January 13, 2011

MALARI Relevansinya dengan Keadaan Sekarang

Filed under: Uncategorized — rani @ 8:35 pm

Tidak semua orang mengetahui bagaimana awal mulanya Malapetaka Lima belas Januari 1974 (MALARI) meletus. Dan kenapa harus terjadi pada bulan Januari. Pada tanggal 8 Januari lalu, penulis bertemu dan mewawancarai dr. Hariman Siregar, salah seorang tokoh Malari yang menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DMUI) 1973-1974. Beberapa informasi penulis daapatkan pula dari beberapa sumber lainnya.

Pada mulanya Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia menyelenggarakan peringatan Sumpah Pemuda tahun 1973 di Student Center Kampus Salemba Jakarta. Pada peringatan itu dibicarakan tentang arah pembangunan Indonesia.. DMUI melihat, pembangunan Indonesia terlalu bertumpu pada bantuan modal asing. Hal ini sangat berbahaya karena akan menyebabkan ketergantungan pada pihak asing

Karena itulah maka DMUI menggalang persatuan dengan DM perguruan tinggi lain, untuk mengingatkan pemerintah bahayanya pembangunan yang menggantungkan kepada bantuan asing. Tadinya akan dilakukan demonstrasi besar-besaran pada akhir tahun 1973. Tetapi karena Rektor UI Prof.Dr. Ir. Soemantri Brodjonegoro wafat, DMUI menyatakan berkabung dan demonstrasi akan dilaksanakan pada awal tahun.

Waktu itu Rektor UI merangkap jabatan sebagai Menteri Pertambangan. Rangkap jabatan ini menjadi salah satu sebab memperparah penyakit yang diderita Prof.Dr.Ir. Soemantri Brodjonegoro. Menurut penuturan Prof.Dr. Bambang Permadi, mantan Dekan FEUI, anak Prof. Soemantri, waktu itu ayahnya menghadapi persoalan yang cukup berat dengan kasus Pertamina yang dipimpin Ibnu Sutowo. Pada tahun 1973 itu, Harian Indonesia Raya yang dipimpin Mochtar Lubis sedang gencar-gencarnya memberitakan tentang “kebobrokan” Pertamina.

Januari 1974 mulai dilakukan aksi-aksi demonstrasi, mengingatkan pemerintah tentang bantuan asing. Rupanya rezim Soeharto menyadari potensi para mahasiswa kalau sudah “turun” ke jalan, karena dulu juga Orde Lama tumbang setelah mahasiswa melakukan demonstrasi. Karena sudah tidak mungkin lagi mencegah demo, akhirnya dilakukan “pengacauan” demonstrasi dengan melakukan pengrusakan dan penjarahan ke toko-toko, khususnya toko yang dimiliki etnis Tionghoa. Pola ini juga ternyata dilakukan pada waktu mahasiswa melakukan demonstrasi menuntut reformasi.

Relevansinya Malari dengan keadaan sekarang? Pembangunan perekonomian yang bergantung pada pinjaman dari pihak asing, tetap tidak akan bisa menyejahterakan rakyat, yang terjadi kita akan semakin terjerat dan terikat dengan aturan-aturan yang ditentukan pihak pemberi bantuan.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment