February 18, 2011

Jum’at Bagi Pemuda Mesir

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:42 pm

Ini mungkin artikel dengan judul yang ada kata “jum’at” untuk kesekian kalinya. Kebetulan saja ada kasus yang berkaitan dengan hari Jum’at, menarik untuk dibicarakan. Ternyata momen Jum’at mempunyai arti khusus, bagi sebagian orang atau masyarakat tertentu. Misalnya pernah mendengar orang bicara, kalau mau bepergian jauh jangan hari Jum’at karena akan membawa sial. Atau bahkan sebaliknya, justru pada hari Jum’at banyak yang melaksanakan akad nikah atau pesta sunatan.

Tetapi rupanya bagi Bangsa Mesir hari Jum’at mempunyai arti yang khusus. Karena para pemuda setelah selesai melaksanakan shalat Jum’at melakukan demonstrasi di lapangan Tahrir, yang kemudian diikuti para intelektual, mahasiswa, politikus hingga rakyat biasa yang jumlahnya mencapai jutaan orang. Demonstrasi tersebut menuntut Presiden Mubarak mundur dari jabatannya. Selain itu para demonstran juga menuntut supaya dalam pemerintahan ada kementerian yang khusus mengurus yang berkaitan dengan pemuda.

Mubarak yang telah berkuasa selama tigapuluh tahun tadinya tetap bertahan tidak mengindahkan tuntutan para demonstran. Kelamaan memimpin membuatnya menjadi lamban dan tidak peka terhadap tuntutan masyarakat. Tidak bisa dipersalahkan, karena memang di dalam konstitusi Mesir tidak ada pembatasan lamanya seseorang menjabat presiden. Untuk mengulur-ulur waktu Mubarak mengangkat seorang wakil presiden yang memang tidak diatur pula dalam konstitusi. Tetapi para demonstran tetap pada tuntutannya semula. Akhirnya pada Jum’at keempat sejak demonstrasi digulirkan Mubarak menyatakan “lengser keprabon”. Pemerintahan Mesir untuk sementara dipegang pimpinan militer sampai selesai perundingan dengan para pihak yang melakukan demonstrasi.

Ada hal menarik kalau Kalau melihat Surat Al Jumu’ah, surat ke-62 didalam Al- Qur’an beberapa pokok isinya antara lain semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah yang maha Perkasa, Maha Kuasa dan Maha Bijaksana. Disinggung pula tentang anggapan hanya orang Yahudi yang akan masuk surga, tapi ditantang Allah kalau memang demikian mintalah dipercepat mati, tapi mereka tidak mau karena merasa banyak dosa telah diperbuat. Lalu dalam surat itu juga ada seruan untuk melakukan shalat jum’at dengan menghentikan sejenak segala kegiatan yang bersifat duniawi. Setelah itu diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi untuk mencari karuniaNya. Dan Allah akan memberikan karunia kepada yang Dia kehendaki.

Rupanya ayat terakhir tentang karunia ini hanya diberikan kepada para pemuda Mesir dan tidak dikehendaki karunia kepada Mubarak, sehingga para pemuda berhasil “melengserkan” Mubarak. Inilah ironi kekuasaan, sangat berbahaya kekuasaan tanpa ada kontrol dan pembatasan. Karena itu, maka baik juga untuk dijadikan contoh, Ketika Nabi Muhammad mendirikan pemerintahan di Madinah, dia hanya berkuasa selama 10 tahun. Tetapi sistem pemerintahannya (masyarakat Madani) telah berhasil mempengaruhi peradaban masyarakat dunia.

Rangkap Jabatan

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:16 am

Sudah lama rasanya tidak menulis untuk konsumsi umum, ada semacam kerinduan untuk melakukan komunikasi dalam bentuk tulisan. Tetapi masalahnya makin ke sini tumbuh kesadaran untuk tidak asal menulis saja. Selain untuk merefleksikan realitas yang pernah dialami, juga dapat menyajikan sesuatu yang baru dan dapat memberikan inspirasi bagi pembaca. Karena keinginan seperti itulah, maka terasa ada semacam hambatan ketika akan memulai menulis. Dengan pembukaan tulisan seperti ini, diharapkan pembaca yang budiman dapat memaklumi kalau ternyata tulisan ini masih banyak kekurangan dan tidak sesuai harapan seperti telah disebutkan terdahulu.

Kali ini pembicaraan akan diarahkan kepada persoalan staf pengajar yang merangkap tugas sebagai birokrat di lingkungan eksekutif maupun legislatif. Atau istilah sekarang yang popular yaitu perkara rangkap jabatan. Beberapa diantara staf pengajar UI ada yang diperbantukan sebagai tenaga ahli atau menduduki jabatan di jajaran birokrasi pemerintahan karena sangat diperlukan keahliannya. Sebagai PNS ada aturan yang harus dipatuhi, paling tidak sepengetahuan dan disetujui atasan atau pimpinan fakultas/universitas dimana dia mengajar. Hal ini untuk memudahkan mencarikan penggantinya mengajar matakuliah yang diasuhnya. Sehingga dengan demikian tidak merugikan mahasiswa/peserta didik.

Seorang teman yang dulu sama-sama aktif di pers kampus, diperbantukan sebagai staf ahli di kantor Wakil Presiden menyatakan, sudah mendapat persetujuan dari pimpinan fakultasnya dan dalam waktu-waktu tertentu masih bisa memberikan kuliah kepada mahasiswa. Suatu saat seorang wakil pimpinan fakultas, tiba-tiba saja masuk dalam jajaran lingkaran kecil Presiden. Waktu ditanyakan kepada atasannya, apakah dia dipromosikan fakultas atau adakah permintaan khusus dari Sekretariat Negara, jawabnya tidak. Hebat juga, karena selama ini dia termasuk orang yang pendiam dan tidak terlalu dikenal di lingkungan universitas.

Waktu ada acara lokakarya 7 perguruan tinggi Badan Hukum Milik Negara awal Februari lalu, salah seorang delegasi dari satu perguruan tinggi mengenalkan dirinya selain sebagai staf pengajar juga mengaku salah seorang wakil rakyat dari partai tertentu. Luar biasa juga seorang PNS menjadi anggota parpol dengan tidak menanggalkan ke-PNS-annya. Waktu Wisuda tanggal 5 Februari penulis berkesempatan mengobrol dengan salah seorang pimpinan Fakultas. Ketika sedang asyik membicarakan sesuatu tiba-tiba didekati salah seorang Guru Besarnya. Dari obrolan tersebut, ternyata Guru Besar ini pun menjadi anggota legislatif dari salah satu partai politik. Setelah sang Guru Besar itu pergi, pimpinan fakultas itu menyatakan dia tidak tahu sama sekali kalau Guru Besar tersebut menjadi anggota legislatif apalagi meminta ijin kepadanya sebagai pimpinan fakultas.

Ada untung-ruginya jika ada staf pengajar menjadi anggota legislatif. Selama “aturan main” dipatuhi barangkali tidak menjadi masalah. Tetapi kalau “menabrak-nabrak”, dikhawatirkan di belakang hari akan menghadapi masalah. Misalnya soal penggajian. Kalau Departeman Keuangan tahu, ada dosen merangkap jabatan, bukan tidak mungkin dia diharuskan untuk mengembalikan gaji/tunjangan dobel yang pernah diterimanya. Pihak universitas pun akan dipersalahkan karena dianggap lalai membiarkan hal itu terjadi. Akhirnya terpulang kepada hati nurani masing-masing, apakah rangkap jabatan itu merupakan sesuatu yang menjadi panggilan hatinya dan sesuai dengan etika dan aturan yang berlaku, ataukah ada faktor lain.