February 1, 2011

Perjalanan Nostalgia

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:31 am

Pada pertengahan Januari lalu, penulis bersama istri dan kedua anak penulis melakukan perjalanan nostalgia Jakarta – Mataram Lombok Nusa Tenggara Barat menyusuri rute jalan buatan Daendels Anyer – Panarukan hingga Banyuwangi, menyeberang ke Bali menyusuri pulau Dewata dari ujung barat hingga ujung timur, lalu naik feri menyebrangi selat Lombok, hingga sampai ke Kota Mataram. Perjalanan darat sejauh 1330 kilometer (tanpa memperhitungkan jarak selat Bali dan selat Lombok) ditempuh dalam waktu 46 jam. Alhamdulillah selama perjalanan dengan mengendarai kijang Innova yang baru dibeli dari Jakarta untuk disewakan di Lombok, tidak banyak menemui hambatan yang berarti.

Tahun 1986 untuk pertama kalinya penulis pergi ke Lombok dengan memanfaatkan jasa Kereta api. Mengantar sahabat yang akan bertugas sebagai dokter inpres di Kecamatan Jereweh Kabupaten Sumbawa besar. Waktu itu perkuliahan sudah habis tinggal membuat skripsi. Tetapi sahabat ini “meracuni” dan membujuk untuk ikut ke Lombok. Kebetulan waktu itu mempunyai saudara yang bertugas di Bulog Lombok. Di Surabaya sempat mengingat semalam di rumah family sahabat yangdokter Inpres tersebut. Begitu pula waktu tiba di Bali, sempat menginap dan jalan-jalan di Bali selama dua hari. Setelah itu barulah perjalalanan dilanjutkan ke Pulau Lombok terus menyebrang ke Pulau Sumbawa dengan naik perahu yang mengangkut kayu. Perjalanan terhenti sampai di Sumbawa Besar, karena untuk sampai ke Jereweh memerlukan waktu yang cukup lama. Setelah mendapatkan oleh-oleh dendeng rusa dan madu asli Sumbawa, barulah balik lagi ke Lombok. Dari Lombok pulang ke Jakarta naik bis Safarai Darma Raya.

Kemudian kali yang kedua pada penghujung tahun 1989. Saat itu baru saja selesai mengikuti CPNS sebagai pegawai UI. Sambil menunggu pengumuman, mengikuti tes sebagai tenaga penyuluh kesehatan CARE Internasional dan ternyata lolos ditempatkan di Mataram Lombok. Selama 6 bulan melakukan kegiatan membantu petugas posyandu memberikan penyuluhan kesehatan di salah satu desa di Kecamatan Gunungsari yang dekat ke pantai Senggigi. Dalam masa itu, telah dapat dibuat kartu peragaan penyuluhan kesehatan untuk para kader. Juga telah dibuat beberapa seri sandiwara radio yang berbahasa Sasak, bekerjasama dengan salah satu radio swasta. Di Lombok pula bertemu dengan alumni Fakultas Psikologi UI, mantan aktivis mahasiswa bernama Djodi Wuryantoro yang menjadi ketua LSM yang mengembangkan pembuatan perahu nelayan. Dengan mas Djodi ini penulis sempat bertemu di Malang sebagai pemimpin redaksi harian “Suara Indonesia”. Penulis berkesempatan melakukan penelitian media ini untuk memenuhi tugas mata kuliah “Manajemen Media Massa”, matakuliah yang diberikan Dra. Henny S Widianingsih, MSi (yang kemudian menjadi atasan penulis di Humas UI). Pada masa ini, kebetulan sahabat dokter yang bertugas di Jereweh Sumbawa tadi telah pindah tugas di rumah sakit Jiwa Selagalas Mataram. Jadi banyak teman-teman baru tenaga kesehatan. Bahkan sempat berkenalan dengan Kepala Kanwil Kesehatan Propinsi Nusa Tenggara Barat. Beberapa tahun kemudian Kepala Kanwil Kesehatan ini bertugas di Departemen Kesehatan Pusat dan menjadi atasan langsung istri penulis. Mantan kepala Kanwil kesehatan ini pula ketika terjadi rasionalisasi di lingkungan Departemen kesehatan, menyarankan istri penulis untuk pindah ke Departemen Pemberdayaan Perempuan (kini Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak).

Tahun 1991 penulis juga berkesempatan pergi lagi Ke Lombok.Kali ini bertugas sebagai peneliti pariwisata, sebagai anggota tim Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu Sosial (LPPIS) FISIP UI yang mendapat order penelitian pariwisata dari Departemen Pariwisata, Pos, Telekomunikasi. Bersama dengan Dra. Arintowati Handoyo MA dan Fatimah Satrio SH menjelajah berbagai wilayah wisata di Lombok. Waktu itu Gubernur NTB dijabat May Jen (kopassus) Warsito. Penangan pengembangan pariwisata waktu itu ditangani lembaga semi swasta bernama Lombok Tourism Development Center (LTDC).

Karena pengalaman di atas itulah penulis melakukan nostalgia dan semua peristiwa yang terjadi diceritakan kepada istri dan anak-anak, termasuk juga cerita tentang diri penulis yang nyaris jadi orang Lombok akan mempersunting orang Sasak. Sewaktu ceita ini didengar istri penulis, ternyata famili orang Sasak ini dikenal baik oleh istri penulis dan sempat menginap di rumahnya. Nostalgia di Lombok ini seperti suatu rangkaian kejadian yang serba kebetulan. Dan ada satu satu kebetulan lagi yang tidak diduga. Yang mengajak penulis dan keluarga ke Lombok adalah orang Sasak asli yang dahulu sempat menjadi pengasuh anak-anak keluarga penulis yang kerja di Bulog itu. Orang Sasak ini sempat menjadi bawahan sahabat penulis yang berdinas di rumah sakit jiwa. Kini dia menjadi pejabat eselon III di rumah sakit Umum Mataram, usaha sampingannya menyewakan mobil untuk para turis.

Dunia ini memang kecil, nostalgia di Lombok satu contoh saja adanya saling keterkaitan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, walaupun peristiwa tersebut mempunyai rentang waktu selama 25 tahun.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment