January 10, 2011

Dimanakah Semangat TRITURA Sekarang?

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:22 pm

Tanggal 10 Januari bagi Universitas Indonesia (UI) merupakan tanggal yang cukup penting, karena pada tanggal tersebut tahun 1966, warga UI mengadakan upacara di kampus Salemba dan mengeluarkan tiga tuntutan kepada pemerintah yang sekarang dikenal sebagai TRITURA (Tiga Tuntutan Rakyat). Pertama Bubarkan PKI; kedua Turunkan harga; ketiga retool kabinet. Tuntutan pertama pemerintah memenuhinya dengan menyatakan pembubaran PKI dan ormas-ormasnya dan dianggap sebagai organisasi terlarang di wilayah persada Nusantara. Dua tuntutan lainnya terlaksana ketika pemerintahan berganti dari rezim Orde Lama ke rezim Orde Baru.

Namun demikian, setiap tanggal 10 Januari UI senantiasa memperingatinya, mengingatkan kembali kepada rezim pemerintah, untuk bekerja dengan sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan rakyat. Pada saat Prof.Dr. Nugroho Nososusanto menjabat rektor UI, peringatan TRITURA dijelaskan secara khusus dalam satu tulisan “seri komunikasi” yang terangkum dalam buku berjudul “Wawasan Almamater”. Ketika Rektor UI dijabat (alm) Prof. Dr. Sujudi, Tritura masih diperingati dengan upacara khusus yang dihadiri seluruh warga UI. Tetapi setelah digantikan rektor berikutnya hingga Rektor sekarang ini, tidak pernah ada lagi peringatan TRITURA secara khusus.

Yang menjadi pertanyaan, apakah masih relevan TRITURA diperingati sekarang ini? Bukankah sekarang sudah melewati jaman Orde baru dan bahkan sudah menginjak kepada Kabinet Reformasi jilid II. Justru karena Rezim Reformasi sudah menginjak yang keduakalinya, TRITURA masih penting diperingati untuk menjadi bahan renungan bagi kita semua. Harga cabe sudah mencapai Rp 100.000/kg, harga beras masing-masing tipe naik hingga Rp 500/kg. Bahkan sebentar lagi harga BBM akan naik. Para menteri yang mewakili partai dalam kabinet juga kinerjanya sangat diragukan sehingga banyak persoalan bangsa yang tidak kunjung selesai, sehingga timbul pendapat supaya dilakukan pergantian menteri yang tidak menunjukkan performa yang baik.

Justru semangat TRITURA muncul dari kalangan para tokoh lintas agama yang hari ini mengeluarkan semacam deklarasi yang berisikan keprihatinannya terjadap perkembangan bangsa akhir-akhir ini dan mengganggap pemerintah sudah melakukan kebohongan publik dan tidak serius dalam menangani perkara korupsi yang menjadi musuh masyarakat nomor satu. Semestinya mahasiswa yang terwadahi dalam organisasi BEM, bisa mengambil kesempatan ini kalau memang sungguh-sungguh ingin berjuang membela rakyat. Tetapi sayangnya tidak kelihatan “gebrakan” dari para mahasiswa dalam memanfaatkan momen yang bersejarah ini.

Terkenang akan Elfa Secioria dan Sudwikatmono

Filed under: Lain-lain — rani @ 4:16 pm

Kemarin (09/01) ada dua orang yang cukup dikenal di kalangan media dan senantiasa mewarnai pemberitaan, yaitu pemusik almarhum Elfa dan almarhum Sudwikatmono. TV one membuat acara khusus untuk mengenang Elfa dengan melakukan wawancara dengan pengamat musik Bens Leo dan beberapa orang lainnya yang berkecimpung di dunia musik. Sudwikatmono tidak terlalu banyak diketahui orang selain sebagai pebisnis yang cukup dikenal di kalangan para pengusaha kelas atas. Keduanya mempunyai peran penting untuk diketahui bersama, seperti yang akan dipaparkan di bawah ini.

Pada dekade tahun 1980 an, Elfa dikenal sebagai pemusik yang handal yang membuat grup “Elfas singer” melejit ketika menjuarai lomba musik pop nasional yang akan mewakili Indonesia mengikuti lomba musik di Budokan Hall Tokyo yang disponsori Yamaha. Beberapa nama pencipta dan pemusik yang selalu menjuarai lomba ini antara lain Adjie Bandi, Guruh Soekarnoputra dan lain-lain. Sejak menjuarai musik Pop itu, dia kemudian membuat grup musik sendiri membuat album musik sendiri dan menerima banyak tawaran bermain di berbagai kesempatan di tingkat nasional. Di tingkat internasional pun, Elfa kerap menjuarai berbagai lomba musik di berbagai negara. Ada beberapa penyanyi hasil didikan Elfa, salah satu diantaranya Yana Julio. Aliran musik Elfa juga telah meramaikan blantika dunia musik Indonesia. Beberapa pemusik/penyanyi dan grup band yang kemudian muncul ada yang menganut aliran musiknya Elfa.

Sudwikatmono orang mengenalnya sebagai pengusaha papan atas yang dekat dengan penguasa Orde Baru. Hal fenomenal yang dilakukan Sudwikatmono adalah membuat bioskop sinepleks yang dikenal dengan sinema 21. Suatu konsep membuat gedung bioskop yang berkapasitas 100 – 300 tempat duduk, tetapi dalam satu gedung ada beberapa bioskop, dimana masing-masing bioskop itu memutar berbagai film yang berlainan. Waktu itu konsep gedung bioskop berkiblat kepada Bioskop Djakarta theatre. Satu gedung besar yang berkapasitas hingga 1000 an tempat duduk. Film-film Barat yang diputar di Djakarta Theatre menjadi acuan bagi bioskop lainnya untuk memutar film tersebut. Tetapi harus menunggu cukup lama, sebelum bisa memutar film tersebut. Biasanya Liga Film Mahasiswa (LFM) ITB, entah darimana dapatnya, selalu bisa memutar film Barat seperti di Djakarta Theatre, terkadang diputar lebih dahulu daripada di bisokop-bioskop Jakarta. Penulis kebetulan tahu tentang ini, biasanya hari Sabtu sudah “cabut” ke Bandung, malam minggu bersama teman yang kuliah di Bandung nonton di LFM ITB. Hari Minggu sudah balik lagi ke Jakarta.

Sudwikatmono dengan konsep Sineplek 21 ini, tidak saja membuat beberapa bioskop kecil-kecil di berbagai tempat dan berbagai daerah, tetapi juga menjadi pengimpor film-film Barat dan memutarnya di grup sineplek 21. Film nasional tidak mendapat tempat diputar di sineplek 21, sehingga kalangan perfilman nasional berang dengan kebijakan ini dan memusuhinya. Pihak media pun turut pula “memusuhinya”. Namun ditengah-tengah ketegangan itu, seorang wartawati majalah Tempo (alumni FISIP UI) berhasil mewawancarai dan mengenal lebih dekat sosok Sudwikatmono. Karena berbagai persoalan, akhirnya perfilman nasional mengalami penurunan produksi, salah satu diantaranya, karena masyarakat lebih suka menonton film Barat yang selalu ditayangkan di sineplek 21. Namun ternyata ada hikmahnya juga, ternyata ada sutradara (Garin Nugroho alumni FHUI) yang membuat film nasional dengan orientasi kepada masyarakat di luar Indonesia dan selalu menyertakan filmnya dalam festival internasional. Tidak jarang mendapat apresiasi dan menyabet hadiah dari kalangan masyarakat perfilman luar negeri.

January 9, 2011

Alumni FMIPA Mulai “Unjuk Gigi”

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:48 pm

Pada usia limapuluh tahun Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) mulai unjuk gigi di pentas perpolitikan nasional. Banyak para alumninya yang menduduki posisi penting dan strategis baik di jajaran pemerintahan maupun di lingkungan perusahaan swasta. Demikian hasil pengamatan dari kegiatan reuni alumni FMIPA berlangsung Sabtu (08/01) yang digagas Iluni FMIPA di Hotel Sahid Jakarta. Pada kesempatan itu dilakukan tayang bincang (talk show) dengan tema “Peran Sains dalam Peningkatan Produktivitas Nasional”.

Ada empat pembicara yang hadir dalam kesempatan itu. Pertama Dr. Asep Karsidi Kepala Bakosurtanal, kedua Dr. Sabri Ramdhani Direktur Utama Perusahaan Daerah Provinsi Kalimantan Timur. Dua lainnya yaitu Dipo Alam (mantan mahasiswa Jurusan Kimia dan mantan Ketua Dewan Mahasiswa UI) Menteri Sekretaris Kabinet Reformasi Jilid II dan Suharna Surapranata (mantan mahasiswa Fisika dan aktivis mesjid ARH UI) Menteri Riset dan Teknologi. Dua alumni FMIPA ini adalah bagian dari enam menteri yang berasal dari alumni UI yang menduduki jajaran kabinet Reformasi Jilid II. Baru kali ini alumni FMIPA bisa “menembus” menduduki jajaran menteri. Suatu prestasi yang membanggakan, karena biasanya jabatan menteri diduduki para alumni dari fakultas Ekonomi, Kedokteran, ISIP, Hukum, Psikologi dan Teknik.

Pada kesempatan itu pula, Dipo Alam bersedia dicalonkan menjadi Ketua Umum Iluni UI, yang akan melakukan pemilihan Ketuanya pada Maret Mendatang. Ketua ILUNI UI Sofyan Jalil akan habis masa jabatannya tahun 2011 ini. Sebelum habis masa jabatan sebagai Menteri BUMN Oktober 2010, Sofyan Jalil membagikan 100 milyar rupiah beasiswa bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri, yang disisihkan dari keuntungan berbagai perusahaan BUMN. UI mendapat dana 10 milyar rupiah, lebih banyak dari perguruan tinggi lainnya. Apakah Dipo Alam bisa memberikan dana bagi UI lebih besar dari Sofyan Jalil? Harus Bisa melebihinya! Hatta Radjasa saja (menteri Korodinator Perekonomian) begitu terpilih sebagai Ketua Ikatan Alumni ITB, langsung memberikan dana 25 milyar untuk ITB.

Tapi tampaknya orang-orang UI rada aneh juga. Menurut Informasi dari alumni UI yang bekerja di Kementerian Riset dan Teknologi, tahun lalu kementerian ini memberikan dana beasiswa untuk 300 an orang yang akan melanjutkan studi S2 dan S3 baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dari sekian banyaknya penerima beasiswa itu, tak ada satupun dosen UI yang menjadi salah satu penerimanya. Entah ada kesalahan dimana. Untuk menghibur diri dan “menyombongkan” kepada pihak lain, ada alasan tepat, kenapa UI tidak mendapat beasiswa. Biarpun menteri Risteknya alumni UI, toh tidak dilakukan KKN dalam memberikan beasiswa.

January 8, 2011

Memburu Doktor dan Pendonor

Filed under: Uncategorized — rani @ 12:02 am

Hari ini (07/01) “perburuan” terhadap doktor baru membuahkan hasil dua orang doktor baru yang bersedia untuk diwawancarai. Satu doktor dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) dan satu orang lagi doktor dari Fakultas Hukum. Dengan demikian sejak hari senin (03/10) awal tahun 2011 sudah dapat mewawancarai 8 orang doktor yang masih “gres”. Dua orang doktor lulusan FISIP, tiga orang doktor lulusan FKM, satu orang doktor lulusan FMIPA dan satu orang doktor lulusan FT serta satuorang lulusan FH. Enam orang dengan nilai sangat memuaskan dan dua orang ‘cum laude’. Ada hal-hal menarik dari para doktor itu, yang mungkin bisa kita tauladani. Mudah-mudahan bisa ditulis secara bersambung.

