January 12, 2011

Menjaga Kesehatan II

Filed under: Uncategorized — rani @ 11:34 pm

Rupanya perkara menjaga kesehatan yang menjadi pokok bahasan pada artikel kemarin itu mendapat “gayung bersambut” dengan salah seorang teman di SDM Pusat Administras Universitas Indonesia. Dia menceritakan pengalamannya sendiri, dalam usia kurang dari 50 tahun dia sempat mengalami pemasangan “cincin ring” pada salah satu pembuluh darahnya. Walaupun dia sekarang merasa fit dan tidak ada keluhan sesak nafas atau nyeri di dada sebelah kiri, tetapi dia menjaga betul keadaan tubuh dan kesehatannya.

Sekarang ini, tidak bisa lagi dibedakan hanya dari aspek fisik semata (misalnya gemuk atau kurus) untuk mengetahui seseorang itu terkena penyakit jantung. Teman yang diceritakan di atas secara fisik badannya tidak gemuk bahkan cenderung kurus, tetapi ternyata mengidap penyakit jantung koroner. Karena itu dia menyarankan supaya kita memeriksakan diri ke laboratorium mengecek kadar gula dalam darah. Kita juga harus sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada tubuh kita. Di atas usia 40 tahun, dianjurkan minum obat askardia untuk mengencerkan darah. Hal ini juga atas saran seorang dokter yang ahli di bidang perdarahan.

Almarhum Prof.Dr. Nugroho Notosusanto meninggal (1985) karena stroke. Sehari sebelumnya baru saja menangani kasus protes mahasiswa asrama Daksinapati yang melakukan demo karena menolak kenaikan uang asrama dari Rp 15.000 menjadi Rp 25.000/semester. Uang kuliah non-eksakta waktu itu Rp30.000/semester dan eksakta Rp 45.000/semester. Tetapi sebetulnya bukan karena demonstrasi anak asrama, melainkan karena beban pekerjaan yang terlalu tinggi karena selain menjadi rektor, juga merangkap sebagai menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Padahal waktu itu, selama menjabat Rektor saja sudah banyak tentangan dan ketidaksetujuan dengan beberapa kebijakan yang diambilnya. Begitu menjadi menteri, tentangan semakin tajam terutama dalam hal “penemu” Pancasila itu bukan hanya Soekarno semata, berdasarkan kajian sejarah yang menjadi bidang keahliannya. Karena kasus jabatan rangkap itulah, maka pimpinan UI berikutnya, ketika diangkat menjadi menteri, dengan segera dia melepaskan (untuk sementara) jabatan fungsionalnya di lingkungan kampus.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment