January 10, 2011

Dimanakah Semangat TRITURA Sekarang?

Filed under: Uncategorized — rani @ 10:22 pm

Tanggal 10 Januari bagi Universitas Indonesia (UI) merupakan tanggal yang cukup penting, karena pada tanggal tersebut tahun 1966, warga UI mengadakan upacara di kampus Salemba dan mengeluarkan tiga tuntutan kepada pemerintah yang sekarang dikenal sebagai TRITURA (Tiga Tuntutan Rakyat). Pertama Bubarkan PKI; kedua Turunkan harga; ketiga retool kabinet. Tuntutan pertama pemerintah memenuhinya dengan menyatakan pembubaran PKI dan ormas-ormasnya dan dianggap sebagai organisasi terlarang di wilayah persada Nusantara. Dua tuntutan lainnya terlaksana ketika pemerintahan berganti dari rezim Orde Lama ke rezim Orde Baru.

Namun demikian, setiap tanggal 10 Januari UI senantiasa memperingatinya, mengingatkan kembali kepada rezim pemerintah, untuk bekerja dengan sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan rakyat. Pada saat Prof.Dr. Nugroho Nososusanto menjabat rektor UI, peringatan TRITURA dijelaskan secara khusus dalam satu tulisan “seri komunikasi” yang terangkum dalam buku berjudul “Wawasan Almamater”. Ketika Rektor UI dijabat (alm) Prof. Dr. Sujudi, Tritura masih diperingati dengan upacara khusus yang dihadiri seluruh warga UI. Tetapi setelah digantikan rektor berikutnya hingga Rektor sekarang ini, tidak pernah ada lagi peringatan TRITURA secara khusus.

Yang menjadi pertanyaan, apakah masih relevan TRITURA diperingati sekarang ini? Bukankah sekarang sudah melewati jaman Orde baru dan bahkan sudah menginjak kepada Kabinet Reformasi jilid II. Justru karena Rezim Reformasi sudah menginjak yang keduakalinya, TRITURA masih penting diperingati untuk menjadi bahan renungan bagi kita semua. Harga cabe sudah mencapai Rp 100.000/kg, harga beras masing-masing tipe naik hingga Rp 500/kg. Bahkan sebentar lagi harga BBM akan naik. Para menteri yang mewakili partai dalam kabinet juga kinerjanya sangat diragukan sehingga banyak persoalan bangsa yang tidak kunjung selesai, sehingga timbul pendapat supaya dilakukan pergantian menteri yang tidak menunjukkan performa yang baik.

Justru semangat TRITURA muncul dari kalangan para tokoh lintas agama yang hari ini mengeluarkan semacam deklarasi yang berisikan keprihatinannya terjadap perkembangan bangsa akhir-akhir ini dan mengganggap pemerintah sudah melakukan kebohongan publik dan tidak serius dalam menangani perkara korupsi yang menjadi musuh masyarakat nomor satu. Semestinya mahasiswa yang terwadahi dalam organisasi BEM, bisa mengambil kesempatan ini kalau memang sungguh-sungguh ingin berjuang membela rakyat. Tetapi sayangnya tidak kelihatan “gebrakan” dari para mahasiswa dalam memanfaatkan momen yang bersejarah ini.

Terkenang akan Elfa Secioria dan Sudwikatmono

Filed under: Lain-lain — rani @ 4:16 pm

Kemarin (09/01) ada dua orang yang cukup dikenal di kalangan media dan senantiasa mewarnai pemberitaan, yaitu pemusik almarhum Elfa dan almarhum Sudwikatmono. TV one membuat acara khusus untuk mengenang Elfa dengan melakukan wawancara dengan pengamat musik Bens Leo dan beberapa orang lainnya yang berkecimpung di dunia musik. Sudwikatmono tidak terlalu banyak diketahui orang selain sebagai pebisnis yang cukup dikenal di kalangan para pengusaha kelas atas. Keduanya mempunyai peran penting untuk diketahui bersama, seperti yang akan dipaparkan di bawah ini.

Pada dekade tahun 1980 an, Elfa dikenal sebagai pemusik yang handal yang membuat grup “Elfas singer” melejit ketika menjuarai lomba musik pop nasional yang akan mewakili Indonesia mengikuti lomba musik di Budokan Hall Tokyo yang disponsori Yamaha. Beberapa nama pencipta dan pemusik yang selalu menjuarai lomba ini antara lain Adjie Bandi, Guruh Soekarnoputra dan lain-lain. Sejak menjuarai musik Pop itu, dia kemudian membuat grup musik sendiri membuat album musik sendiri dan menerima banyak tawaran bermain di berbagai kesempatan di tingkat nasional. Di tingkat internasional pun, Elfa kerap menjuarai berbagai lomba musik di berbagai negara. Ada beberapa penyanyi hasil didikan Elfa, salah satu diantaranya Yana Julio. Aliran musik Elfa juga telah meramaikan blantika dunia musik Indonesia. Beberapa pemusik/penyanyi dan grup band yang kemudian muncul ada yang menganut aliran musiknya Elfa.

Sudwikatmono orang mengenalnya sebagai pengusaha papan atas yang dekat dengan penguasa Orde Baru. Hal fenomenal yang dilakukan Sudwikatmono adalah membuat bioskop sinepleks yang dikenal dengan sinema 21. Suatu konsep membuat gedung bioskop yang berkapasitas 100 – 300 tempat duduk, tetapi dalam satu gedung ada beberapa bioskop, dimana masing-masing bioskop itu memutar berbagai film yang berlainan. Waktu itu konsep gedung bioskop berkiblat kepada Bioskop Djakarta theatre. Satu gedung besar yang berkapasitas hingga 1000 an tempat duduk. Film-film Barat yang diputar di Djakarta Theatre menjadi acuan bagi bioskop lainnya untuk memutar film tersebut. Tetapi harus menunggu cukup lama, sebelum bisa memutar film tersebut. Biasanya Liga Film Mahasiswa (LFM) ITB, entah darimana dapatnya, selalu bisa memutar film Barat seperti di Djakarta Theatre, terkadang diputar lebih dahulu daripada di bisokop-bioskop Jakarta. Penulis kebetulan tahu tentang ini, biasanya hari Sabtu sudah “cabut” ke Bandung, malam minggu bersama teman yang kuliah di Bandung nonton di LFM ITB. Hari Minggu sudah balik lagi ke Jakarta.

Sudwikatmono dengan konsep Sineplek 21 ini, tidak saja membuat beberapa bioskop kecil-kecil di berbagai tempat dan berbagai daerah, tetapi juga menjadi pengimpor film-film Barat dan memutarnya di grup sineplek 21. Film nasional tidak mendapat tempat diputar di sineplek 21, sehingga kalangan perfilman nasional berang dengan kebijakan ini dan memusuhinya. Pihak media pun turut pula “memusuhinya”. Namun ditengah-tengah ketegangan itu, seorang wartawati majalah Tempo (alumni FISIP UI) berhasil mewawancarai dan mengenal lebih dekat sosok Sudwikatmono. Karena berbagai persoalan, akhirnya perfilman nasional mengalami penurunan produksi, salah satu diantaranya, karena masyarakat lebih suka menonton film Barat yang selalu ditayangkan di sineplek 21. Namun ternyata ada hikmahnya juga, ternyata ada sutradara (Garin Nugroho alumni FHUI) yang membuat film nasional dengan orientasi kepada masyarakat di luar Indonesia dan selalu menyertakan filmnya dalam festival internasional. Tidak jarang mendapat apresiasi dan menyabet hadiah dari kalangan masyarakat perfilman luar negeri.