June 6, 2011

Buku, Aktivis, Intelektualitas dan Aktualisasi Diri

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:59 pm

Ide tulisan ini muncul ketika di salah satu milis beramai-ramai mengucapkan selamat kepada anggotanya yang telah berhasil menulis dan membukukan ide-ide serta pemikirannya tentang sesuatu hal yang menjadi fokus pengamatan atau hasil penelitiannya. Suatu prestasi yang patut diapresiasi, karena tidak setiap orang mampu menulis dan membuat buku, disebabkan berbagai kendala antara lain kesibukan dan ketiadaan waktu untuk merenung mengendapkan ide/pikirannya menjadi satu tulisan.

Dalam lingkungan akademik, perkara tulis menulis bukan sesuatu yang asing. Sejak tingkat pertama seorang mahasiswa sudah disibukkan untuk membuat laporan atau tugas yang diberikan dosen, bahkan kesarjanaan (S1) seseorang dilihat dan diuji dari hasil tulisan skripsi yang dibuatnya. Tetapi bukankah skripsi juga bisa dibuatkan orang, jadi calon sarjana tidak perlu repot membuat skripsi? Betul, tetapi ada kasus seorang teman satu angkatan penulisan skripsinya dibantu teman-temannya. Ketika dia maju sidang, tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan penguji, karena dia tidak menguasai materi skripsi yang diajukan. Padahal dosen pembimbing skripsinya menjabat Ketua Jurusan Program Studi. Seorang teman lain lagi, dia menulis skripsinya sampai ratusan halaman, menyamai tulisan disertasi doktor yang tebalnya seperti bantal. Keruan saja para pembimbingnya meminta untuk ditulis ulang dengan lebih ringkas.

Di Fakultas Hukum UI, ada tradisi beberapa orang yang melakukan promosi doktornya, kepada para undangan diberikan disertasi yang sudah menjadi buku yang enak dibaca. Artinya disertasinya diedit sedemikian rupa, dengan bahasa yang popular tetapi tetap mengindahkan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Keuntungannya, bagi doktor yang kebetulan berstatus PNS/dosen, menjadi tambahan untuk nilai kum bagi jenjang kepangkatannya untuk memenuhi persyaratan menjadi Guru Besar. Di Fakultas lain, belum pernah melihat disertasi yang langsung dibuat menjadi buku. Hanya sebatas dibuatkan ringkasan disertasi.

Tiga tahun belakangan ini Badan Eksektuif Mahasiswa (BEM) UI setiap akan mengakhiri masa kerjanya membuat buku, rangkuman tulisan dari berbagai kalangan yang menyoroti permasalahan aktual yang terjadi di masyarakat. Walaupun buku tersebut beredar dalam lingkungan terbatas, suatu kemajuan dan kesadaran dari para aktivis mahasiswa akan pentingnya penulisan buku.

Akhir Maret lalu, penulis sempat menghadiri peluncuran kembali buku otobiografi proklamator Bung Hatta yang diselenggarakan penerbit buku Gramedia. Buku yang ditulis sendiri oleh Bung Hatta sendiri setelah tidak menjabat sebagai wakil presiden dan diterbitkan untuk pertama kalinya oleh penerbit Tintamas tahun 1979. Dari situlah kita dapat melihat kembali gagasan dan kiprah yang dilakukan Bung Hatta sejak jaman pergerakan ketika menimba ilmu di Bleanda hingga kemerdekaan, yang tidak semua orang mengalami dan menjadi pelaku sejarah. Taufik Kiemas, Ketua MPR memberikan komentar kepada penulis, ciri khas dari para tokoh jaman dahulu, selain aktivis dan seorang intelek juga mempunyai kemampuan menulis yang bagus.(10052011)

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment