January 25, 2011

Realitas Media, Tembak Kaki Kena Kepala

Filed under: Uncategorized — rani @ 2:40 pm

Suatu saat penulis pernah mengobrol dengan senior yang kini menjadi staf pengajar di FISIP. Dia menceritakan pengalamannya sewaktu mahasiswa mendapat tugas matakuliah menulis berita. Kebetulan ditugaskan untuk meliput pertandingan sepakbola. Padahal dia tidak suka menonton bola. Dia cari akal bagaimana bisa menyelesaikan tugas tersebut. Singkat cerita dia berhasil menyiasati tugas tersebut. Dia tanya kepada temannya yang menonton sepakbola, berapa skornya, siap saja yang mencetak gol dan siapa kapten kesebelasan serta wasitnya. Dengan modal informasi itu, maka dia buatlah berita, serta dikirimkan ke media umum. Akhirnya dia lulus matakuliah menulis berita.

Begitulah cerita seorang dosen senior menuliskan realitas suatu peristiwa ke dalam suatu tulisan berita yang juga biasa disebut dengan “realitas kamera” suatu istilah yang biasa dikemukakan dosen Filsafat Komunikasi, (alm) Prof. Dr. RHAA Djajusman Tanudikusumah, SISIP., MA. Realitas kamera hanya bisa menangkap sebagian kecil saja realitas suatu peristiwa yang terjadi, dan bahkan bisa ditulis tanpa kehadiran penulis dalam peristiwa tersebut. Karena itu bisa terjadi realitas kamera tidak selalu sesuai dengan peristiwa yang terjadi atau bahkan “lebih indah dari warna aslinya”. Dengan mengetahui hal ini sebetulnya sebagai peringatan untuk melihat realitas kamera sebagai suatu realitas yang relatif mendekati kebenaran, bukan suatu realitas kebenaran mutlak.

Yang harus diwaspadai adalah dampak dari realitas tersebut terhadap pembaca atau pemirsa. Karena apabila suatu realitas kamera sudah “ditembakkan” kepada khalayak pembaca/pemirsa, tak ada yang bisa mencegahnya lagi, bagaikan “bola api” yang bisa menyambar kesana kemari. Dan reaksi masyarakat pun tidak bisa diduga atau diprediksi dengan tepat. Bisa terjadi suatu realitas kamera yang dilemparkan kepada khalayak, maksud hati ingin “menembak kaki pencuri ” yang terjadi kemudian reaksi dari khalayak menjadi “tembakan yang mengenai kepala”.

Dari sini sebetulnya mengingatkan kita semua, untuk melihat dan memberikan reaksi yang wajar terhadap realitas kamera. Apalagi bila reaksi itu diberikan oleh orang yang tahu betul tentang seluk beluk ilmu realitas kamera. Seharusnya bisa lebih bijak dan lebih menentramkan suasana khalayak. Karena dengan demikian dapat terlihat kualitas intelektual seseorang.