January 31, 2011

Jangan Pernah Lupa

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:01 am

Hari Minggu kemarin (30/01) penulis bersama istri melakukan tazi’ah (melayat) kepada keluarga yang ditinggalkan ayah/suami tercinta salah satu keluarga di Bekasi. Mempunyai dua anak perempuan yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Meninggal secara mendadak pada sabtu malam dan dikuburkan pada minggu pagi.

Bukan suatu hal yang istimewa melawat kepada keluarga yang berduka dan sudah kerapkali mendatangi keluarga yang berduka. Tetapi kali ini sangat spesial. Teman sekantor istri di salah satu kementerian, orangnya masih muda berusia sekitar 40 tahunan, di kalangan sejawat di kantornya dikenal sebagai orang yang ramah, taat beribadah, pekerja keras dan setiap kali ke kantor senantiasa membawa makanan untuk dimakan bersama-sama teman sekantornya. Makanan yang dibawa makanan kecil seperti kacang dan makanan lainnya yang bisa kita beli di pasar. Tetapi teman-temannya sangat menikmati makanan yang dibawanya. Aktifitas terakhir pada hari Jum’at jam 7 pagi dia berolahraga di Monas dan jam 8 sudah sampai di kantor yang tidak jauh dari lapangan Monas.

Sementara itu, pada tanggal 20 Januari, seorang ibu yang sudah cukup dikenal di kalangan UI, selain aktif di kepengurusan koperasi Dikara Putri, suaminya mantan petinggi di Fakultas Ekonomi UI, meninggal karena terkena demam berdarah. Sudah beberapa tahun ginjalnya tidak berfungsi, sehingga seminggu tigakali harus cuci darah. Sehabis cuci darah terkena penyakit demam berdarah. Dua penyakit yang paradoksal, yang satu tidak boleh banyak minum air, tetapi yang satunya lagi justru harus banyak minum air. Menurut seorang pengurus koperasi, sebelum meninggal sempat berpesan sepertinya sudah mengetahui bahwa usianya tidak lama lagi.

Dua cerita di atas menunjukkan dua hal yang berbeda menjelang kematian. Meninggal secara mendadak di rumahnya dan bahkan keluarganyapun tidak mengetahuinya, karena sebelumnya tidak ada keluhan sakit. Sementara yang satunya lagi seperti sudah menyadari tidak akan berumur panjang. Peristiwa meninggal tentunya sangat mengejutkan pihak keluarga, sesuatu yang sangat tidak diinginkan tetapi pasti akan terjadi. Dalam buku “Psikolog Kematian” karya Komarudin Hidayat, kematian mendadak selalu mengejutkan pihak keluarga, berbeda bila sebelumnya didahului sakit yang cukup lama. Secara psikologis keluarga belum siap menerima kenyataan kepergian salah seorang anggota keluarganya. Hal ini yang menyebabkan kesedihan yang berlarut-larut.

Apa yang bisa ditarik pelajaran dari cerita tersebut di atas? Ingatlah selalu kepada yang Maha Pencipta. Sewaktu-waktu kita akan dipanggil MenghadapNYA. Entah dengan cara apa dan bagaimana proses terjadinya. Sudah siapkah kita dan keluarga menghadapinya?

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment