May 24, 2011

UI Harus Segera Bertindak!

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:17 pm

Ketika siang ini (24/05) berjalan di tempat parkir Pusat Administrasi Universitas Kampus Depok, tiba-tiba terdengar teriakan yang menyebut nama penulis. Ketika menengok kearah teriakan suara tersebut, ternyata dua orang Guru Besar Fakultas Teknik UI tengah berjalan mendekati penulis. Dari teriakan nada suaranya terkesan ada tekanan kekesalan dan kemarahan yang tertahan. Waduh…, salah apakah gerangan daku sampai dipanggil dengan nada teriakan seperti itu. Hati deg-degan juga.

Setelah agak dekat, masih dengan nada suara kesal Guru Besar tersebut menumpahkan kekesalannya dengan mengatakan, ”UI harus segera bertindak! Jangan membiarkan penipuan terus berlanjut. Buat apa UI banyak satpam dan ahli IT, tapi tidak bisa melacak penelepon penipu. Pasti berkeliaran di sekitar UI.” Demikian keluhan Guru Besar tersebut. Rupanya Guru Besar tersebut pernah ditelpon, yang menyatakan dia diundang untuk menghadiri seminar atas perintah Rektor. Ketika dikejar dengan beberapa pertanyaan untuk mengetahui identitas si penelepon, telepon segera ditutup.

Tampaknya telepon kepada para Guru Besar yang mengatasnamakan Rektor UI sudah sangat meresahkan. Bukan saja terhadap tindakan penipuannya, tetapi pencatutan nama Rektor UI yang mencemarkan kewibawaan UI, dibiarkan terus berlangsung dan tidak ada tindakan pengejaran dan penangkapan terhadap pelaku penipuan. Sebab, kalau hanya sekedar himbauan dan peringatan melalui surat tentang adanya penipuan, tidak akan membuat jera si penipu.

Ditengah-tengah ketika UI membangun citranya sebagai universitas terkemuka dengan menunjukkan prestasi dalam berbagai bidang, tiba-tiba saja menyeruak penipuan terhadap para Guru Besar yang menjadi salah satu pilar penopang kemajuan UI seperti sekarang ini. Tetapi ternyata pihak UI sendiri tidak terlihat ada tindakan nyata untuk menghentikan “perusakan” citra UI. Sungguh sangat disayangkan. (24052011)

May 23, 2011

Profesor pun Jadi Obyek Penipuan

Filed under: Uncategorized — rani @ 9:43 am

Kejahatan dan penipuan dimana-mana senantiasa mengintai mangsanya. Tidak tebang pilih atau pilih bulu, siapa pun bisa menjadi sasaran kejahatan. Mulai dari dari “orang kecil” yang berpenghasilan pas-pasan, orang kaya sampai orang berpendidikan dan bergelar profesor bisa menjadi mangsa kejahatan dan penipuan. Waspadalah!

Hari ini (11/05) saat mengikuti ceramah tentang media yang disampaikan Arif Suditomo di Gedung Pusat studi Jepang kampus Depok, telpon berdering, di seberang sana ada suara,” saya baru nyampe nih dari Amsterdam, tolong di sms kan nomor hp rektor dan hp sekretaris universitas.” Ternyata dari seorang profesor salah satu fakultas di UI. Konon katanya, dia mendapat undangan melalui telpon, untuk mengikuti satu seminar riset yang diselenggarakan Direktorat Perguruan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional. Ada sejumlah dana untuk kegiatan tersebut dan profesor tersebut diminta nomor rekeningnya, karena akan segera dikirim uang untuk riset tersebut. Si penelepon tersebut juga sudah meminta persetujuan rektor dan Sekretaris universitas. Tetapi rupanya sang Profesor tidak begitu mudah percaya, karena selain suara di seberang telepon sangat asing, biasanya harus ada persetujuan dulu dari Dekan Fakultas dan biasanya pihak fakultas yang menghubungi dan menunjuknya sebagai wakil dari universitas.

Sewaktu penulis menanyakan kepada sekretaris universitas tentang adanya undangan mengikuti seminar riset melalui telpon, memang kejadian tersebut bukan kali ini saja terjadi. Sudah cukup lama bahkan dia pun salah seorang yang pernah diundang melalui telpon untuk mengikuti riset yang diselenggarakan Kopertis III. Kebetulan Sekretaris Universitas kenal dekat dengan Direktur Kopertis III, karena itu dia menjawab “nanti saya konfirmasi dulu ke Direktur Kopertis III,” maka seketika itu si penelpon menutup pesat telponnya. Tetapi apa lacur, beberapa orang Profesor ada yang sempat memberikan nomor rekeningnya. Entah berapa banyak uang di rekeningnya yang kena dibobol. Karena itu, Rektor UI telah membuat surat edaran kepada berbagai fakultas tentang modus penipuan gaya baru ini.

Sebetulnya dalam hal undangan riset atau seminar di luar lingkungan UI sudah ada prosedur yang jelas birokrasinya. Misalnya saja biasanya pihak universitas akan menulis surat kepada dekan fakultas dan pimpinan fakultas ini yang menunjuk siapa yang boleh ikut seminar atau riset di luar UI. Tidak bisa menerima begitu saja undangan via telpon. Tetapi memang ada dosen yang diam-diam tanpa sepengetahuan pimpinan fakultas/universitas yang menerima atau melakukan riset di luar, mengabaikan prosedur yang telah ditetapkan pihak universitas.(11052011) .,._ Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New Topic

May 12, 2011

13 Tahun Reformasi Jadi tukang dokumentasi

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:05 am

Hari ini (12/05) tepat tigabelas tahun Reformasi digulirkan dimana Presiden Soeharto menyatakan mengundurkan diri sebagai presiden mandataris MPR, atau istilah yang lebih popular waktu itu Soeharto “lengser keprabon”. Suatu peristiwa yang menandai berakhirnya pemerintahan Rezim Orde Baru dan dimulainya pemerintahan Rezim Orde Reformasi. Walaupun pemicu utama gerakan reformasi bermula dari Kampus Trisakti, ketika para mahasiswa tengah berdemo ditembaki oleh penembak jitu yang tidak dikenal sehingga menyababkan 4 mahasiswa tewas tertembus peluru. Tetapi di Kampus UI pun (Salemba dan Depok) aksi-aksi demo berlangsung juga. Tulisan di bawah ini pengalaman penulis pada saat menjelang kejatuhan Rezim Orde Baru, yang melakukan dokumentasi video kegiatan aksi-aksi demonstrasi di dalam kampus UI.

Kalau ada pepatah mengatakan sejarah tidak akan berulang , atau ada juga kata-kata bijak yang menyatakan kesempatan tidak akan datang dua kali, maka peristiwa demo-demo reformasi di dalam kampus UI merupakan peristiwa langka yang barangkali tidak bisa diulang untuk kedua kalinya. Karena itulah ketika suasana politik di tanah air sedang hangat-hangatnya menuntut pengunduran diri Soeharto sebagai mandataris MPR, maka ingatan penulis menerawang kepada peristiwa tahun 1966 ketika kampus UI pun hangat dengan demo-demo yang menuntut Soekarno meletakkan jabatan. Dokumentasi yang ada di arsip media cetak hanya terbatas pada berita dan foto-foto saja. Karena itu timbul pemikiran, melakukan dokumentasi dalam bentuk audio visual. Tetapi terbatas dokumentasi di lingkungan kampus, sebab kalau sampai ke luar kampus, pekerjaan utama di kampus akan sangat terganggu. Hanya ada satu kegiatan di luar kampus yang diikuti, yaitu saat pimpinan mahasiswa UI melakukan dialog dengan Fraksi ABRI di MPR (waktu itu Yunus Yosfiah pimpinan Fraksi ABRI).

Beberapa demo yang didokumentasikan antara lain demo yang dilakukan di Kampus Salemba dan Depok. Demo ini pun macam-macam, ada yang diselenggarakan atas nama BEM UI, ada juga mengatasnamakan kelompok mahasiswa di luar Senat Mahasiswa (SM) UI. Ada juga Demo atas nama ILUNI. (waktu itu Ketua ILUNI Dijabat Hariadi Darmawan, dokter, pensiunan Mayor Jenderal TNI, jaman mahasiswa dulu pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Mahasiswa UI). Atas Prakarsa ILUNI, di Kampus Depok diselenggarakan “malam renungan reformasi” yang diadakan di tengah-tengah lapangan di depan Gedung Rektorat (Pusat Administrasi Universitas). Mengundang W.S Rendra dan beberapa seniman dan pemusik ternama waktu itu. Dalam satu kesempatan, demo besar-besaran dilakukan para mahasiswa UI, rombongan demo diajak ke Garbatama, pintu keluar kampus yang dekat ke jalan raya menuju ke Lenteng Agung. Tetapi sebelum keluar pagar kampus, pasukan polisi dan tentara sudah siap menghadang. Rombongan mahasiswa langsung berhadap-hadapan dengan polisi dan tentara yang sudah siaga juga. Selama kurang lebih setengah jam kedua kelompok saling siaga. Hanya tinggal sedikit saja “dipicu” atau diberi aba-aba “serbu”, bisa terjadi keadaan yang tidak bisa dikendalikan. Untunglah hal tersebut tidak terjadi. Yang terjadi adalah kelompok mahasiswa berbagai makanan dan minuman dengan aparat keamanan yang siap siaga didepan pagar kampus. Demo yang cukup mengundang partisipasi kampus juga terjadi di lapangan parker sebelah timur Balairung. Waktu itu yang melakukan orasi adalah Amien Rais dan Faisal Basri. Pada kesempatan demo di bundaran dekat Fakulas Psikologi, Pendi seorang karyawan FISIP (bagi mahasiswa yang sempat berkuliah di Kampus Rawamangun pasti mengenal dengan baik) bisa berdampingan dan melakukan orasi bersama Prof. Sri-Edi Swasono, Guru Besar FEUI.

Di Kampus Salemba lain lagi. Situasi betul-betul terbuka, sehingga orang luar kampus bisa dengan leluasa bisa masuk dan nimbrung ikutan demo. Hal ini bisa dilihat dari wajah-wajah yang ikutan demo, sepertinya bukan “tampang mahasiswa”. Ada yang bawa handycam dan ada pula yang menyelipkan Koran di ketiaknya. Dalam satu kesempatan demo di halaman parkir FKUI, mantan Rektor UI Prof. M.K. Tadjudin turut melakukan orasi. Di Halaman FKUI pula, para mahasiswa beramai-ramai mencoret baliho yang bertuliskan “Selamat Datang di Kampus Perjuangan Orde Baru” menjadi “Selamat Datang di Kampus Perjuangan Rakyat”. (Belakangan kata “Rakyat” dihapus). Pada satu aksi demo yang berlangsung di bawah pohon beringin dekat gedung Pascasarjana UI, Prof.Dr. Mahar Mardjono sempat pula dihadirkan bersama dengan Prof.Dr. Sri-Edi Swasono. Demo yang cukup bersejarah terjadi di halaman Parkir FKUI, saat Ketua BEM UI Rama Pratama (Mahasiswa Akuntasi FEUI) melakukan orasi yang mendapat liputan secara meluas tidak saja dari media lokal tetapi juga media asing. Setelah demo tersebut yang diguyur hujan cukup lebat, wakil pimpinan mahasiswa UI melakukan pertemuan dengan anggota MPR di Senayan.

Rombongan wakil pimpinan mahasiswa UI yang pergi ke Senayan naik mobil bantuan dari pihak kepolisian dan selama perjalanan dari Kampus Depok ke Senayan mendapat pengawalan yang cukup ketat. Rektor UI (waktu itu) Prof.Dr. dr. Asman Budisantoso Ranakusuma dan wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Drs. Umar Mansyur, MSc sangat mendukung delegasi mahasiswa pergi ke MPR. Selain fungsionaris SM UI, hampir semua Ketua Senat Mahasiswa Fakultas ikut ke Senayan. Terjadi dialog dan debat yang cukup seru antara mahasiswa dan para anggota Fraksi ABRI. Hari Sabarno (yang kemudian menjadi Mendagri) sempat emosional dengan komentar dari para mahasiswa UI. Rama Pratama mewakili para mahasiswa UI memberikan pernyataan kepada ketua Fraksi ABRI Yunus Yosfiah, yang menyatakan menolak Soeharto sebagai mandataris MPR. Peristiwa ini cukup penting, karena hanya delegasi mahasiswa UI yang diberi kesempatan bertemu dengan anggota MPR dan memberikan pernyataan secara resmi.

Sebelum delegasi mahasiswa UI memberikan pernyataan, beberapa wakil dosen UI sebetulnya sudah memberikan pernyataan penolakan Soeharto sebagai mandataris MPR. Bahkan pimpinan UI dengan beberapa dosen senior sudah bertemu dengan Soeharto di Cendana. Waktu itu Prof. Miriam Boediardjo atas nama pimpinan UI menyatakan , sangat menghargai bila Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden. Sayangnya peristiwa tersebut tidak sempat penulis dokumentasikan. Dan hingga hari ini tidak kemana harus mencari dokumentasi audio visual saat-saat bersejarah tersebut.

Setelah “hingar bingar” aksi-aksi demo usai, UI pun tidak tinggal diam. Berbagai simposium satelit dilakukan di kampus, dengan mengundang para pakar dalam bidangnya masing-masing, untuk memberikan masukan kepada pemerintahan baru, permasalahan apa saja yang harus segera dibenahi. Hasil berbagai simposium itu dirangkum dalam satu rangkuman eksekutif dalam sebuah buku dan diberikan kepada pemerintah. Ini mengingatkan peristiwa tahun 1966, ketika Orde Lama Tumbang, di kampus UI salemba diadakan seminar nasional angkatan darat yang membicarakan arah masa depan bangsa.

Berbagai video dokumentasi itu ada yang sudah ditransfer ke dalam bentuk digital (DVD), ada pula yang masih dalam bentuk pita kaset (video-8 dan VHS), ada puluhan kaset yang belum sempat dialihmediakan. Perlu waktu dan peralatan khusus yang kini peralatan tersebut sudah sudah susah untuk didapat di pasaran. Tampaknya di kalangan pimpinan UI kesadaran akan pentingnya dokumentasi audio visual masih sangat kurang, kalau tidak mau dikatakan tidak ada. Perhatian dan bantuan yang diperlukan masih sangat kurang untuk mendukung kegiatan dokumentasi. Kalau tidak mengingat pengetahuan untuk generasi mendatang, itu kaset-kaset sudah dibuang. Untunglah ada perpustakaan baru di UI, yang konon katanya ada ruangan audio visual, tetapi belum ada isinya.(12052011)