Ide untuk memburu doktor baru ini sebetulnya muncul secara tiba-tiba saja. Ketika akhir tahun lalu, Universitas Indonesia memberikan seperangkat peralatan video baru dengan memakai sistem penyimpanan gambar di hard disk dan usb, menjadikan proses pemindahan gambar ke dalam bentuk cakram (DVD) menjadi lebih cepat dan ringkas dan waktu yang dibutuhkan pun lebih cepat. Usualan pengadaan peralatan ini sudah diajukan sejak tiga tahun lalu, baru akhir tahun lalu dapat direalisir. Timbul seabrek ide, untuk mendokumentasikan segala hal yang terjadi di kampus. Tetapi tidak bisa dipungkiri, faktor usia sangat membatasi mobilitas kegiatan pendokumentasian. Kerja sendirian tidak ada yang bisa dan mau membantu. Tenaga kerja (mahasiswa) yang magang di pusat administrasi mulai dibatasi karena masalah pendanaan. Beberapa tenaga kerja kontrak bahkan ada yang sudah dua tahun lebih belum diangkat. Tampaknya UI sudah mulai “kedodoran”. Jadi terpaksa beberapa pekerjaan dirangkap. Untuk mengajukan penambahan tenaga baru yang spesial menangani bidang audi visual, kecil kemungkinannya dapat diluluskan, karena menyangkut dana.

Tempo hari pernah pula bincang-bincang dengan beberapa orang dosen tentang pentingnya pendokumentasian secara audio visual para peneliti dengan hasil penelitiannya. Seorang dosen dari fakultas Psikologi malahan pernah menantang untuk membuat profil para dosen UI yang mempunyai kegiatan yang “unik” disamping tugas utamanya sebagai pengajar/peneliti. Pada umumnya mereka sangat antusias menyambut gagasan pengaudivisualan berbagai hal yang ada di UI. Bahkan Kepala Perpustakaan Pusat sudah merencanakan ada satu ruangan khusus untuk penyimpanan dan penayangan audio visual di perpustakaan pusat baru yang akan diresmikan Mei mendatang. Cuma tampaknya masih diperlukan sejumlah dana untuk pengadaan peralatan dan pemeliharaannya. Adakah yang berminat untuk menjadi pendonor?

January 6, 2011

Serba Serbi Promosi Doktor

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:47 pm

Masih soal doktor, hari ini (06/01) bisa “memburu” dua orang doktor Staf pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI). Kedua doktor tersebut dibujuk untuk mengikuti/menuruti kemauan penulis, menceritakan secara ringkas tentang isi disertasinya. Soalnya sewaktu mereka disidang pada tanggal 4 dan 5 Januari penulis tidak sempat menghadiri acara promosi doktornya.

Setelah terjadi reformasi tahun 1998, tradisi acara promosi doktor di UI pun mengalami perubahan secara drastis, lebih sederhana dan bersifat egaliter. Kalau pada jaman Orde Baru masih kental dengan tradisi kebelandaannya/kebaratannya, maka kini hal tersebut sudah berubah. Misalnya sebutan promovendus/promovenda kepada calon doktor sudah berganti sebutannya menjadi “calon doktor”. Kalau dahulu calon doktor yang akan dikukuhkan harus memakai toga lengkap dan menerima ijazah yang tersimpan dalam kotak kayu persegi empat. Kini sang doktor tidak diharuskan memakai toga dan hanya menerima ucapan selamat/salaman dengan promotornya. Para pengujinya pun yang memakai toga hanya dekan sebagai yang mewakili pimpinan UI dan juga penguji profesor.

Di beberapa fakultas ada tradisi yang agak berbeda pada saat upacara promosi doktor berlangsung. Di Fakultas Ekonomi kepada doktor yang baru meraih gelar diberikan kesempatan untuk bicara tentang disertasinya, suka dukanya atau ungkapan ucapan terima kasih kepada berbagai orang/pihak yang telah membantunya. Pidato doktor ini di beberapa fakultas tidak ada. Di Fakultas matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UI ada satu kebiasaan yang juga tidak ada di fakultas lain. Misalnya saja Promotor dan ko-promotor diberi kesempatan untuk memberikan komentar atau memberi penjelasan kepada khalayak, tentang isi disertasi dan pertanyaan yang diajukan dari para penguji lainnya. Selain itu, di dalam ruang sidan, dipasang spanduk yang berisikan judul disertasi, nama calon doktor, judul disertasi serta nama promotor dan ko-promotor. Hal ini penting untuk diketahui, karena kemungkinan besar dalam kurun waktu tertentu tradisi acara promosi doktor akan berubah.

Ada satu kesamaan yang tidak pernah berubah dalam acara promosi doktor di UI, baik semasa Orde Baru maupun orde reformasi saat ini, yaitu selesai acara promosi, para undangan disuguhi minuman dan hidangan makanan, baik yang setengah berat maupun yang berat.

January 5, 2011

Antara Doktor dan “dok-tor”

Filed under: Uncategorized — rani @ 5:13 pm

Inilah hari-hari terpanjang dan terberat yang terkahir kalinya, dimana setelah melewati hari ini, akan menempuh hidup baru dan mempunyai konsekuensi moral untuk senantiasa menjaga nama baik, martabat almamater dan terus melakukan kegiatan yang berkaitan dengan bidang disiplin ilmu dan gelar doktor yang baru saja didapat. Demikian salah satu pesan dari Ketua Sidang promosi doktor pegawai PT. Krakatau Steel (KS) Basso Datu Makahanap (55) yang berlangsung Rabu pagi (05/01) di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) kampus Depok.

Hal ini juga berlaku bagi 6 calon doktor lainnya yang juga pada hari yang sama melakukan upacara promosi doktor di berbagai fakultas di lingkungan UI. Dua di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), satu di Fakultas Ekonomi (FE) dan tiga di Fakultas Teknik (FT). Dalam sehari saja UI menghasilkan 7 doktor. Konon katanya, dalam tahun ini kalau tidak ada aral melintang UI akan menghasilkan 200 orang doktor. Satu jumlah yang belum pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Dulu akhir tahun 1980 an, pada waktu Kepemimpinan Rektor UI (alm) Prof.Dr. Sujudi pernah menghasilkan 50 an orang doktor dalam setahun. Satu jumlah yang sesuai dengan klasifikasi Carniege, dimana satu universitas masuk dalam kriteria universitas riset, kalau dapat menghasilkan minimal 50 orang doktor.

Tadinya berkeinginan untuk mewawancarai semua doktor yang melakukan promosi hari ini. Paling tidak meminta para doktor untuk bercerita tentang inti disertasinya. Tetapi hanya kesampaian mewawancarai dua orang doktor saja. Itu pun dengan susah payah, karena ternyata tidak mudah untuk “mempersuasi” para doktor seperti yang diinginkan.

Sampai di kantor, bercerita kepada teman-teman tentang “memburu” para doktor. Terdengar celetukan seorang teman “Kapan ya, kita jadi doktor?” Langsung penulis jawab, malam ini juga kita bisa menjadi “dok-tor”. Beranikah mondok di kantor? Gedung Rektorat terkenal dengan “si baju merah” yang selalu “menggoda” dengan penampakannya waktu-waktu tertentu.

January 4, 2011

UI Panen Doktor

Filed under: Uncategorized — rani @ 1:58 pm

Memasuki tahun baru 2011, Universitas Indonesia (UI) memulainya dengan “panen” doktor. Kemarin pagi (03/01) di FISIP UI memulai promosi doktor dalam bidang sosiologi atas nama Siti Aminah (45) dengan judul disertasi”NEGARA, PASAR dan MASYARAKAT Sebuah studi Sosio Ekonomi dan Budaya Pembangunan BRT-Transjakarta”. Promotornya Prof.Dr.derSoz Gumilar Rusliwa Somantri dan ko-promotor Suyono Dikun, Ph.D.

Hari Selasa ini (04/01) promosi doktor bidang Akuntansi berlangsung di Fakultas Ekonomi (FE) dan bidang Material di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Besok (05/01) masih aka nada promosi doktor di FE dan FMIPA. Tanggal 12 Januari FMIPA juga akan mengadakan sidang promosi doktor. Sementara itu, dalam bulan Januari ini juga ada 3 orang yang akan melakukan sidang promosi doktor di Fakultas Psikologi. Bulan Desember tahun lalu, Fakultas Kedokteran (FK) telah menghasilkan 3 orang doktor dan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) 2 orang doktor dan Fakultas Kesehatan Masyarakat 1 orang Doktor.

Waktu mengobrol dengan Wakil Dekan FISIP, Edy Prasetyono, sulit bagi doktor lulusan FISIP untuk mencapai nilai cum laude karena persyaratannya, selain harus IPnya di atas 3,5 juga masa studinya tepat waktu yaitu 8 semester. Ketepatan waktu ini menjadi kendala, karena penelitian lapangan bidang Ilmu Sosial memakan waktu lama. Begitu pula di bidang MIPA, seperti yang dikatakan Adi Basukriadi, Ph.D Dekan FMIPA waktu memimpin sidang promosi doktor Erfan Handoko (37) bidang Ilmu Material Fisika selasa siang (04/01). Uji coba dan penelitian di laboratorium bisa menghabiskan waktu cukup lama. Erfan Handoko yang mengajukan disertasi berjudul “Rekayasa Struktur Material Magnet Sistem Komposit Nd2FE14B/Fe3Si Melalui Rute Mechanical Alloying untuk Aplikasi Magnet Permanen” membutuhkan waktu hingga 9 semester untuk melakukan ujicoba penelitiannya.

Bisakah dirasakan manfaat dari hasil penelitian doktor itu? Ini persoalan yang tersendiri di luar bidang akademis. Hasil penelitian transportasi yang berupa saran bisa dijadikan masukan langsung bagi para penentu kebijakan. Tetapi dalam sains di bidang material misalnya, harus dilakukan tahap berikutnya (produksi secara masal) lagi sebelum dirasakan secara langsung. Seorang teman dokter gigi yang tengah menempuh S3 bidang material, mencoba melakukan penelitian pada rumput laut untuk dapat ditransplantasikan pada cekungan rahang gigi. Sementara seorang teman yang bekerja di Kementerian Riset dan Teknologi dalam penelitian S3nya mencoba ‘mengutak-atik’ bahan alam magnesium (Mg) untuk pembuatan pupuk tanaman bagi para petani Indonesia. Dia ingin hasil penelitiannya dapat memakmurkan dan menyejahterakan rakyat, tidak peduli nanti hasil yudisiumnya apa.

January 3, 2011

Pangan dan Permasalahannya

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:56 am

Pagi tanggal 1 Januari 2011, yang paling dirasakan sangat nikmat adalah pada saat sarapan pagi nasi goreng buatan sendiri, dengan memakai sambal pedas dari rumah makan di Margonda, yang memang spesialis menyediakan aneka macam sambal yang terkenal pedasnya, yang kebetulan sore hari 31 Desember 2010 seorang teman mentraktir makan di rumah makan sambal pedas, karena telah lolos ujian skripsinya. Pokok permasalahan disini bukan terhadap sambalnya, melainkan nasi yang kita makan sehari-hari. Pernahkah terpikirkan bagaimana padi bisa menjadi nasi yang kita makan sehari-hari?

Liburan natal 2010, kebetulan berkesempatan mengunjungi kampung halaman istri, yang terletak 60 kiometer arah selatan Cianjur. Oleh-olehnya diberi beberapa kilogram beras, yang katanya baru saja dipanen dari sawah. Karena terburu-buru, padi hasil panen tersebut hanya sempat diproses di mesin penggilingan, belum sempat dibersihkan. Nah, ketika akan ditanak menjadi nasi, beras masih banyak gabahnya. Terpaksalah harus dibersihkan dahulu dengan cara ditapi memakai tampah yang besar, seperti orang-orang di kampung kalau membersihkan beras. Ternyata tidak gampang, selain makan waktu lama, banyak beras yang terbuang bersama gabah. Pernahkan terbayangkan, jika kita membeli beras yang putih bersih tidak ada gabah sebutirpun, bagaimana cara membersihkannya? Pantaslah kalau begitu, kenapa harga beras begitu mahal ketika sudah sampai di pasar, tetapi siapakah yang paling diuntungkan dalam hal ini?

Waktu kuliah sistem perekonomian dahulu, masih teringat cerita seorang dosen, dengan mengimpor beras dan melemparkan ke pasaran, sehingga harga beras menjadi murah, sebetulnya yang disubsidi orang-orang kota yang mengkonsumsi beras. Orang desa yang sebagian besar para petani beras tidak menikmatinya, petani beras juga harus menjual beras sesuai harga di pasar yang banyak dibanjiri dengan beras impor. Padahal kalau dihitung-hitung, petani harus banyak mengeluarkan uang untuk membeli pupuk yang begitu mahal. Belum lagi dihitung tenaga yang dikeluarkan petani dalam mengolah sawah, yang biasanya tidak pernah dikonversikan ke dalam satuan harga beras yang akan dijualnya. Jadi bagaimanakah cara menghitung berapa layaknya beras harus dijual di pasar?

Ketika lahan sawah untuk menanam padi semakin berkurang karena dipakai untuk pembangunan rumah dan prasarana lainnya, sementara penduduk makin bertambah yang berarti juga makin banyak orang yang perlu makan (beras), timbul masalah. Sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan politik ketahanan pangan. Salah satu diantaranya yaitu dengan membuka lahan sawah baru di beberapa tempat, diantaranya di Papua. Tetapi ini juga menimbulkan masalah, karena perluasan dan pengelolaan lahan sawah baru ini diberikan kepada para pengusaha kelas kakap. H.S Dillon dari Lembaga Kemitraan mengecam kebijakan ini. Dengan pola ini yang diuntungkan para pengusaha, bukan petani. Padahal kehidupan para petani dari dahulu hingga sekarang tidak berubah, tetap sengsara. Kenapa tidak diberikan saja kepada koperasi para petani, sehingga dengan demikian dapat mengangkat kehidupan dan pendapatan para petani. Jadi sebetulnya kebijakan ketahanan pangan yang dicanangkan pemerintah, siapakah yang diuntungkan?

Waktu baru-baru ini mengikuti seminar Geosains di FMIPA UI, seorang pembicara menyinggung tentang konsep ketahanan pangan. Selama ini pemerintah kalau bicara tentang ketahanan pangan menyangkut kepada soal pengadaan beras. Padahal sekarang ini konsep hidup sehat itu bukan karena makan nasi, melainkan karena asupan gizi yang seimbang ke dalam tubuh seseorang. Kalau sudah begitu, maka beras hanyalah salah satu komponen saja dari asupan gizi yang diperlukan seseorang. Saat ini beras dapat digantikan dengan bahan/makanan lain yang nilainya sama dengan yang terkandung dalam beras. Lagipula sekarang orang-orang kota pola makannya sudah berubah, tidak lagi tergantung kepada makan nasi. Jadi kalau begitu, masih perlukah kita berpola pikir, makan itu harus harus dengan nasi?

Pada sebagian masyarakat, kini sudah mulai untuk mencari alternatif pengganti beras. Ada yang mengkampanyekan untuk menanam pohon sukun. Karena ternyata kandungan dalam buah sukun dapat mengantikan beras. Baru-baru ini waktu diadakan Olimpiade Sains Nasional Perguruan Tinggi Indonesia (OSN-PTI) yang ke-3 yang disponsori Pertamina, para peserta bidang Biologi diberikan kasus tentang bagaimana membangun ketahanan pangan yang saat ini sedang digalakkan pemerintah. Ada peserta yang mempunyai ide dan solusi yang bagus, antara lain dengan menggalakkan budidaya rumput laut dan yang lain-lainnya. Jadi sebetulnya apakah ketahanan pangan sekarang ini harus terfokus kepada pengadaan beras? Sipakah yang diuntungkan dengan mengimpor beras dari luar? Sampai kapan kita masih tetap berpikir secara konvensional, tidak mau mencoba hal-hal baru dan inovatif? Apakah warga kampus akan tinggal diam saja?