January 31, 2011

Doktor Untuk Seniman Ajip Rosidi dan Taufik Ismail

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:14 pm

Hari Senin pagi ini (31/01) Universitas Pajajaran (Unpad) Bandung memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada seniman Ajip Rosidi dalam suatu sidang Terbuka Senat Unpad dipimpin Rektor Prof.Dr. Ganjar Kurnia yang berlangsung di Kampus Jalan Dipati Ukur Bandung. Dua tahun lalu, tepatnya 31 Januari 2009 Universitas Indonesia juga memberikan gelar Doctor Honoris Causa kepada seniman Taufik Ismail, dalam suatu sidang terbuka Senat UI yang digabung dengan upacara wisuda, dipimpin Rektor UI Prof.Dr. gumilar Rusliwa Somantri.

Seperti suatu kebetulan, dua orang seniman mendapat gelar doktor dari dua Universitas ternama di Indonesia pada tanggal yang sama namun selisih dua tahun. Ini bukan suatu kebetulan semata-mata, melainkan mulai tumbuhnya kesadaran di lingkungan akademik (khususnya Departemen Pendidikan) akan pentingnya dan besarnya sumbangan yang diberikan seorang pekerja seni bagi pembangunan bangsa. Seperti yang dikatakan Rektor UI saat memberikan gelar doktor kepada Taufik Ismail. “Gelar doktor honoris causa tidak harus diberikan kepada orang-orang yang pencapaian keilmuannya luar biasa, tetapi juga kepada orang-orang yang luar biasa dari segi karya dan pengabdiannya kepada bangsa dan Negara. Para pekerja seni adalah para penegak panji-panji peradaban, orang-orang yang memberikan inspirasi di bidangnya masing-masing yang berjuang membangun bangsa.”

Taufik Ismail , lahir 25 Juni 1935, menyelesaikan pendidikan dokter hewan dari IPB tahun 1963 (dahulu bagian dari UI) pada awal kebangkitan Orde Baru dikenal sebagai penulis puisi dalam kumpulan tulisan yang diberi judul “Benteng” dan “Tirani.” Hingga sekarang masih aktif bergiat di bidang seni. Tahun 2003 mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Negeri Yogyakarta.

Sementara Ajip Rosidi, lahir 31 Januari 1938, tidak selesai sekolah SMAnya sejak SMP sudah menulis puisi dan cerpen yang dimuat di berbagai media nasional. Peneliti dan penggiat budaya (khususnya Sunda) dan juga sempat menjadi Dosen bahasa Indonesia di Jepang selama beberapa tahun. Bahkan sempat menjadi Staf Ahli menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pergaulannya yang luas membuat dia bisa diterima di berbagai kalangan, bahkan sempat diangkat pengurus Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI) Ketika Orde Lama akan tumbang. Tahun 1990 sebetulnya Unpad akan memberikan gelar doktor, tetapi terhambat karena ada peraturan Menteri Pendidikan yang menyatakan gelar doktor honoris causa hanya boleh diberikan kepada seseorang yang telah menyelesaikan jenjang S1. Demikian seperti yang diungkapkan dalam biografinya dalam buku yang diberi judul “Hidup Tanpa Ijazah”.

Jaman sudah berubah, pemerintahan pun sudah berganti dari rezim Orde Baru digantikan Rezim Orde Reformasi. Perubahan atau reformasipun tampaknya merambah dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk juga dalam bidang pendidikan. Kini orang tidak lagi terlalu terpaku kepada jenjang pendidikan seseorang untuk meraih gelar akademik tertinggi. Salah satu yang dapat menikmatinya adalah Ajip Rosidi. Mungkin orang pertama di Indonesia yang meraih gelar doktor yang sekolah menengahnya pun tidak selesai.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment