langgeng. Itulah barangkali yang terjadi pada masa Orde Baru, Pancasila menjadi satu alat untuk melanggengkan kekuasaan. Kalau jaman Orde Lama tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari Lahir Pancasila, maka jaman Orde Baru ada hari Kesaktian Pancasila, yang justru diperingati dengan lebih meriah. Tidak itu saja, bahkan dibuatkan pula film khusus untuk lebih terkesan secara mendalam kepada khalayak.

Kini pemerintah sudah menyadari, perlu strategi baru bagaimana invensi tradisi Pancasila bisa ditanamkan kembali kepada setiap warganegara Indonesia dengan baik dan benar, bukan untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan yang berkuasa sekarang, melainkan untuk menjadikan warganegara sadar akan hak dan kewajibannya demi mencapai kesejahteraan rakyat dan kejayaan bangsa.

Pengalaman yang dilakukan Prof.Dr. Nugroho Notosusanto sewaktu menjadi Rektor UI dimulai dengan melakukan ujicoba pelaksanaan P4 pada kelompok kecil di lingkungan mahasiswa baru. Waktu itu masih bersifat sukarela dan tidak ada indoktrinasi. Mahasiswa diberi kebebasan untuk berbicara dan berargumentasi. Dosen dan para fasilitator hanya bersifat membimbing untuk kelancaran jalannya kegiatan diskusi. Salah satu peserta yang paling aktif di kalangan para mahasiswa baru UI yaitu saudara Effendi Gozali yang kini menjadi salah seorang pakar komunikasi politik. Kebetulan penulis masih menyimpan rekaman video kegiatan P4 mahasiswa baru UI. Tidak ada salahnya kalau Kementerian Pendidikan mempelajari dan mengevaluasi kegiatan P4 tempo dulu. Ambil yang baiknya dan buang yang jeleknya. Dengan demikian maka Kementerian Pendidikan tidak mulai dari nol sama sekali dalam merancang kurikulum Pancasila.(06052011)

2 Comments »

  1. mohon tanya jika masih menyimpan video dari penataran P4 bisa saya minta salinanya?saya mahasiswa FISIP UI yg sedang menulis skripsi mengenai P4…terima kasih

    Comment by DANA AGRIAWAN — August 22, 2013 @ 3:25 am

  2. memang masih diperlukan video penataran P4? Cuma sekedar cuplikan berbagai kegiatan di Fakultas khususnya di FISIP. Tapi it pun tidak menggambarkan apa itu P4.

    Comment by rani — March 21, 2016 @ 11:01 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment