January 13, 2011

Gubernur Bengkulu dan Rektor UI

Filed under: Uncategorized — rani @ 3:08 pm

Hari ini (13/01) Menteri Dalam Negeri menandatangani surat permohonan pemberhentian sementara Gubernur Bengkulu terdakwa Agusrin Nadjamudin kepada Presiden Soeharto. Demikian berita berjalan siang ini di Metro TV. Tiba-tiba saja ingatan kembali kepada peristiwa tiga tahun silam, ketika di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok dilakukan penandatanganan kerjasama antara UI dengan beberapa Gubernur dan puluhan Bupati se-Indonesia, dalam paket bernama KISDI (Kerjasama Industri, Swasta dan pemerintah Daerah Indonesia) untuk memberikan kesempatan kepada putra daerah kuliah di UI dengan dibiayai secara penuh oleh pemerintah daerah masing-masing. Setelah menyelesaikan studinya diharapkan mereka mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk kemajuan daerahnya masing-masing.

Pada kesempatan itu Gubernur Bengkulu yang terpilih menjadi Gubernur dibawah usia 40 tahun memberikan sambutan, mewakili para pejabat daerah lainnya. Dengan bangganya dia menyatakan ada kesamaan antara dirinya dengan Rektor UI. Terpilih secara demokratis, sama-sama muda dan memimpikan bisa membawa perubahan terhadap lingkungannya. Bahkan sang Gubernur sesumbar, menyamakan dengan Presiden Barack Obama, yang juga berusia muda membawa perubahan besar pada pemerintahan Amerika Serikat.

Namun kini apa yang terjadi, dia terperosok dengan pola perilaku pejabat Orde Baru yang korup. Perubahan yang terjadi adalah namanya masuk dalam salah satu daftar Gubernur Koruptor mengikuti jejak gubernur koruptor lainnya. Kenapa bisa terjadi demikian? Kurang pengalaman, merasa benar sendiri serta tidak mau mendengarkan pendapat orang lain yang lebih senior. Latar belakangnya tidak mempunyai pengalaman di bidang birokrasi, lulusan STM yang kemudian kerja serabutan di Jakarta. Ketika dia berhasil menjabat sebagai gubernur yang didukung salah satu parpol, mulailah dia lupa diri. Ciri khas dari orang muda yang cepat menanjak karirnya. Jangankan orang yang tidak punya pengalaman seluk beluk birokrasi, bahkan gubernur yang sudah merasakan “asam garam”nya birokrasi saja bisa terjerat dan tergoda untuk melakukan korupsi. Karena memang orang yang berkuasa itu cenderung untuk menyelewengkan kekuasaannya dan sangat terbuka sekali jalan ke arah itu. Hanya dengan dibentengi Iman yang kuat, rendah hati, mau mendengarkan pendapat orang lain, yang dapat mengerem penyalahgunaan kekuasaan.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment